*https://indopos.co.id/read/2019/03/11/168011/prajurit-diminta-ambil-hati-masyarakat-papua
<https://indopos.co.id/read/2019/03/11/168011/prajurit-diminta-ambil-hati-masyarakat-papua>*

Prajurit Diminta Ambil Hati Masyarakat Papua

INDOPOS.CO.ID – Ancaman dari Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB)
menjadi perhatian serius. TNI pun menambah kekuatan pasukannya di Kabupaten
Nduga, Papua. Sebanyak, 600 prajurit TNI, dari Batalion 431 Kostrad
Makassar dan Batalion Zipur 8 Makassar, dikirim ke sana.

Diperkirakan hari ini, para prajurit itu akan tiba di Nduga. Selain
mengatisipasi potensi ancaman KKSB, para prajurit juga mengemban misi
mengamankan pembangunan proyek Trans Papua.

Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi, menjelaskan,
penambahan pasukan merupakan komitmen TNI untuk membantu pemerintah
membangun jalan Trans Papua dari Wamena sampai Mumugu.

Aidi menjelaskan bahwa pasukan tambahan telah tiba di Timika dua hari lalu
(9/3). Namun, mereka belum bisa bergeser ke lokasi pembangunan jalan Trans
Papua. Pihaknya, masih melihat-lihat situasi

Situasi yang dimaksud Aidi menyangkut cuaca. Dia menyampaikan, pihaknya
tidak bisa memaksakan diri mengirim pasukan dengan cuaca di Timika saat
ini. Sebab, medan yang dilalui akan sangat berat. ”Perjalanan bisa tiga
hari,” kata Aidi.

Dari Timika pasukan tambahan berjumlah 600 personel dikirim ke Nduga lewat
Asmat. ”Mereka akan lewat sungai sampai Nduga,” jelasnya. Setelah itu
melalui perjalanan darat ke lokasi pembangunan jalan Trans Papua. Data yang
dia miliki menyebutkan ada sekitar 21 jembatan yang harus diawasi oleh
prajurit TNI. Semuanya berada di jalan Trans Papua yang membentang dari
Wamena sampai Mumugu.

Kodam XVII/Cendrawasih juga meminta kepada seluruh prajurit agar lebih
waspada. Mengingat potensi ancaman masih ada. Meski sebagian besar wilayah
Nduga sudah dikuasi oleh TNI dan Polri. KKSB masih kerap melancarkan aksi.

Terakhir baku tembak terjadi antara Satgas Penegakan Hukum yang sedang
membuka jalan untuk ratusan pasukan tambahan masuk ke Nduga. Dalam baku
tembak tersebut, tiga anggota TNI gugur. Sedangkan dari pihak KKSB, Aidi
mengklaim ada tujuh sampai sepuluh anggota KKSB meninggal dunia.

Terpisah, Komandan Korem 172/Praja Wira Yakti Kolonel Jonathan Binsar
Sianipar meminta 600 prajurit TNI dari Batalyon 431 Kostrad Makassar dan
Batalyon Zipur 8 Makassar yang melanjutkan pekerjaan jalan dan jembatan
Trans Papua agar membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat Nduga.
”Saya minta bangun komunikasi yang baik dengan masyarakat di tempat kalian
bertugas. Jangan ada sedikitpun friksi. Jangan sampai kita membuat
masyarakat menjadi takut dengan kita,” kata Kolonel Binsar di Timika,
Minggu (10/3/2019).

Sejak Minggu pagi, TNI mulai mengirim personel ke sektor atas di wilayah
Nduga yang nantinya bertugas melanjutkan pembangunan jalan dan jembatan
Trans Papua dari arah Mbua menuju Paro. Selanjutnya, pasukan lain akan
dikirim secara bergilir menuju Mbua dan sektor lainnya.

Danrem 172/PWY Kolonel Jonathan Binsar Sianipar yang dipercayakan sebagai
Komandan Pelaksanaan Operasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Proyek Trans
Papua meminta para prajurit TNI memiliki pemahaman yang benar terhadap
warga Nduga.

Menurut Danrem, upaya ’mengambil hati’ masyarakat di daerah penugasan
operasi sangat diperlukan. Agar seberat apapun tugas yang diemban itu bisa
diselesaikan dengan sukses.

”Pasti akan ada banyak dinamika. Entah itu gangguan keamanan, atau kondisi
alam dan medan yang berat. Karena itulah kalian (prajurit TNI) dikirim ke
sini. Kalau situasinya aman-aman saja, cukup orang sipil dan kementerian
saja yang mengerjakan proyek ini. Tapi karena kondisinya ekstrem dan luar
biasa maka kalian prajurit cakralah yang dikirim ke Papua,” jelas Binsar
saat menyambut para prajurit di Timika, Sabtu (9/3). ”Saya minta, jangan
ada prajurit yang lengah. Ini bukan plesiran atau jalan-jalan ke Papua.
Kalian melaksanakan tugas operasi. Saya minta kalian harus berhasil
menyelesaikan tugas ini dan tidak boleh satu orang pun yang tertinggal di
Papua ini,” sambungnya.

Pasalnya, pekerjaan jalan dan jembatan di ruas Trans Papua yang sebelumnya
ditangani oleh PT Istaka Karya dan PT Brantas Abipraya terhenti sejak awal
Desember 2018 menyusul insiden pembantaian belasan pekerja PT Istaka Karya
oleh KKSB.

”Kita harapkan paling tidak setengah dari proyek ini bisa selesai sampai
akhir tahun. Di 2019 ini paling tidak 70-80 persen dari 30 jembatan yang
ditargetkan itu bisa kita selesaikan. Penugasan ini normalnya sekitar
sembilan bulan, tapi bisa saja dalam perkembangan bertambah satu sampai dua
bulan. Yang jelas, kami menargetkan, proyek ini harus tuntas, apapun
ceritanya,” tegasnya.

Danrem mengatakan terus berkoordinasi dengan Markas Besar TNI di Jakarta
serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menambah
personel.

Para prajurit TNI yang dikirim ke Nduga itu berkekuatan dua Satuan
Setingkat Yonif (SSY), terdiri atas 150 prajurit Batalyon Zipur 8 yang
bertugas mengerjakan jalan dan jembatan Trans Papua serta 450 prajurit
Batalyon 431 Kostrad yang melakukan pengamanan selama pekerjaan berlangsung..

Dia menegaskan, pasukan yang dikirim tidak terlibat dalam pengejaran KKSB
pimpinan Egianus Kogoya selaku pihak yang dinilai paling bertanggung jawab
dalam serangkaian aksi kekerasan bersenjata di Nduga selama ini. ”Mereka
ini khusus untuk bangun jalan dan jembatan. Yang melakukan pengejaran KKSB
ada satuan lain yang sudah ada saat ini di wilayah pegunungan,” ujarnya.

Sebanyak 600 prajurit TNI dari Batalyon 431 Kostrad Makassar dan Batalyon
Zipur 8 Makassar, Sabtu (9/3) pagi tiba di Pelabuhan Portsite Amamapare,
Timika, Papua menggunakan KRI Dr Soeharso, kapal rumah sakit milik TNI-AL.
(ant)

Kirim email ke