Wow, Tkk sudah punya basis militer, sudah punya pelabuhan, sudah menguasai 
mata uang negeri lain. Itulah karakteristik "sosialisme dengan ciri Tkk " di 
abad XXI ini. Sudah tentu bertambah bangga para pendukungnya...

Zimbabwe to make Chinese yuan legal currency after Beijing cancels debts

Yuan becomes the latest currency to be approved for public transactions in 
Zimbabwe, as the southern African nation seeks to increase trade with Beijing


 The yuan will become legal tender after Chinese president Xi Jinping visited 
Zimbabwe in early December for talks with president Robert Mugabe. Photograph: 
Huang Jingwen/Xinhua Press/Corbis
Zimbabwe has announced that it will make the Chinese yuan legal tender after 
Beijing confirmed it would cancel $40m in debts.

“They [China] said they are cancelling our debts that are maturing this year 
and we are in the process of finalising the debt instruments and calculating 
the debts,” minister Patrick Chinamasa said in a statement.



Chinamasa also announced that Zimbabwe will officially make the Chinese yuan 
legal tender as it seeks to increase trade with Beijing.

Zimbabwe abandoned its own dollar in 2009 after hyperinflation, which had 
peaked at around 500bn%, rendered it unusable.

It then started using a slew of foreign currencies, including the US dollar and 
the South African rand.

The yuan was later added to the basket of the foreign currencies, but its use 
had not been approved yet for public transactions in the market dominated by 
the greenback.


Use of the yuan “will be a function of trade between China and Zimbabwe and 
acceptability with customers in Zimbabwe,” the minister said.

Zimbabwe’s central bank chief John Mangudya was in negotiations with the 
People’s Bank of China “to see whether we can enhance its usage here,” said 
Chinamasa.

China is Zimbabwe’s biggest trading partner following Zimbabwe’s isolation by 
its former western trading partners over Harare’s human rights record.

In reaction veteran president Robert Mugabe adopted a “look East policy”, 
forging new alliances with eastern Asian countries and buttressing existing 
ones.

In early December, Chinese president Xi Jinping stopped over in Zimbabwein a 
rare trip by a world leader to the country, and presided over the signing of 
various agreements, mainly to upgrade and rebuild Zimbabwe’s infrastructure 
such as power stations.

    On Wednesday, March 13, 2019, 11:54:55 PM GMT+1, [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     





Beberapa Negara Gagal Bayar Utang: Mata Uang Jadi Yuan hingga Lego BUMN, 
Amankah Indonesia?
 Rabu, 13 Maret 2019 13:53




TRIBUN JABAR / GANI KURNIAWANIlustrasi mata uang asing



TRIBUNKALTIM.CO - Ada beberapa yang gagal mebayar utang ke China dan menjadi 
bangkrut. Negara yang gagal bayar utang atau harus melego saham BUMN ke China 
kerap disebut kena Chinese Money Trap.

Saat ini China merupakan negara pemberi utang ke negara lain.




Sebagai negara pemberi utang, China mempunyai sistem utang dan pembayaran yang 
diterapkan oleh Pemerintah China.




Negara mengambil utang ke China pada umumnya untuk pembangunan infrastruktur.




Negara yang meminjam dana ke China seperti Jepang, Korea Selatan, Angola, 
Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka. Termasuk Indonesia. Berpakah jumlah utang 
Indonesia ke China? Belum diperoleh data.




Akan tetapi, ada beberapa negara yang berutang ke China untuk membangun 
infrastruktur tidak bisa bayar, bahkan ada yang bangkrut.




Negara yang bangkrut seperti Zimbabwe yang memiliki utang sebesar 40 juta 
dollar AS kepada China.

Akan tetapi Zimbabwe tak mampu membayarkan utangnya kepada China.




Harga yang harus dibayar oleh Zimbabwe adalah mengganti mata uangnya menjadi 
yuan sebagai imbalan penghapusan utang.




Penggantian mata uang itu berlaku sejak 1 Januari 2016, setelah Zimbabwe tidak 
mampu membayar utang jatuh tempo pada akhir Desember 2015.




Kemudian, Nigeria yang disebabkan oleh model pembiayaan melalui utang yang 
disertai perjanjian merugikan negara penerima pinjaman dalam jangka panjang..




Dalam hal ini China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal 
China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.




Sedangkan Sri Lanka yang juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya 
untuk pembangunan infrastruktur.




Dampaknya Sri Lanka sampai harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 
triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara 
(BUMN) China.




Sistem utang dan pembayaran yang diterapkan oleh Pemerintah China disebut 
dengan Chinese Money Trap.

Negara peminjam yang tidak bisa mengembalikan jumlah yang telah disepakati, 
sebagai gantinya negeranya akan "dikuasai" oleh China sebagai pemberi modal 
pembangunan.




Sementara besaran utang luar negeri yang dihadapi oleh Indonesia tengah menjadi 
perhatian.




Salah satunya adalah utang luar negeri yang digunakan untuk membiayai 
proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.




Peneliti di Institute dor Fevelopment of Economics and Finance (INDEF), Rizal 
Taufikurahman, mengatakan, ada beberapa negara yang telah menggunakan skema 
utang dalam membiayai pembangunan infrastruktur, mulai dari Jepang, Korea 
Selatan, Angola, Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka.




Akan tetapi pembiayaan infrastruktur melalui utang luar negeri tak selalu 
berjalan mulus, ada beberapa negara yang gagal bayar atau bangkrut.




"Jadi ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, 
Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka," kata Rizal, Selasa (12/3/2019).




Negara-negara itu membangun proyek infrastruktur lewat utang, dan tidak bisa 
bayar utang.




"Banyak beberapa negara, di antaranya Angola mengganti nilai mata uangnya. 
Zimbabwe juga," kata Rizal.

Rizal mengatakan, dengan demikian pemerintah perlu kehati-hatian dan kecermatan 
dalam mengelola utang luar negeri terutama yang berkaitan untuk pembangunan 
infrastruktur.




Tercatat, pada akhir 2014, utang pemerintah mencapai Rp 2.609 triliun dengan 
rasio 24,7 persen terhadap PDB.




Sedangkan hingga akhir 2017, utang pemerintah mencapai Rp 3.942 triliun dengan 
rasio 29,4 persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) utang luar negeri Indonesia pada akhir 
Januari 2018 meningkat 10,3 persen secara year on year menjadi 357,5 miliar 
dollar AS atau sekitar Rp 4.915 triliun, memakai kurs Rp 13.750 per dollar AS.




Adapun rinciannya adalah 183,4 miliar dollar AS atau setara Rp 2.521 triliun 
utang pemerintah dan 174,2 miliar dollar AS atau setara Rp 2.394 triliun utang 
swasta.




Aman




Meski tercatat memiliki utang luar negeri kepada China, Pemerintah memastikan 
Indonesia aman dari ancaman Chinese Money Trap.




Bahkan soal Chinese Money Trap diangkat menjadi tema sebuah video YouTube oleh 
akun Nas Daily pada 1 Maret 2019.




Menurut Kepala Biro Layanan Komunikasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira 
Sakti, Indonesia memiliki utang sejumlah Rp 22 triliun kepada China per akhir 
2018.




Namun, Nufransa menyebut utang Indonesia masih aman dan tidak akan terdampak 
Chinese Money Trap.

Hal itu dikarenakan beberapa hal, misalnya utang dilakukan dengan penuh 
kehati-hatian sesuai dengan undang-undang yang ada, juga mempertimbangkan 
perbandingan rasio utang dengan tingkat pendapatan negara.




Nufransa menjamin kebenaran hal tersebut.




"Dipastikan tidak akan terjadi. Bahkan di video tersebut juga tidak disebutkan 
tentang Indonesia," ujar Nufransa.




"Kami melakukan pinjaman kepada semua negara secara berhati-hati, bahkan sudah 
diatur tata caranya pada Peraturan Pemerintah."




Jika dilihat dari rasio utang per PDB dan rasio defisit negara-negara yang 
disebut dalam video, kondisi Indonesia relatif jauh lebih aman untuk terhindar 
dari Chinese Money Trap.




Menurut Nufransa, Indonesia mampu untuk mengembalikan utang yang ada, karena 
telah ada anggaran khusus dalam APBN.




Selain itu, sistem pembayaran utang Indonesia memiliki waktu jatuh tempo yang 
tidak bersamaan, sehingga relatif lebih meringankan keuangan negara. 

[Kompas.com/Pramdia Arhando Julianto dan Luthfia Ayu Azanella]



Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co dengan judul Beberapa Negara Gagal 
Bayar Utang: Mata Uang Jadi Yuan hingga Lego BUMN, Amankah Indonesia?, 
http://kaltim.tribunnews.com/2019/03/13/beberapa-negara-gagal-bayar-utang-mata-uang-jadi-yuan-hingga-lego-bumn-amankah-indonesia?page=all.

Editor: Achmad Bintoro









  #yiv2823070980 #yiv2823070980 -- #yiv2823070980ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-mkp #yiv2823070980hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mkp #yiv2823070980ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mkp .yiv2823070980ad 
{padding:0 0;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mkp .yiv2823070980ad p 
{margin:0;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mkp .yiv2823070980ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-sponsor 
#yiv2823070980ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-sponsor #yiv2823070980ygrp-lc #yiv2823070980hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-sponsor #yiv2823070980ygrp-lc .yiv2823070980ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2823070980 #yiv2823070980actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2823070980
 #yiv2823070980activity span {font-weight:700;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv2823070980 #yiv2823070980activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2823070980 #yiv2823070980activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv2823070980 #yiv2823070980activity span 
.yiv2823070980underline {text-decoration:underline;}#yiv2823070980 
.yiv2823070980attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv2823070980 .yiv2823070980attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv2823070980 .yiv2823070980attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2823070980 .yiv2823070980attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2823070980 .yiv2823070980attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv2823070980 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv2823070980 .yiv2823070980bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2823070980 
.yiv2823070980bold a {text-decoration:none;}#yiv2823070980 dd.yiv2823070980last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2823070980 dd.yiv2823070980last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2823070980 
dd.yiv2823070980last p span.yiv2823070980yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv2823070980 div.yiv2823070980attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv2823070980 div.yiv2823070980attach-table 
{width:400px;}#yiv2823070980 div.yiv2823070980file-title a, #yiv2823070980 
div.yiv2823070980file-title a:active, #yiv2823070980 
div.yiv2823070980file-title a:hover, #yiv2823070980 div.yiv2823070980file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2823070980 div.yiv2823070980photo-title a, 
#yiv2823070980 div.yiv2823070980photo-title a:active, #yiv2823070980 
div.yiv2823070980photo-title a:hover, #yiv2823070980 
div.yiv2823070980photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2823070980 
div#yiv2823070980ygrp-mlmsg #yiv2823070980ygrp-msg p a 
span.yiv2823070980yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2823070980 
.yiv2823070980green {color:#628c2a;}#yiv2823070980 .yiv2823070980MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv2823070980 o {font-size:0;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980photos div {float:left;width:72px;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2823070980
 #yiv2823070980reco-category {font-size:77%;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980reco-desc {font-size:77%;}#yiv2823070980 .yiv2823070980replbq 
{margin:4px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-mlmsg select, #yiv2823070980 input, #yiv2823070980 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-mlmsg pre, #yiv2823070980 code {font:115% 
monospace;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-mlmsg #yiv2823070980logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-msg 
p#yiv2823070980attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-reco #yiv2823070980reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-sponsor 
#yiv2823070980ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-sponsor #yiv2823070980ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-sponsor #yiv2823070980ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv2823070980 #yiv2823070980ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2823070980 
#yiv2823070980ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv2823070980   

Kirim email ke