https://tirto.id/permesta-pemberontakan-atau-bukan-didQ
2 Maret 1957
Permesta, Pemberontakan Atau
Bukan?
Ilustrasi Mozaik Proklamasi Permesta. tirto.id/Deadnauval
<https://tirto.id/permesta-pemberontakan-atau-bukan-didQ>
Ilustrasi Mozaik Proklamasi Permesta. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Iswara N Raditya - 2 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
/“Saya tidak pernah menyesal disebut pemberontak. Kami, orang-orang yang
ikut mempertahankan republik ini, tidak rela kalau negara kita tidak
terurus!” - Letkol Ventje Sumual/
tirto.id <https://tirto.id/> - Jumat, 2 Maret 1957, tepat pukul 03.00
dini hari di Makassar, Letkol Ventje Sumual membacakan naskah proklamasi
dalam situasi yang disebutnya /Staat van Oorlog en Beleg/ (SOB), artinya
“negara dalam keadaan darurat perang”. Proklamasi inilah yang kemudian
menandai gerakan serius bernama Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta.
Buku-buku sejarah untuk anak-anak sekolah acapkali menyebut Permesta
sebagai usaha pemberontakan, label serupa yang juga dilekatkan untuk
beberapa peristiwa lainnya yang sebenarnya masih menjadi misteri.
Benarkah Permesta adalah upaya wilayah timur untuk melepaskan diri dari
Republik Indonesia?
Letkol Ventje Sumual selaku salah satu tokoh sentral dalam gerakan
Permesta menyangkal tudingan tersebut. Kendati begitu, jika pun disebut
sebagai pemberontak, ia tidak pernah merasa menyesal telah
memproklamirkan gerakan Permesta.
Pledoi Sang Proklamator
Dalam proklamasi yang dibacakan Ventje Sumual pada 2 Maret 1957 itu,
tidak ada kata-kata yang merujuk pada upaya memerdekakan diri. Bahkan,
teks yang dirumuskan oleh para perwira Teritorium VII/Wirabuana yang
menaungi kawasan Indonesia Timur itu diawali dengan penggalan kalimat
/“Demi keutuhan Republik Indonesia….”/ dan seterusnya.
Proklamasi Permesta tersebut hanya menyatakan seluruh wilayah Teritorium
VII dalam keadaan darurat perang. Situasi seperti ini memungkinkan untuk
memberlakukan pemerintahan militer sesuai Pasal 128 Undang-Undang Dasar
Sementara (UUDS) 1950 dan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1948.
Alinea ketiga proklamasi Permesta bahkan menyebutkan: /“Segala peralihan
dan penyesuaiannya dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya dalam arti
tidak, ulangi, tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia.”/ Kata
“ulangi” yang sengaja diselipkan di situ bisa dimaknai sebagai penegasan
bahwa Permesta bukan gerakan separatis.
Permesta oleh Ventje Sumual disamakan dengan gerakan reformasi 1998 yang
sama-sama bertujuan menginginkan perubahan, “Permesta bukan
pemberontakan, melainkan suatu deklarasi politik. Isinya seperti yang
diperjuangkan gerakan reformasi. Dulu, gerakan reformasi kami sebut
sebagai Permesta,” ujarnya kepada /Tempo/ pada April 2009.
Ventje Sumual bahkan mengklaim deklarasi Permesta tidak ditentang oleh
A.H. Nasution dan Ahmad Yani, dua petinggi militer Republik Indonesia,
yang berkunjung ke Makassar pada Mei 1957. “Saya setuju dengan isi
Permesta. Ini untuk kepentingan prajurit, tapi tidak usah berpolitik,”
sebut Nasution menurut Ventje Sumual.
Dicetuskan Permesta beriringan dengan dibentuknya Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat. Bahkan, kedua
gerakan ini sering disebut saling melengkapi dan mendukung satu sama
lain. Tapi Ventje Sumual menyangkal dan menyebut PRRI memang gerakan
pemberontakan, tapi tidak dengan Permesta.
“Tidak ada hubungan apa-apa. Kalau PRRI memang pemberontakan. Tapi
Permesta hanyalah suatu program untuk pembangunan Indonesia Timur,” elaknya.
Ia bersikukuh bahwa Permesta digagas demi keadilan bagi masyarakat
Indonesia timur dengan menginginkan otonomi wilayah yang lebih luas.
PRRI semula sebenarnya juga menuntut hal yang sama. Namun, PRRI lebih
“berani” dengan membentuk pemerintahan baru lengkap dengan kabinet
beserta jajaran menterinya.
Cara bermain Permesta cenderung halus. Tak ada susunan kabinet,
melainkan hanya seksi-seksi yang membawahi berbagai aspek kehidupan,
dari politik, tata negara, hukum, keamanan, ekonomi dan pembangunan,
pangan, pendidikan, kebudayaan, kesehatan, perburuhan, perhubungan,
pekerjaan umum, pertanian, penerangan dan informasi, agama, pemuda,
veteran, dan seterusnya.
Sekali lagi, benarkah gerakan Permesta bukan pemberontakan?
Gara-gara Pemerintah dan PKI
Wilayah Indonesia Timur
<https://tirto.id/sultan-baabullah-sang-penakluk-ciJo> saat itu disebut
dalam keadaan darurat perang. Ventje Sumual dan kawan-kawan punya alasan
kuat atas kesimpulan tersebut. Selain persoalan ekonomi, ancaman
disintegrasi dari sejumlah daerah di Sulawesi dan Maluku juga mulai muncul.
“Daripada berdiri sendiri, semua saya ambil-alih, dan Permesta sebagai
simbol perjuangan. Nah, melihat situasi yang ada, saya lalu menyatakan
Indonesia Timur dalam keadaan darurat perang,” ujar Ventje Sumual.
Ventje Sumual menyebut, deklarasi Permesta kemudian dikondisikan oleh
pemerintah pusat menjadi sebuah ancaman, seperti halnya PRRI di
Indonesia barat, “Pemerintah yang kemudian ingin memecah-belah. Jadi,
seolah-olah ada dua pemberontakan, PRRI di Sumatera dan Permesta di
Sulawesi.”
Yang terjadi kemudian adalah digerakkannya operasi militer oleh Angkatan
Perang Republik Indonesia (APRI)
<https://tirto.id/belajar-legowo-dari-oerip-soemohardjo-cjtd>atas
perintah pemerintah pusat ke Sulawesi untuk memadamkan Permesta.
Pemerintah mengerahkan sektor darat, laut, maupun udara untuk merebut
daerah-daerah yang telah dikuasai oleh kubu Permesta.
Permesta sendiri tidak hanya diperkuat oleh unsur militer dari Indonesia
Timur. Tidak sedikit laskar rakyat, bahkan gerombolan pemberontak yang
sebenarnya seperti Pasukan Pembela Keadilan (PPK) pimpinan Jan
Timbuleng, Laskar Sambar Njawa, dan lainnya, yang bergabung untuk
menghadapi APRI.
Pasukan Permesta sempat membuat APRI sangat kewalahan. Ventje Sumual
bahkan yakin, pihaknya akan dapat menduduki Jakarta sebagai pusat
pemerintahan RI. Menurutnya, Jakarta adalah titik kunci. “Setelah
menguasai Banjarmasin (Kalimantan Selatan), sebetulnya mudah saja untuk
menguasai Jakarta,” katanya.
“Yang dibutuhkan adalah lapangan terbang Kemayoran. Dari situ, tinggal
mengebom kilang minyak di Tanjung Priok. Kalau kilang minyak sudah
dibom, Jakarta dan Bandung akan lumpuh,” lanjutnya.
Di titik inilah Permesta, yang semula cuma pernyataan politik demi
menuntut keadilan, mulai mengarah pada aksi yang lebih serius karena
berencana merebut Jakarta, pusat kedudukan pemerintah. Bukankah ini
suatu bentuk pemberontakan? Tapi Ventje Sumual punya pembenaran.
“Tuntutan kami ke pemerintah pusat dijawab dengan bom di Ambon. Dan kami
menegaskan, kalau Kabinet Djuanda (1957-1959) tidak dibubarkan, kami
tidak akan menaati pemerintah pusat lagi. Menurut kami, kabinet itu
dibentuk secara inkonstitusional!” dalihnya.
Para perwira militer di Indonesia Timur juga mencemaskan pengaruh
orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang semakin kuat di
pemerintahan. Itulah yang menjadi alasan bagi Permesta untuk mengobarkan
perang melawan pemerintah pusat.
Ventje Sumual mengatakan, sebagai prajurit pejuang, mereka tidak bisa
berpangku tangan melihat keadaan saat itu. “PKI ketika itu mulai
membesar. Bung Karno membentuk Dewan Nasional yang salah satu kakinya
adalah komunis!” tukasnya.
“Kami ingin komunisme dihapus dari Indonesia. Kalau saja usaha
PRRI/Permesta berhasil, pemberontakan PKI pada 1965 tidak akan terjadi,”
lanjut Ventje Sumual.
Usaha mendekatkan diri kepada pemerintah seperti yang dilakukan PKI,
salah satu parpol terbesar pada Pemilu 1955, adalah halal dalam politik.
Ventje Sumual menyesalkan terjadinya pemberontakan PKI pada 1965, tapi
ia dan Permesta justru sudah melakukannya terlebih dulu.
Infografik Mozaik Permesta
Pengakuan Tanpa Penyesalan
Gerakan Permesta memperoleh bantuan dari sejumlah negara asing, seperti
Taiwan, Jepang, Filipina, dan terutama Amerika Serikat, yang sama-sama
anti-komunis. Terkait ini, Ventje Sumual memberikan jawaban yang
cenderung kontradiktif dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya terkait
tudingan pemberontakan.
Amerika tidak membantu, tapi memanfaatkan Permesta untuk kepentingan
mereka sendiri. “Setelah terbukti bahwa Jakarta masih kuat dan perwira
Angkatan Darat seperti Nasution dan Yani bukanlah komunis, mereka
meninggalkan kami begitu saja,” sebut Ventje Sumual.
“Memang, kalau mereka (Amerika) tidak pergi, saya yakin kami akan
berhasil merebut Jakarta. Paling lama, kami akan menghabiskan waktu
sekitar 2 bulan untuk menguasai seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Pernyataan kali ini jelas menunjukkan bahwa Permesta memang berniat
memberontak, bahkan ingin menguasai wilayah NKRI dengan mengharpkan
bantuan dari Amerika Serikat. Dan, Ventje Sumual akhirnya mengaku, tapi
bukan untuk melawan pemerintahan yang sah. Permesta tidak pernah berniat
melengserkan Sukarno, hanya menginginkan keadilan, serta menyingkirkan PKI.
“Ya, saya mengaku. Tapi saya memberontak terhadap kezaliman. Dan perlu
saya tegaskan lagi, saya tidak pernah menyesal pernah menjadi pemberontak!”
Ventje Sumual menyerah tanpa syarat pada 1961 dan mendekam di Rumah
Tahanan Militer di Jakarta. Ia langsung dibebaskan begitu Soeharto
memegang kendali pemerintahan RI
<https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe>sejak 1966.
Setelah itu, kehidupan Ventje Sumual jauh lebih baik, ia memimpin
perusahaan dan aktif di beberapa yayasan di bawah naungan Orde Baru
<https://tirto.id/peliknya-jalan-hidup-sayuti-melik-cjLu>. Ventje Sumual
menikmati masa-masa makmur itu hingga wafat pada 28 Maret 2010 di
Jakarta dalam usia 86 tahun.
Baca juga artikel terkait PERMESTA
<https://tirto.id/q/permesta-g7w?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
<https://tirto.id/author/iswara?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Permesta mendeklarasikan proklamasi untuk wilayah Indonesia Timur pada 2
Maret 1957