https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934
Sabtu 02 Maret 2019, 12:10 WIB
Pustaka
Penyembuh Tubuh Bangsa
Setyaningsih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
Setyaningsih
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4450621/penyembuh-tubuh-bangsa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237584585.856687893.1551553934-729419915.1551553934#>
Penyembuh Tubuh Bangsa Foto: istimewa
*Jakarta* - *Judul Buku: /Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter
Indonesia/; Penulis: Hans Pols; Penerjemah: Thomas Bambang Murtianto;
Penerbit: Kompas, 2019; Tebal: xx+380 halaman
*Setiap kita mendapati sosok modern di masa pramodern Hindia Belanda,
sekali lagi kita menyaksikan dilema yang memijak di dua sisi. Satu sisi,
mereka adalah sosok terpelajar tapi tidak sepenuhnya diakui sebagai
bagian dari masyarakat kulit putih kolonial di negeri terjajah, di sisi
lain mereka dituduh berkhianat dari akar identitas dan etnisitas. Mereka
adalah para dokter, yang disebut Hans Pols dalam buku /Merawat Bangsa:
Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia/ (2019) dengan "elite rakyat
kolonial hibrida". Para dokter bertindak tidak hanya demi menyembuhkan
secara fisik. Mereka menyemai pemikiran sekaligus merintis pergerakan
untuk menyembuhkan tubuh bangsa dari sakit penjajahan.
Sekolah Dokter Djawa kelak menjadi STOVIA, sekolah dokter pertama di
masa kolonial berdiri pada 1851, lahir dari imajinasi buruk. Hindia
Belanda adalah gudangnya penyakit sampai dijuluki kuburannya orang
Eropa. Tifus yang melanda Jawa Tengah pada 1847 salah satunya menjadi
alasan agar para kaum muda Jawa menerima pendidikan dokter. Berbalik
dari kondisi sekarang yang menganggap pendidikan dokter sebagai sekolah
elite dan kaum berduit, sekolah dokter masa kolonial justru dianggap
"sekolah kaum miskin" karena tidak berbayar dan para lulusan membalas
jasa dengan ikatan kerja selama 10 tahun.
Pemerintah kolonial juga gagal menciptakan posisi sosial simbolis secara
hierarki tradisional yang membuat sekolah dokter tidak terlalu banyak
diminati terutama bagi bangsawan Jawa. Namun tahun-tahun terakhir abad
ke-19, gaya hidup para dokter tampil dengan "sangat Barat". Hal ini
terlihat dari cara bergaul dan berbahasa, "Mereka berbicara dalam Bahasa
Belanda satu sama lain, diajarkan tentang temuan-temuan terbaru ilmu
kedokteran Barat, dan menghabiskan waktu senggang di kota metropolitan.
Para pelajar memiliki kehidupan ekstrakurikuler yang sibuk: berolahraga,
bergabung dalam perkumpulan pelajar, membaca koran, dan berpesta."
Sosok yang cukup /ndableg/ tentu saja Tjipto Mangoenkoesoemo yang
menjadikan kejelataan busana kedaerahan sebagai perlawanan politik. Dia
meninggalkan Boedi Oetomo yang dianggap terlalu elitis dan konservatif,
melakukan pemberantasan wabah, sampai bersengketa dengan pejabat
kolonial demi menyuarakan kemapanan gaji buruh. Meski memang memilih
tidak memfokuskan pada sosok Tjipto, Hans Pols sempat mengutip ujaran
Tjipto yang mengkritik parlemen kolonial, "Kekuatan tubuh nasional
dihancurkan oleh tumor kanker. Ilmu kedokteran saat ini tidak mengetahui
cara yang lebih baik untuk melawan kanker daripada pisau. Dulu, saya
naif dan berasumsi bahwa Volksraad akan bertindak seperti ahli bedah
untuk menghentikan pertumbuhan lebih lanjut kanker ini. Saya sangat
naif! Pengalaman telah mengajari saya bahwa, pada kenyataannya,
Volksraad adalah dukun yang tidak bisa dipercaya memegang pisau."
Imajinasi medis hadir untuk mendiagnosis tubuh sosial masyarakat pribumi
yang sakit tidak tersembuhkan hanya dengan obat. Kemiskinan, kekurangan
gizi, kelaparan, penyakit, menjadi efek politis kebijakan tanam paksa
dan perburuhan di perkebunan yang sangat menguras tenaga para pekerja
pribumi. Bahkan pihak kolonial menggunakan teori evolusi untuk
menunjukkan keterlambatan intelektual intelektual pribumi dari orang
Eropa. Kebodohan dan kemunduran kaum pribumi tidak diakui karena
diskriminasi pendidikan, politik kebahasaan, dan lain-lain.
Medis adalah alat intelektual. Hal ini ditunjukkan Hans Pols lewat
ketokohan Abdul Rivai, lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa (1895).
Rivai kecewa berat saat kualifikasi medis di Hindia Belanda hanya
memungkinkannya bergaji rendah dan tidak bisa mencapai status sosial
setara (dokter) Eropa. Rivai memiliki ambisi, "kekuatan transformasi
sains, teknologi, dan ilmu kedokteran akan membawa kemakmuran dan
kemajuan ke Hindia Belanda." Ambisi kosmopolitannya dibuktikan juga
dengan mengganti pakaian Minangkabau dengan setelan, jas, dan topi.
Didorong oleh kolega-kolega mumpuni Eropa, Rivai berhasil melanjutkan
studi di Belanda. Di sinilah, muncul kesadaran kuasa gelar medis harus
diperkuat dengan pers. Dia mendirikan majalah dua mingguan /Pewarta
Wolanda/ meski tutup setelah enam bulan. Bersama H.C.C. Clockener
Brousson, pensiunan tentara kolonial, Rivai kemudian mendirikan majalah
bergambar untuk orang-orang terpelajar, /Bintang Hindia Belanda/. Rivai
mengartikulasikan pandangan politik kebangsaan dan pendidikan agar
menjangkau modernitas yang diidam-idamkan. Bahwa pertalian erat dengan
Belanda akan membawa Hindia Belanda terangkat dari status primitif
menjadi beradab.
Di masanya, Rivai juga bisa dikatakan sebagai dokter Hindia Belanda
pertama yang berhasil secara status sosial dan kemapanan ekonomi sebagai
dokter. Pada 1912, Rivai bertugas di Dinas Kesehatan Kolonial di Padang.
"Dia terpilih sebagai Dewan Kota dan membeli mobil baru, dengan
senangnya bisa menyalip rekan-rekan Eropa yang masih bepergian dengan
kuda dan mobil /buggy/." Rivai pindah ke Surabaya ketika bersengketa
dengan atasan. Dia berhasil mencipta jaringan sosial dengan orang Eropa,
pedagang Cina kaya, saudagar Arab, dan bangsawan pribumi.
Masa pendudukan Jepang dinilai Hans Pols sebagai masa yang kurang
diperhatikan para sejarawan atas nasib para dokter. Namun, sengatan kaum
modernis higienis seharusnya memiliki pertaruhan untuk memperkuat
revolusi dengan cara memposisikan diri di institusi-institusi dominan
yang ditinggalkan oleh orang Eropa.
Setelah kemerdekaan, para dokter hampir tidak memiliki tantangan
ideologis demi mempertaruhkan posisi kebangsaan mereka. Di majalah,
koran, atau jurnal, dokter hanya memberikan diri untuk menulis tema-tema
kesehatan. Pertarungan politik nyaris sepenuhnya selesai. Dokter cukup
hanya memikirkan kesehatan. Para dokter berada dalam arti harfiahnya
sebagai penyembuh. Dan sebagai para sosok elite rakyat hibrida pada
masanya, kita memang masih mendengar namanya, tapi sering tersisa hanya
sebagai nama rumah sakit.
*Setyaningsih* /esais, tim penulis buku /Semaian Iman, Sebaran
Pengabdian/(2018)/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!