Kisah Ikan Eka
*Oleh Dahlan Iskan*
Selasa, 05 Maret 2019 – 04:40 WIB
https://www.jpnn.com/news/kisah-ikan-eka
Kisah Ikan Eka - JPNN.COM
*jpnn.com* - Waktu Pak Eka Tjipta Widjaja meninggal saya tidak bisa
melayat. Saya lagi keliling Taiwan.
Dari Taipei saya menulis naskah panjang. Untuk mengenangnya. */Silakan
baca disway edisi Eka Tjipta <https://www.jpnn.com/news/eka-tjipta>/*
Minggu malam kemarin saya bisa hadir. Ketika diadakan acara mengenang
Pak Eka. Tepat di hari ke-35 meninggalnya. Sekaligus itulah untuk
pertama kali saya ke Tzu Chi Center. Yang megah itu. Yang di Pantai
Indah Kapuk Jakarta itu.
Empat anak Pak Eka hadir.
Teguh Ganda Widjaja si sulung. Yang belakangan lebih banyak mengurus
grup usaha yang di Tiongkok.
Franky Widjaja, si bungsu juga hadir. Yang lebih banyak urus sektor
minyak goreng dan kebun sawit.
Indra Widjaja juga. Yang lebih fokus ke usaha bank dan keuangan.
Pun Sukma Widjaja, putrinya. Yang kelihatan awet muda.
Empat anak lainnya tidak hadir.
Frankle Widjaja lagi di Shanghai. Ia fokus di usaha propertinya yang di
sana. Termasuk hotel Westin yang megah di pusat kota Shanghai.
Mokhtar Widjaja satu-satunya perokok berat juga absen.
Hong Leong, satu-satunya yang sejak awal bikin usaha sendiri, lagi di
Singapura. Ia memang merintis usahanya di negara tetangga itu. Pun
sampai sekarang lebih banyak hidup di sana.
Agama anak-anak Pak Eka beragam: Kristen, Katholik, Budha. Namun,
semuanya menjadi aktivis Budha Tzu Chi. Ikut almarhum bapaknya. Yang
menjadi Kristen sejak menikah dengan isteri kedua. Tapi tetap menjadi
promotor utama Tzu Chi di Indonesia.
Empat anaknya yang hadir itu memberikan kesaksian. Mengenang sang bapak
yang istimewa.
Teguh misalnya, ingat benar. Bagaimana diterjunkan ke Sulawesi Utara.
Untuk memahami bisnis kopra sedalam-dalamnya. Sampai harus tidur di mana
saja dan makan apa saja. Atau tinggal di mess perusahaan yang tidak
berpengatur udara. Harus naik truk mengikuti angkutan kopra. Ke
pelabuhan dan ke mana saja.
Kunci sukses Eka, menurut Teguh, sangat sederhana. "Jadilah manusia dulu
sebelum jadi pengusaha".
Eka, kata Teguh, sangat percaya: sukses itu 70 persen karena kerja
keras. Yang 30 persen karena gabungan antara kesempatan dan nasib baik.
Karena itu berbuat baik adalah penting.
"Kebaikan akan menghasilkan kebaikan," katanya. Hasil kebaikan itulah
yang menentukan faktor 30 persen suksesnya.
Eka selalu mau untuk berbuat baik. Dengan memanfaatkan kekayaannya.
Untuk itu ia harus tahu siapa yang paling ahli berbuat baik. Pilihannya
jatuh ke Budha Tzu Chi. Maka lewat Tzu Chi-lah ia lebih banyak
mempercayakan misi berbuat baiknya.
"Di Tzu Chi ini," kata Aguan "dana sumbangan itu 100 persen untuk
disalurkan". Aguan adalah Wakil ketua Tzu Chi Indonesia. Biaya
penyaluran tidak boleh diambil dari sumbangan. Pun biaya operasional
lainnya. "Relawan sendiri yang harus berkorban untuk operasional," ujar
Aguan.
Selesai acara itu Aguan akan terbang ke Palu. Dengan pesawat pribadinya.
Tzu Chi lagi membangun 2.000 rumah. Untuk korban gempa Palu.
Hal serupa dilakukan di Lombok, Aceh dan di mana saja. Persoalannya
hanya satu: Tzu Chi selalu ingin membangun rumah yang layak. Tapi
pemerintah membatasi biaya per rumah tidak boleh lebih Rp 50 juta.
Keterlibatan Eka di Tzu Chi bermula tahun 1998. Saat terjadi reformasi.
Jakarta dilanda kerusuhan. Eka berkunjung ke Hualian, Taiwan. Ke
pusatnya Tzu Chi. Bertemu Master Chen Yan. Seorang wanita. Yang
mengabdikan hidupnya untuk Budha. Yang di sana dipanggil Shang Ren.
Eka bertanya pada Shang Ren: dalam keadaan Jakarta rusuh seperti itu apa
yang harus dilakukan.
Shang Ren menjawab: kasih sayanglah yang harus dilakukan. Yang dalam
bahasa Mandarin diistilahkan dengan DAAI (baca: ta ai). Hanya kalau ada
'ta ai' bisa damai.
Eka merasa pas dengan jawaban itu. Ia pulang ke Jakarta. Tidak khawatir
dengan apa yang terjadi. Ia mantap dengan tekad barunya. Ia salurkan
bahan makanan. Yang lagi sangat diperlukan pada situasi saat itu. Ia
bagikan beras 80 ton. Dan banyak lagi.
Untuk penyalurannya ia gunakan karyawan Sinar Mas. Belum banyak aktivis
Tzu Chi waktu itu.
Tzu Chi menerima aktivis dari agama apa pun. Tidak usah khawatir akan
diminta pindah agama.
Tzu Chi tidak punya aturan sembahyang sendiri. Silakan saja sembahyang
dengan cara masing-masing. Juga tidak punya tempat ibadah. Dilarang
membangun rumah ibadah Tzu Chi.
Sembahyangnya Tzu Chi adalah berbuat baik. Membantu orang. Dan
menyayangi orang.
Eka sangat cocok dengan prinsip itu.
Di antara anaknya, Franky-lah yang paling aktif di Tzu Chi.
Namun, Franky akan punya 'pesaing' baru. Saudara perempuannya sendiri.
Kemarin malam itu Sukma bersaksi: mulai sekarang saya akan lebih aktif
di Tzu Chi. Sukma akan meneruskan keyakinan ayahnya itu.
Sukma ini menarik. Dia tahu diri. Dia adalah anak wanita di keluarga
Tionghoa zaman dulu. Yang masih memegang prinsip lama: anak wanita tidak
perlu sekolah.
Cukup di rumah. Membantu ibunya kerja di dapur. Dan momong adik-adiknya.
Karena itu ketika bapaknya sudah pindah ke Surabaya, Sukma masih bersama
ibunya di Makassar. Ketika bapaknya pindah ke Jakarta Sukma juga masih
bersama ibunya. Ketika kakak-adiknya sudah sekolah di luar negeri Sukma
masih juga di Makassar.
Lantas bagaimana Sukma menjadi begitu pintar? Tidak kalah dengan
saudara-saudaranya?
"Saya ini juga lulusan perguruan tinggi," kata Sukma. "Namanya
Universitas Eka Tjipta Widjaja," katanya. Yang disambut grrrr oleh
sekitar 1000 orang. Yang malam itu memenuhi aula Tzu Chi Center.
Hanya saja yang lain lulus universitas dalam waktu 4 atau 5 tahun. Sukma
baru lulus setelah 16 tahun.
Selama itulah Sukma digembleng sendiri oleh bapaknya. Justru Sukma-lah
yang pertama dipercaya menulis angka di cheque bank.
Pernah Sukma salah dalam menulis angka rupiah. Nol-nya kelebihan. Eka
memarahinya habis-habisan. Dibentak-bentak: betapa bahayanya salah dalam
menulis angka di lembaran cheque.
Di universitas beneran tidak seperti itu. Pun kalau salah menulis
jawaban tidak akan sampai dimarahi dosen sampai begitu.
Bagaimana dengan Hong Leong? Yang dianggap membelot? Yang sejak awal
memilih merintis usaha sendiri?
Eka sangat kecewa. Jengkel. Marah. Tapi Hong Leong ternyata sukses.
Menjadi pengusaha properti terkemuka di Singapura.
Banyak yang berharap akhirnya Eka harus memuji anaknya itu. Tapi pujian
tidak pernah datang.
Suatu saat teman Eka menggodanya: Anakmu itu hebat lho. Sukses besar di
Singapura.
Eka tidak terlalu mengambil perhatian. Tapi temannya itu terus bicara
tentang kesuksesan Hong Leong. Akhirnya Eka nyeletuk: Singa tidak akan
melahirkan anak anjing!
Hong Leong akhirnya mendengar bocoran cerita tentang 'singa yang tidak
akan melahirkan anak anjing' itu. Sang anak sangat terharu. Ternyata
sang bapak memuji kesuksesannya. Sebengal apa pun awalnya. Hanya saja
pujian itu disimpan di lubuk hatinya yang paling dalam.
Beberapa non-keluarga juga memberi kesaksian malam itu. Salah satunya
Stephen Huang. Yang dikirim Shang Ren ke Jakarta. Sebagai utusan
khususnya. Shang Ren tidak pernah ke luar Taiwan. Tidak mau naik pesawat
terbang.
"Semua bilang Pak Eka itu orang yang tegas dan selalu serius," ujar
Huang dalam bahasa Mandarin. "Tapi Pak Eka itu sangat suka humor,"
tambahnya.
Kedatangan Huang selalu ditunggu Eka. Untuk didengar cerita-cerita
humornya.
"Malam ini saya akan ceritakan dua saja. Yang paling disukai pak Eka,"
ujar Huang. Yang kini tinggal di Los Angeles, Amerika.
Yang pertama kisah kasir. Yang ditodong pistol di dahinya. Dirampok.
"Saya mau saja memberikan uang ini. Tapi akan ada masalah besar," ujar
si kasir.
"Masalah apa?” tanya si perampok.
"Kalau uang ini saya berikan bos saya pasti tidak percaya kalau saya
bilang dirampok. Saya tetap akan dibilang korupsi. Saya akan dipecat,"
jawabnya.
"Maumu bagaimana?," tanya perampok.
"Tembaklah topi saya ini dua kali. Biar topi saya berlubang."
Dor. Dor.
"Tembak juga baju saya ini dua kali."
Dor. Dor.
"Tembak juga celana saya ini dua kali."
Dor. Dor.
Si kasir tahu benar hitungan. Pistol itu isinya hanya enam peluru. Maka
ditinjulah perampok itu.
Eka senang humor seperti itu. Ada kecerdikan di dalamnya. Seperti
merefleksikan kecerdikan dirinya.
Humor kedua tentang lomba mengukir kayu. Yang diadakan raja. Taruhannya
hadiah besar. Bagi yang ukirannya paling mirip gambar ikan.
Raja memutuskan pengukir pertama yang menang. Pengukir kedua protes.
Ukirannyalah yang lebih baik.
Raja tetap pada putusannya. Hasil ukiran pertama memang lebih sempurna.
"Dalam lomba ini juri yang paling tepat adalah kucing," kata pengukir
kedua. "Kucing-lah yang paling tahu mana yang lebih mirip ikan," tambahnya.
Raja manggut-manggut. Mengakui alasan pengukir kedua. Lalu dipanggillah
kucing. Akan dilihat. Mana yang lebih menimbulkan selera untuk dimakan.
Sang kucing ternyata mendatangi ukiran ikan kedua. Menjilat-njilatnya lama.
Maka pengukir kedualah yang kemudian dinyatakan menang.
Dapat hadiah besar.
Kemudian hari si pengukir kedua membuka rahasia kemenangannya.
"Alat ukir yang saya pakai itu saya olesi ikan bakar," katanya.(***)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com