*Maju ke mana? Kalau di depan ada jalan haram dan jurang, apakah harus
ditempuh melalui jalan tsb? hehehehehe*

https://suara-islam.com/ada-apa-di-balik-slogan-indonesia-maju/



*Ada Apa di Balik Slogan Indonesia Maju?*

5 Maret 2019

 2 minutes read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook

Menuju pemilu di tahun politik ini masyarakat ramai memberikan dukungan
bagi para pasangan calon pemimpin yang akan dipilih. Berbagai macam acara
banyak digelar untuk memperoleh dukungan bagi pasangan calon. Tak hanya
itu, masing-masing calon juga memberikan berbagai atribut, pakaian dan
slogan sebagai identitas pendukung paslon. Bukan tanpa arti, slogan-slogan
yang diberikan tentu juga sebagai gambaran bagi visi pemimpinan dalam
memimpin kedepannya.

Seperti yang satu ini, Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir
dalam Konvensi Rakyat mengatakan bahwa ‘Indonesia Maju’ bukan hanya slogan.
Indonesia maju adalah sebagai wujud optimisme. Sebuah transformasi dan
harapan besar bangsa Indonesia. (Rmol.co, 25/02/2019)

Dalam pidatonya, Ma’ruf Amin mengatakan bahwa “untuk Indonesia maju, kita
harus menang. Kita pantas memenangkan karena kita punya modal yang besar”.
Modal yang dimaksud adalah hasil pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla
yang telah meletakkan dasar pembangunan yang kuat. (Kompas.com, 24/02/2019)

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat Islam dalam merespon hal
demikian? Sebagai umat Islam, seharusnya memahami bahwa agama yang
dianutnya adalah agama yang istimewa. Islam adalah agama istimewa yang
merupakan agama serta sekaligus mabda’ atau ideologi. Hal inilah mengapa
agama Islam adalah tidak hanya mengatur umatnya dalam hal peribadatan saja,
melainkan juga mengatur dalam hal politik, dimana agama lain tidak
mengaturnya. Islam sebagai agama dan mabda’ memang tidak diemban lagi oleh
suatu negara, sehingga kesan Islam yang utuh dan komprehensif tidak
kelihatan. Keadaan ini adalah akibat lemahnya orang-orang Islam dalam
memperjuangkan ajaran-ajarannya melawan orang-orang kafir yang sengaja
ingin menghancurkan Islam.

Dari adanya segala janji yang masih diingkari oleh penguasa dalam sistem
demokrasi ini, maka menunjukkan sistem ini gagal untuk mensejahterakan
masyarakat. BPJS yang masih bermasalah dan menimbulkan kerugian bagi
pihak-pihak tertentu, pembangunan infrastruktur yang tinggi namun
pembangunan rakyat masih rendah, hutang luar negeri yang menumpuk seperti
tak ada perhitungan dan masih banyak lagi, adalah suatu bentuk kedzoliman
yang dirasakan rakyat. Dibandingkan dengan sistem Islam yang pernah berjaya
dalam masa keemasaanya selama 1.300 tahun lamanya adalah bukti bahwa sistem
Islam yang berdasarkan akidah Islam adalah sistem yang hanya mampu
menerapkan keadilan bagi semua yang menggunakannya secara kaffah.

Dengan demikian, maka sudah seharusnya umat Islam untuk menolak berbagai
macam ide-ide yang bertolak belakang dengan Islam. Pada hakikatnya, Islam
adalah agama yang mengatur segala aktivitas umat dalam kehidupan. Sehingga,
sekularisme, ideologi atau paham yang memisahkan agama dengan pemerintahan
serta atheisme adalah ide-ide yang harus segera disingkirkan dari dasar
pemikiran umat. Untuk itu, harus difahami bagi umat Islam bahwa Allah SWT
bukan hanya diesakan ketika sedang melaksanakan ibadah saja, namun juga
diesakan dalam interaksi sosial, ekonomi, politik, pemerintahan dan
sebagainya.

Realitas menunjukkan bahwa Indonesia dalam kondisi multikrisis akibat
berkhidmat pada sekulerisme dan demokrasi yang merupakan sistem warisan
penjajah. Mulai saat ini seharusnya umat bangkit dan segera ambil tindakan
untuk menggunakan pandangan hidupnya sebagai seorang muslim dengan dasar
akidah. Akidah yang memandang segala sesuatu yang menyangkut perbuatan dan
benda yang digunakan untuk melakukan perbuatan berdasarkan halal-haram,
atau berdasarkan perintah dan larangan Allah SWT.

Cara yang digunakan untuk mewujudkan pandangan halal-haram tersebut adalah
terikat dengan hukum Allah SWT. Indonesia hanya akan maju apabila
hukum-hukum Allah sang pengatur ditegakkan. Islam ideologilah yang menjadi
modal besar untuk kebangkitan kita, bukan dengan menggunakan sistem yang
rusak yang hanya menjadi alat pemilik modal besar.

*Dwi Suryati Ningsih, S.H*
*Sebarkan yuk...*

Kirim email ke