Cuman ngomong gini juga ditangkap?Hapus pidana ujaran kebencian!!!!!
---In [email protected], <j.gedearka@...> wrote :





https://nasional.tempo.co/read/1182771/berikut-isi-lengkap-orasi-robertus-robet-saat-aksi-kamisan/full&view=ok


Berikut Isi Lengkap Orasi Robertus Robet Saat 


Aksi Kamisan
Reporter:
Budiarti Utami Putri
Editor:
Rina Widiastuti
Kamis, 7 Maret 2019 10:02 WIB
Robertus Robet dalam Kamisan 28 Februari 2019. Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Dosen Universitas Negeri Jakarta dan aktivis HAM Robertus 
Robet ditangkap oleh Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik 
Indonesia. Juru bicara Markas Besar Polri, Brigadir         Jenderal Dedi 
Prasetyo mengatakan Robet telah ditetapkan sebagai tersangka.

Baca: Sebelum Ditangkap Polisi, Rumah Robertus Robet Didatangi Tentara

"Robet ditangkap atas dugaan tindak pidana penghinaan terhadap penguasa atau 
badan umum yang ada di Indonesia," kata Dedi melalui pesan singkat, Kamis, 7 
Maret 2019.

Penangkapan dan penetapan tersangka itu terkait dengan orasinya di Aksi Kamisan 
pekan lalu, Kamis, 28 Februari 2019. Aksi Kamisan hari itu menyoroti rencana 
pemerintah memperluas jabatan sipil untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Video orasi Robet yang diunggah oleh akun Youtube Jakartinicus dipotong dan 
diviralkan oleh pihak tertentu, sehingga Robet dianggap menghina institusi TNI. 
Padahal, Robet sudah menyampaikan konteks dari orasinya itu adalah refleksi. 
Dia juga menegaskan bahwa kritik itu disampaikan lantaran ingin institusi TNI 
tetap profesional.

Berikut isi lengkap refleksi Robet pada Aksi Kamisan tersebut.

Selamat sore kawan-kawan sekalian. Kalau dilihat dari tampang-tampangnya, ini 
tampang-tampang muda semua, ya kan. Ada teman saya ini tampangnya satu angkatan 
dengan saya, tampang angkatan tahun 1996. 1998, 1996. Untuk hari ini saya ingin 
mengajak semua teman-teman muda di sini untuk mengingat satu lagu dari tahun 
1998 pada waktu reformasi digulirkan. Lagunya begini,

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tidak berguna, bubarkan saja, diganti 
Menwa, kalau perlu diganti Pramuka. Naik bis kota nggak pernah bayar, apalagi 
makan di warung Tegal.

Baca: 10 Penasihat Hukum Dampingi Robertus Robet di Bareskrim

Lanjutannya terlalu sensitif. Tapi lagu ini jangan-jangan mesti kita ingat 
kembali. Kenapa? Karena ada ancaman yang muncul di depan kita. 
Generasi-generasi baru yang muncul mesti mulai mencipta lagu-lagu semacam ini 
untuk menghadapi tantantan-tantangan zamannya. Buat kalian yang tidak pernah 
hidup di bawah rezim militer, mungkin keperluan untuk menolak kembalinya 
tentara dalam kehidupan sipil itu terasa seperti bukan sesuatu.

Tetapi kalau kamu pernah tahu sedikit, pernah belajar sejarah, tentang 
bagaimana militer hidup dalam seluruh kehidupan sipil kita, kamu akan berpikir 
dua kali untuk mengiyakan apa yang akan dilakukan pemerintah dengan 
mengembalikan kembali jabatan-jabatan sipil dipegang oleh militer. Teman-teman 
sekalian, ini bukan perkara personal, ini bukan perkara kita membenci satu grup 
atau menolak satu grup. Yang ingin kita kokohkan adalah apa yang disebut dengan 
supremasi sipil.

Apa itu supremasi sipil? Supremasi sipil adalah satu gagasan, satu prinsip 
bahwa kehidupan publik, bahwa kehidupan politik, bahwa kehidupan demokrasi 
mesti dikendalikan dan dipegang oleh kaum sipil. Mengapa kehidupan demokrasi 
dan kehidupan politik ketatanegaraan mesti dipegang oleh kaum sipil? Tidak 
boleh dipegang oleh militer? Kenapa? Ada yang tahu enggak kenapa?

Satu alasan saja, saudara-saudara. Karena kalau militer adalah orang yang 
memegang senjata, orang yang memegang senjata, orang yang mengendalikan 
mendominasi alat-alat kekerasan negara tidak boleh mengendalikan kehidupan 
sipil lagi. Kenapa? Karena senjata tidak bisa diajak berdebat, senjata tidak 
bisa diajak berdialog. Sementara demokrasi, sementara kehidupan ketatanegaraan 
harus berbasis pada dialog yang rasional. Itu sebabnya kita pada waktu 
reformasi mau mengembalikan kembali tentara ke bara.

Bukan karena kita membenci tentara, kita mencintai tentara. Tentara yang apa? 
Tentara yang profesional untuk menjaga pertahanan Indonesia. Tapi kita tidak 
menghendaki tentara masuk ke dalam kehidupan politik. Kenapa? Karena itu akan 
membawa kehidupan sipil kita ke dalam marabahaya. Kenapa? Karena tadi yang saya 
katakan, tentara adalah kelompok sosial yang diberikan tugas untuk memegang 
senjata dan senjata tidak pernah kompatibel dengan demokrasi. Senjata tidak 
pernah kompatibel dengan kehidupan sipil.

Itu mengapa kita menolak secara prinsipil apa yang dikatakan oleh Lord Luhut 
tadi. Jadi kalau Lord Luhut mengatakan siapa yang keberatan, kita sama-sama 
mengatakan, kalau kamu nggak berani saya sendiri yang mengatakan, kita 
keberatan. Seluruh sejarah demokrasi, sejarah politik Indonesia yang penuh 
berdarah-darah untuk mencapai reformasi menyatakan keberatan atas apa yang 
dikatakan oleh Lord Luhut itu.

Maka kawan-kawan sekalian, kalau hari ini kita berkumpul di sini maka ini harus 
menjadi peringatan. Pertama, untuk Jokowi dan pemerintahannya. Jokowi adalah 
pemerintahan sipil, tapi dia tidak boleh menggadaikan supremasi sipil hanya 
demi kepentingan prgamatis pemilu. Justru pemilu mestinya mengokohkan kembali 
prinsip-prinsip demokrasi kita. Bukan justru menggerogoti demokrasi kita. 
Setuju nggak?

Yang kedua, ini juga peringatan buat Prabowo, kita kasih peringatan bukan hanya 
buat Jokowi, kita kasih juga peringatan Prabowo. Bahwa Prabowo sebagai orang 
militer, kalau dia nanti berkuasa, moga-moga enggak, siapa pun yang berkuasa 
nanti, kalau dia mengembalikan kembali gaya militer, struktur militer, ideologi 
militer, ke tengah-tengah kehidupan demokrasi kita, dia akan berhadapan dengan 
kita lagi.

Apakah berani kalian semua? (Berani). Mesti berani. Mengapa kita berani, ini 
yang terakhir. Kita mesti berani karena kita adalah warga republik 
saudara-saudara. Kita warga republik. Apa artinya warga republik? Warga 
republik artinya kita hidup dalam kesetaraan, tidak boleh ada orang yang lebih 
tinggi di atas kita, apa pun pangkatnya, apa pun statusnya, apa pun 
kekayaannya. Kita adalah warga republik yang setara, tidak boleh ada kelompok 
sosial satu pun yang diistimewakan di republik ini, siapa pun dia.

Jadi kalau ada tentara mau menduduki jabatan sipil, boleh apa enggak? Boleh 
asal pensiun dulu, jangan seenaknya. Jadi kita berdiri di sini atas landasan 
moral, atas landasan etika, atas landasan politik yang kokoh sebagai warga 
negara republik Indonesia. Jadi kalau ada yang menggugat apa 
pandangan-pandangan kita di sini, dia menguggat pandangan-pandangan dasar 
republik kita. Itu kenapa kita di sini dan kenapa kita mesti melanjutkan 
perjuangan kita.

Baca juga: Penangkapan Robertus Robet Disebut Menciderai Demokrasi

Ancaman kembalinya fasisme, ancaman kembalinya militerisme, tidak akan pernah 
selesai, tidak akan pernah berhenti, kita mesti selalu siap siaga. Tidak ada 
hari libur, tidak ada malam minggu yang gratis untuk menghadapi kembalinya 
fasisme dan militerisme.

Sekian, terima kasih, selamat sore.





Kirim email ke