https://tirto.id/bu-lis-dan-kebiasaan-sandiaga-main-klaim-statistik-djKC
Bu Lis dan Kebiasaan Sandiaga Main
Klaim Statistik
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengikuti Debat Capres Putaran
Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019). ANTARA FOTO/Wahyu
Putro A/wsj.
Debat Cawapres yang Minim Debat
<https://tirto.id/debat-cawapres-yang-minim-debat-djJv>
Debat Cawapres: Ma'ruf & Sandi...
<https://tirto.id/debat-cawapres-ma039ruf-sandi-jualan-gimmick-kepada-pencari-kerja-djJz>
Bu Lis dan Kebiasaan Sandiaga Main...
<https://tirto.id/bu-lis-dan-kebiasaan-sandiaga-main-klaim-statistik-djKC>
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengikuti Debat Capres
Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019).
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj.
Oleh: Aulia Adam - 18 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
/Selain mengandalkan cerita ‘orang kecil’, Sandi menambahkan data
statistik yang sering susah diukur dan belum tentu terbukti./
tirto.id <https://tirto.id/> - Dalam Debat cawapres, Sandiaga Uno masih
tampil dengan jurus-jurus andalannya serupa debat sebelumnya: meminjam
nama ‘orang kecil’—biasanya dari kelompok marjinal—untuk membuktikan ia
peduli.
“… Saya teringat kisah Ibu Lis di Sragen,” kata Sandiaga Uno, calon
wakil presiden nomor urut 02. “Di mana pengobatannya harus disetop
karena BPJS tidak lagi meng-/cover/. Di bawah Prabowo-Sandi, kami
pastikan dalam 200 hari pertama, akar permasalahan BPJS dan JKN kita
selesaikan.”
Jawaban itu muncul saat Sandiaga menjelaskan visi-misinya dalam program
kesehatan, pada kesempatan pertama berbicara. Tak ada penjelasan terlalu
detail tentang siapa “Ibu Lis di Sragen” yang dimaksudnya, sampai
kesempatan ia kembali bicara di segmen kedua.
“Kisah yang dihadapi Ibu Lis, di mana program pengobatan harus terhenti,
karena tidak di-/cover /oleh BPJS, itu tidak boleh lagi kita tolerir.
Indonesia, apalagi akan menjadi negara yang ekonominya nomor lima
terbesar di dunia tahun 2045, harus menghadirkan pelayanan kesehatan
yang prima bagi masyarakatnya,” kata Sandi.
Informasi yang kurang lengkap memicu tubir
<https://twitter.com/search?q=bu%20lis%20sragen&src=typd> di media
sosial tentang siapa Lis yang dimaksud Sandi. Sebagian mempertanyakan
identitas “Ibu Lis dari Sragen”, sebagian lain menyebar /meme/.
Salah satu yang viral adalah akun yang memakai nama "Lies Sugiarti" yang
mencuit <https://twitter.com/LiesSugiyarti/status/1107280313078579201>:
/“Pa Sandiaga Uno sebaiknya jgn bawa bawa saya dalam debat. Saya di
Sragen sdh susah. Jangan buat saya lebih susah. Nanti netizen DM saya,
ajak saya kopdar lalu nanti saya harus bikin thread. Plis pa Sandiaga
Uno. Saya hormat kpd anda walau terakhir saya dengar anda ga bayar kopi.”/
Dari penelusuran /Tirto/, Ibu Lis yang dimaksud Sandi adalah Liswati,
pasien kanker payudara yang mengeluhkan tidak tercakupnya obat Herceptin
dalam jaminan JKN. Dialog mereka berdua sempat diunggah Sandi dalam
halaman
<https://www.facebook.com/SandiSUno/videos/1164533257046595/?v=1164533257046595>
Facebook, tiga bulan lalu.
Herceptin adalah merek dagang obat Trastuzumab untuk kanker payudara,
yang memang sempat tidak tercakup jaminan. Namun, kini ia sudah dijamin,
meski pasien mengeluhkan obat tersebut sering habis.
Baca juga:
* Obat Trastuzumab Dihapus BPJS, Pasien Kanker Payudara Bikin Gugatan
<https://tirto.id/obat-trastuzumab-dihapus-bpjs-pasien-kanker-payudara-bikin-gugatan-cP2E>
* BPJS Hapus Obat Kanker Payudara Trastuzumab, Lalu Bagaimana?
<https://tirto.id/bpjs-hapus-obat-kanker-payudara-trastuzumab-lalu-bagaimana-cPkQ>
Menyebut nama ‘orang kecil’ dalam debat memang sudah jadi andalan Sandi
sejak masih jadi calon wakil gubernur Jakarta
<https://tirto.id/anies-sandi-lebih-kalem-bawa-data-lebih-banyak-ciQd>,
saat berpasangan dengan Anies Baswedan. Pada debat capres sebelumnya, ia
juga sempat meminjam nama Zulfan Dewantara
<https://www.instagram.com/p/BszGqwAhhxg/>, seorang pengusaha penyandang
disabilitas, untuk masuk ke dalam topik hak orang-orang disabilitas.
Rumus Sandi sebenarnya sederhana. Ia mengadopsi strategi kampanye
/blusukan /yang dulu dipopulerkan Joko Widodo saat masih jadi Wali Kota
di Solo dan Basuki Tjahaja Purnama saat jadi Gubernur Jakarta.
Di setiap kunjungan ke daerah-daerah, Sandi bertemu dengan warga, lalu
merekam dan mengunggah perbincangan mereka di Instagram
<https://www.instagram.com/sandiuno/?utm_source=ig_embed>. Pertanyaan
andalan Sandi juga nyaris selalu serupa: selalu berotasi tentang keluhan
hidup orang yang ditemuinya.
Dalam debat cawapres Minggu malam kemarin, selain Ibu Lis, Sandi
meminjam nama Salsabila Umar yang diklaimnya dari Pamekasan untuk
membahas topik kurikulum, dan visinya menghapuskan Ujian Nasional.
Beberapa kali ia juga menyebut bertemu beberapa orang, tanpa nama.
Misalnya, saat membahas isu ketenagakerjaan, ia bilang sempat bertemu
orang yang ingin kursus bikin desain grafis dan bahasa Inggris.
Sandi akan membingkai masalah-masalah orang yang ditemuinya sebagai
alasan kuat di balik program-program yang ia canangkan. Sehingga ia akan
terkesan sebagai calon pemimpin yang mendengarkan, dan dekat dengan
rakyat kecil.
Padahal, sering kali yang disampaikannya hanya masalah-masalah umum yang
tidak mengupas perkara pokok. Misalnya, masalah ketersediaan obat
Herceptin yang sebenarnya jadi pokok keluhan Ibu Lis di Sragen.
Baca juga:
* Debat Cawapres: Ajang Sandiaga Uno Buktikan Dirinya Bukan Ban Serep
<https://tirto.id/debat-cawapres-ajang-sandiaga-uno-buktikan-dirinya-bukan-ban-serep-djx5>
Strategi II: Klaim Statistik
Jurus lain yang juga masih jadi andalan Sandi dalam debat kemarin adalah
klaim statistik.
Beberapa kali ia menyertai argumen dengan data yang persis dan bisa
dipertanggungjawabkan. Misalnya, angka kematian ibu yang disebutnya “di
atas tingkat 300”.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2017 oleh Kementerian Kesehatan,
angkat kematian ibu sejak 2012 sampai 2015 memang di atas 300. Ia juga
menyebut jumlah pengangguran—yang angkanya mencapai 7.000.691 per
Agustus 2018—dan anggaran pendidikan lebih dari Rp400 miliar—dengan benar.
Namun, bak manusia pada umumnya, ingatan Sandi tak melulu jitu. Beberapa
kali pula hapalannya meleset.
Misalnya, angka pengangguran terbuka usia 15-24 tahun. Ia menyebut
jumlahnya mencapai 61 persen. Padahal, menurut BPS, kategori itu
berjumlah sekitar 40 persen sejak 2016 hingga 2018. Pada 2016, jumlahnya
43,89 persen, pada 2017 berjumlah 44,16 persen, dan pada 2018 berjumlah
43,4 persen.
Sandi juga meleset mengutip jumlah UMKM di Indonesia. Ia sempat benar
ketika menyebut UMKM adalah 99,9 persen dari unit usaha yang dimiliki
bangsa ini. Namun, keliru menyebut jumlah UMKM yang katanya 55 juta
unit, padahal sudah tumbuh berkisar 61-62 juta pada 2016-2017.
Bekal-bekal data yang dibawa Sandi mungkin membuat sebagian pemilih
terkesan karena ia tampak menganggap serius topik-topik yang didebatkan.
Dan mungkin karena itu pula, Sandi mempertahankan cara ini sebagai
andalannya ketika debat. /Thus/, kekeliruan kecil mungkin tidak terlalu
perlu diributkan.
Baca juga:
* PR Ma'ruf dan Sandiaga Atasi Ketidakmerataan Dokter di Daerah
<https://tirto.id/pr-maruf-dan-sandiaga-atasi-ketidakmerataan-dokter-di-daerah-djzc>
Namun, yang keliru bukan cuma hapalan statistik. Dalam debat kemarin,
Sandi tampak dengan sengaja membingkai sejumlah data dengan logika yang
susah diukur dan belum tentu terbukti.
Yang paling lantang dan beberapa kali disebutnya adalah klaim
meningkatnya pengangguran dan kewajiban tenaga asing untuk berbahasa
Indonesia.
Menurut Sandi, “Kita harus berpihak. Kalau ada lowongan tenaga kerja,
berikanlah kepada tenaga kerja anak-anak negeri kita sendiri. Jangan
sampai mereka disingkirkan dan terasing karena adanya Tenaga Kerja Asing.”
Itu sebabnya, ia “akan pastikan siapa pun tenaga kerja asing yang
bekerja di Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia”.
Menurut Sandi, ada korelasi antara jumlah pengangguran yang meningkat
dan keterbukaan pemerintah Joko Widodo menerima tenaga kerja asing. Ia
membingkai logika itu dalam pertanyaan pertama yang ditanyakan kepada
Ma’ruf Amin dalam segmen debat terbuka.
Infografik HL Debat Cawapres
“Bapak Kiai Haji Ma'ruf Amin yang saya muliakan, di saat pengangguran
kita masih ada 7 juta dan kualitas lapangan pekerjaan kita masih belum
optimal. Pemerintah mencabut beberapa keharusan bagi tenaga kerja asing,
Seperti keharusan mereka bisa berbahasa Indonesia, perbandingan jumlah
tenaga kerja asing dan tenaga kerja lokal, dan juga berkaitan dengan
visa khususnya untuk tenaga kerja yang ada pada strata terbawah.
Kita melihat banyak sekali saudara kita belum mendapatkan kesempatan
kerja tapi pada satu sisi yang lain justru lapangan kerja tersebut
diberikan kepada warga negara asing. Tenaga honorer per hari ini belum
mendapatkan keadilan. Mereka belum ditingkatkan statusnya dan
kesejahteraannya juga masih belum. Sistem /outsourcing /yang sekarang
memberatkan, baik bagi dunia usaha. Sistem /outsourcing /sangat tidak
adil bagi tenaga kerja yang sekarang mengeluhkan tidak ada kepastian
kerjanya, juga sistem upah yang menekan teman-teman Serikat Pekerja.
Teman-teman dari kemudi transportasi/online/ belum mendapatkan
perlindungan kerja selayaknya. Strategi apa yang Bapak Kiai miliki untuk
memastikan kita memiliki keadilan dalam menyediakan tenaga kerja untuk
anak-anak negeri kita?”
Dalam pernyataan itu, Sandi seolah-olah membingkai fakta baru bahwa
alasan banyak orang menganggur semata-mata karena persyaratan TKA
“dilonggarkan”. Ia menghimpitkan dua hal yang sebenarnya punya banyak
variabel, seolah-olah sebagai sebab-akibat. Padahal belum tentu berhubungan.
Setidaknya, belum ada penelitian yang menyebut ada korelasi langsung
antara Permenaker Nomor 16/2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga
Kerja Asing dengan jumlah pengangguran di Indonesia. (Permenaker
tersebut adalah revisi dari Permenaker Nomor 12/2013 yang menghapus
peraturan pekerja asing di Indonesia harus mampu berbahasa Indonesia).
Baca juga:
* Benarkah Tenaga Kerja Asing Mudah Masuk Indonesia?
<https://tirto.id/benarkah-tenaga-kerja-asing-mudah-masuk-indonesia-cHrL>
Lewat logika serupa, Sandi juga membingkai OK-OCE sebagai solusi dari
masalah pengangguran di Indonesia. “Di Jakarta, OK-OCE sudah bisa
menurunkan pengangguran sebanyak 20.000 di tahun 2018,” katanya pada
segmen ketiga tentang ketenagakerjaan.
Sebelumnya, pada segmen pertama, ketika menyampaikan visi-misi, Sandi
berkata, “Saya yakin bahwa masa depan anak muda kita bisa kita berikan
kesempatan untuk lapangan kerja kalau kita fokus pada dua program utama
kita, yaitu OK-OCE yang akan kita angkat ke level nasional.”
Ia sengaja membingkai program OK-OCE sebagai solusi masalah pengangguran
di Indonesia dengan menyebut pertumbuhan anggota OK-OCE di Jakarta.
Padahal belum tentu ada korelasi antara jumlah anggota program itu yang
bertambah dengan jumlah pengangguran di Jakarta. Sederhananya, tak semua
pengangguran yang kemudian menjadi pekerja dalam periode itu adalah
anggota OK-OCE.
Baca juga:
* Menengok Napas Terakhir OK OCE Mart di Kalibata
<https://tirto.id/menengok-napas-terakhir-ok-oce-mart-di-kalibata-cWlU>
Jadi, meski gemar menyempalkan data statistik dalam argumentasinya,
Sandi juga beberapa kali menyempilkan teori-teorinya yang belum teruji
dan terbukti.
Masalahnya, "teori-teori" itu ia sajikan seolah-olah macam data yang
punya hubungan sebab-akibat dengan program yang ia canangkan.
Misalnya, dalam topik kesehatan, Sandi juga akan menghadirkan
kebijakan-kebijakan yang bisa mencegah datangnya penyakit. Ia
menyebutnya dengan sebutan kebijakan promotif-preventif. Ia mengklaim,
gerakan olahraga 22 menit tiap hari dapat mengurangi biaya kesehatan,
yang sayangnya sama sekali tidak ia jabarkan.
“Saya Alhamdulillah menjalankannya setiap hari dan saya melihat
bagaimana dampaknya positif terhadap pengurangan biaya kesehatan,” kata
Sandi.
Baca juga:
* Sandiaga Uno yang Asal Omong soal Tanah Abang
<https://tirto.id/sandiaga-uno-yang-asal-omong-soal-tanah-abang-cz5m>
Dilihat dari perspektif niat, kebijakan dan program-program yang
dijanjikan Sandi dalam debat kemarin memang terhitung positif dengan
alasan-alasan mulia. Masalahnya, apakah ia benar-benar diukur dengan
variabel yang tepat dan jitu menjadi solusi? Atau, hanya /gimmick/
jualan kampanye belaka, yang tujuan utamanya cuma mendulang
elektabilitas, dan berakhir sebagai retorika belaka?
Tapi, kalau cara itu bisa memenangkannya dalam putaran Gubernur Jakarta
yang sengit, apa salahnya mengulang strategi yang sama?
Baca juga artikel terkait DEBAT CAWAPRES 2019
<https://tirto.id/q/debat-cawapres-2019-vaZ?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
<https://tirto.id/author/auliaadam?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Dalam debat cawapres, Sandiaga masih pakai jurus andalan: sebut nama
orang kecil, dan lempar OK-OCE