https://tirto.id/sejarah-kontroversi-andi-arief-wiji-thukul-prabowo-kini-narkoba-dij1
Sejarah Kontroversi Andi Arief: Wiji
Thukul, Prabowo, Kini Narkoba
Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief memberi keterangan pada wartawan
usai pertemuan dengan petinggi Partai Demokrat di kediaman SBY, Jakarta,
Jumat (10/8/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
<https://tirto.id/sejarah-kontroversi-andi-arief-wiji-thukul-prabowo-kini-narkoba-dij1>
Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief memberi keterangan
pada wartawan usai pertemuan dengan petinggi Partai Demokrat
di kediaman SBY, Jakarta, Jumat (10/8/2018). ANTARA
FOTO/Muhammad Adimaja
Oleh: Iswara N Raditya - 4 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Andi Arief punya rekam sejarah kontroversial dalam berbagai
pernyataannya. Kini, Wasekjen Partai Demokrat ini ditangkap karena narkoba./
tirto.id <https://tirto.id/> - Andi Arief ditangkap di salah satu kamar
Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, karena narkoba, Senin
(4/3/2019). Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat ini dikenal
sebagai sosok yang kerap memantik kegaduhan: dari masalah Wiji Thukul,
sejarahnya dengan Prabowo Subianto, berbagai pernyataan kontroversial
jelang Pilpres 2019, dan kini terciduk diduga gara-gara sabu
<https://tirto.id/andi-arief-ditangkap-polisi-gara-gara-kepemilikan-narkoba-dijm>.
Tahun 2014, Andi Arief pernah mengatakan bahwa Wiji Thukul sebenarnya
masih hidup. Seperti diketahui, Wiji Thukul adalah seorang sastrawan
sekaligus aktivis hak asasi manusia yang menghilang–diduga diculik
militer–sejak Reformasi 1998 dan belum diketahui nasibnya hingga kini.
"Menurut saya, [Wiji] Thukul masih hidup dan dia tidak ditangkap, tapi
saya nggak tahu dia di mana," ucap Andi Arief
<https://news.detik.com/berita/d-2623905/andi-arief-wiji-thukul-masih-hidup-dan-tidak-ditangkap>
di Jakarta, Senin (30/6/2014).
Kala itu, Andi mengatakan ia sempat bertemu dengan Wiji Thukul pada
1998, setelah keluar dari tahanan Polda Metro Jaya. "Setelah dari Polda
tahun 1998, saya ketemu dia di Alia Cikini. Saya kasih dia Rp2 juta pas
ketemu," akunya.
"Saya ngobrol-ngobrol biasa dengan Thukul, lupa lah itu sudah lama.
Intinya saya ketemu dia 2 bulan setelah Juli 1998. Dia baik-baik saja
ketemu saya," beber Andi Arief.
Baca juga: Memperebutkan Wiji Thukul
<https://tirto.id/memperebutkan-wiji-thukul-chux>
Kontroversi Penculikan 1998
Sama seperti Wiji Thukul, Andi Arief termasuk aktivis yang menjadi
korban penculikan menjelang keruntuhan rezim Soeharto atau Orde Baru.
Tanggal 28 Maret 1998, Andi menghilang dan konon “diamankan” Tim Mawar
dari Kopassus.
Prabowo Subianto kerap dikait-kaitkan dengan Tim Mawar meskipun saat
Andi diculik, mantan menantu Soeharto ini bukan lagi Danjen Kopassus,
melainkan sudah dilantik menjadi Pangkostrad.
Andi Arief diculik di kampung halamannya di Lampung, kemudian dibawa ke
Jakarta dan akhirnya mendekam di tahanan Polda Metro Jaya Jakarta pada
17 April 1998 sebelum akhirnya dibebaskan.
Namun, Andi Arief tidak ingin menyalahkan Prabowo Subianto seorang.
Bahkan, di Pilpres 2019, Andi dengan mantap mendukung pencalonan pendiri
Partai Gerindra itu sebagai capres, mengikuti keputusan Partai Demokrat.
"Saya melihat, ini [penculikan] kerja sistematis dan prosedural dalam
pola standar militer. Jadi, tidak /fair/ kalau hanya menyalahkan satu
kesatuan atas penculikan yang berlangsung sejak lama," ungkapnya dalam
wawancara dengan /Majalah D&R/ yang dimuat tanggal 25 Juli 1998.
"Tidak /fair/ kalau hanya menyalahkan Prabowo [seorang]. Betul ia
terlibat, tapi tak mungkin sendiri," imbuhnya.
Belakangan, ia justru menyebut peristiwa yang menimpanya pada 1998 itu
bukanlah penculikan.
"Kenapa? Karena penculikan itu berdiri sendiri. Sedangkan setelah ada
PRD [Partai Rakyat Demokratik] ini adalah suatu rangkaian dari satu
peristiwa ke peristiwa lain," sebut Andi Arief pada 2014.
Baca juga: Kesaksian Andi Arief Soal Prabowo & Penculikan 1998
<https://tirto.id/kesaksian-sejarah-andi-arief-soal-prabowo-penculikan-aktivis-1998-ddu5>
Jenderal Kardus Sampai Narkoba
Menjelang Pilpres 2019, Andi Arief kerap memanaskan suasana politik
dengan melontarkan sejumlah pernyataan, baik lewat media massa maupun
melalui sosial media, yang kontoversial dan memantik kegaduhan publik.
Yang paling menghebohkan tentu saja ketika Andi Arief menyebut Prabowo
Subianto sebagai jenderal kardus karena telah memilih Sandiaga Uno
sebagai cawapres yang akan mendampingi Prabowo maju ke Pilpres 2019.
Saat itu, Partai Demokrat punya harapan menyorongkan Agus Harimurti
Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres. Namun, Prabowo memilih Sandiaga yang
bermanuver cepat dan mengejutkan. Andi Arief pun menuding ada politik
transaksional dalam fenomena itu.
"Prabowo ternyata kardus. Malam ini kami menolak kedatangannya ke
Kuningan. Bahkan, keinginan dia menjelaskan lewat surat sudah tak perlu
lagi. Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jenderal
kardus," tulis Andi Arief melalui akun Twitter-nya, Rabu (8/8/2018).
Andi Arief memperoleh informasi bahwa Sandiaga Uno telah menyetor uang
sebesar Rp500 miliar kepada PAN dan PKS. "Jenderal kardus punya kualitas
buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis
perjuangan. Belum 24 jam, mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk
meng-entertain PAN dan PKS," lanjutnya.
Kepada reporter /Tirto/
<https://tirto.id/wasekjen-demokrat-andi-arief-sebut-prabowo-jenderal-kardus-cRbo>
yang menghubunginya pada hari yang sama, Andi berkata, “Di luar dugaan
kami, ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang
benar. Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp500
miliar menjadi pilihannya untuk cawapres.”
Andi Arief pun menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus dan menyatakan
Partai Demokrat tidak lagi bersedia berkoalisi dengan PKS, PAN dan
Gerindra di Pilpres 2019.
"Baru tadi malam Prabowo datang dengan semangat perjuangan. hanya
hitungan jam dia berubah sikap karena uang. Besar kemungkinan kami akan
tinggalkan koalisi kardus ini. Lebih baik kami konsentrasi pada
pencalegan ketimbang masuk lumpur politik PAN, PKS dan Gerindra," tukasnya.
Baca juga: Alasan Andi Arief Sebut Prabowo "Jenderal Kardus"
<https://tirto.id/alasan-wasekjen-demokrat-andi-arief-sebut-prabowo-jenderal-kardus-cRdu>
Namun, pada akhirnya Partai Demokrat atas arahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) tetap menjatuhkan dukungan kepada pasangan Prabowo
Subianto dan Sandiaga Uno. Andi Arief sempat berkoar bahwa dukungan
partainya itu tidak sepenuhnya ikhlas.
Andi Arief masih beberapa kali melontarkan pernyataan kontroversial,
termasuk menyebut bahwa Prabowo tak serius maju ke Pilpres 2019, menebar
informasi terkait 7 kontainer surat suara yang sudah tercoblos kendati
akhirnya tidak terbukti, dan menuliskan beberapa twit yang memantik
kegaduhan lainnya.
Kini, babak baru telah menunggu Andi Arief. Secara mengejutkan, ia
diciduk aparat kepolisian di dalam kamar hotel karena diduga mengonsumsi
narkoba.
Baca juga artikel terkait KASUS NARKOBA
<https://tirto.id/q/kasus-narkoba-dRc?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
<https://tirto.id/author/iswara?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih
Andi Arief diciduk di hotel bersama seorang wanita gara-gara narkoba.