*https://www.harianterbit.com/nasional/read/103783/Didukung-Ahok-Umat-Islam-Tinggalkan-PDI-dan-Jokow
<https://www.harianterbit.com/nasional/read/103783/Didukung-Ahok-Umat-Islam-Tinggalkan-PDI-dan-Jokow>*
i


Didukung Ahok, Umat Islam Tinggalkan PDI dan Jokowi


*Jakarta, Hanter* - Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional
Jokowi-Ma'ruf, Jusuf Kalla mengatakan, bergabungnya mantan terpidana kasus
penista agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) Perjuangan, dapat berdampak pada elektabilitas Jokowi sebagai calon
presiden (capres) petahana. JK juga meminta Ahok tidak bergabung dalam tim
pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin agar tidak menggerus elektabilitas Jokowi.

"Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan. Alasannya bahwa
bisa berakibat lagi orang mengingat ini Pak Jokowi didukung orang yang
penista agama. Kan bahaya itu, bisa mengurangi suara lagi," kata JK kepada
wartawan di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Pernyataan JK tersebut mendapat tanggapan positif pengamat politik
Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie.

“Permintaan agar Ahok tidak gabung TKN agar tidak menggerus elektabilitas
Jokowi memang langkah yang tepat. Jika Ahok gabung TKN bisa berdampak
negatif terhadap Jokowi,” kata Jerry kepada Harian Terbit, Selasa
(12/2/2019).

Menurutnya, jika PDIP ngotot Ahok masuk TKN menjadi  blunder dan menjadi
bumerang bagi petahana. Sebaiknya Ahok bersabar dulu untuk tidak bergabung
di TKN, tenangkan diri terlebih dahulu jangan gegabah.

“Karena Ahok ini bisa menjadi sasaran empuk kelompok 212 dan lainnya.
Sehingga Ahok bisa dihantam lagi oleh mereka dengan berbagai kasus yang
diduga melibatkannya. Untuk menjaga kemungkinan tersebut maka Ahom tetap di
partai saja dulu. Ambisi politik di pending dulu. Pasti akan ada posisi
nantinya," paparnya.

*Pemilih Islam*

Sementara itu, Kepala Divisi Hukum dan Advokasi DPP Partai Demokrat
Ferdinand Hutahaean mengemukakan, masuknya Ahok ke PDIP akan berdampak
politis, antara lain berkurangnya suara kalangan Islam kepada pasangan Joko
Widodo-Ma’ruf Amin.

“Terkait pilpres, tentu munculnya Ahok akan sedikit berpengaruh dengan
menjauhkan (suara kalangan) Islam di kubu Jokowi-Ma’ruf. Ini dampak dari
vonis pengadilan kepada Ahok yang terbukti menista agama Islam,” kata
Ferdinand kepada Harian Terbit, belum lama ini.

Menurutnya, pergeserah pemilih Islam yang telah memilih PDIP bisa saja
terjadi pergeseran. “Islam di kubu Jokowi bisa berubah dengan hadirnya
Ahok,” paparnya.

Pengamat politik Rusmin Effendy mengatakan, kalau Ahok masuk TKN akan
membuat elektabilitas Jokowi semakin terpuruk. Artinya, di kubu TKN ada
penista agama.

Rusmin menilai, masuknya Ahok ke PDIP semakin memperkuat stigma politik
PDIP memang partai menampung orang-orang bermasalah. Sebaliknya akan
menggerus elektabilitas PDIP di Pileg dan Pilpres 2019. "Jujur saja, Ahok
tidak punya magnit politik menarik dukungan suara, justru membuat PDIP
semakin terpuruk. Kalau mau merekrut tokoh yang punya repurtasi baik, masak
menarik oponturir politik," ujarnya.

Rusmin justru menyarankan penegak hukum sebaiknya fokus membongkar semua
temuan hasil audit investigasi BPK soal temuan penyalahgunaan keuangan
seperti kasus Sumber Waras, Trans Jakarta, Taman BMW. "Jangan-jangan dia
masuk partai untuk perlindungan dirinya agar tidak tersentuh hukum. Ini
yang perlu di waspadai. Persoalannya apakah aparat penegak hukun berani
membongkar kembali warisan korupsi yang ditinggalkan Ahok," tegasnya.

Beberapa waktu lalu, pengamat sosial politik dari Universitas Negeri
Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun mengatakan, Ahok memiliki kedekatan dengan
Presiden Joko Widodo.

“Kedekatan itu akan membuat Ahok merugikan Jokowi pada Pilpres 2019
mendatang. Secara politik itu menjadi representasi negatif Jokowi. Artinya,
Ahok bisa menjadi beban Jokowi pada pertarungan politik 2019," tuturnya.

*Semakin Kuat*

Sebelumnya, politisi PDIP Charles Honoris meyakini bergabungnya Ahok tidak
akan menggerus perolehan suara capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf
Amin di Pilpres. Meskipun ada saja sekelompok orang yang akan menggoyangkan
suara Jokowi-Ma'ruf Amin dengan bergabungnya Ahok ke PDIP. Justru
sebaliknya, Charles optimis suara Jokowi-Ma'ruf bakal semakin kuat.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Idil Akbar menyatakan, Ahok
berpotensi untuk memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi
elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019. Menurut Idil, Ahok masih punya massa
yang tergabung dalam kelompok ‘Teman Ahok’ ataupun pendukungnya yang
disebut ‘Ahokers.’ Inilah yang akan membuat sosok Ahok menguntungkan bagi
PDI-P dan Jokowi.

Kirim email ke