Yoseph T Taher
16 jam · 
Ini Pesan Bung Karno untuk Mereka yang Anti-Komunis (1)
share on:FacebookTwitter Google +

Dalam sepekan terakhir, propaganda anti-komunisme sedang ditiupkan sangat 
kencang. Bersamaan dengan itu, sejumlah orang ditangkap, kemudian kaus dan 
buku-buku ikut disita.
Tanggal 9 Mei lalu, seorang pedagang kaus di Blok M sempat ditangkap polisi 
karena menjual kaus grup band metal asal Jerman, Kreator, yang menyerupai 
gambar palu-arit.
Di hari yang sama, seorang pemuda yang tengah menonton konser musik di lapangan 
Saburai Bandar Lampung, Lampung, ditangkap oleh aparat Korem hanya karena 
mengenakan kaus bergambar palu-arit dengan tulisan “CCCP”.
Kemudian, pada 10 Mei lalu, dua aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara 
(AMAN) di Maluku Utara ditangkap karena dituduh menyebarkan komunisme di media 
sosial. Kemarin, Jumat (13/5), dua aktivis itu ditetapkan sebagai tersangka.
Kemudian, dalam sepekan terakhir, aparat TNI/Polri juga gencar menyita 
buku-buku yang dianggap berbau komunis. Lucunya, entah mengerti atau tidak, 
buku-buku yang mengeritik komunisme pun turut disita.
Propaganda bahaya anti-komunis ini menggelikan. Pertama, kampanye dibangun dari 
tudingan kosong. Tidak ada tanda-tanda kebangkitan PKI di Indonesia. Penggunaan 
kaus palu arit tidak identik dengan kebangkitan PKI. Seperti kaus palu-arit 
bertuliskan “CCCP”, itu kaus populer yang gampang didapat di pasar pakaian 
bekas. Desas-desus, bahwa PKI akan merayakan HUT pada 9 Mei, tidak terbukti.
Kedua, ada indikasi kuat bahwa kampanye bahaya komunis ini digerakkan oleh 
Jenderal-Jenderal Purnawirawan, termasuk seorang Menteri aktif, yang tidak 
setuju dengan ide pemerintah menyelenggarakan Simposiun 1965 pada pertengahan 
April lalu (baca di sini). Ini tentu sangat menggelikan.
Ketiga, proganda bahaya komunis diteriakkan ketika bangsa ini justru berhadapan 
dengan problem konkret di depan mata, yaitu neoliberalisme, yang telah membunuh 
kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara politik, ekonomi, 
dan kebudayaan. Ironis memang, TNI dan Polri justru sibuk mengejar musuh yang 
tidak nyata, sementara musuh yang nyata dibiarkan merajalela menghancurkan 
negeri ini.
Karena itu, agar bangsa ini tidak terjebak pada komunisto-phobia, ada baiknya 
merenungkan pesan-pesan Bung Karno berikut ini:
Tentang komunisto-phobia:
1. Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka terjadilah di luar 
negeri, – kemudian juga meniup di angkasa kita – , apa yang dinamakan “perang 
dingin”. Perang dingin ini sangat memuncak pada kira-kira tahun 1950, malah 
hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia amat menghambat 
pertumbuhan-pertumbuhan progresif di berbagai negara. Tadinya, segera sesudah 
selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran progresif di mana-mana 
mulailah berjalan pesat. Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu 
penjelmaan daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif 
mudah sekali dicap “Komunis”. Segala apa saja yang menuju kepada angan-angan 
baru dicap “Komunis”. Anti kolonialisme – Komunis. Anti exploitation de l’homme 
par l’homme – Komunis. Anti feodalisme-Komunis. Anti kompromis – Komunis. 
Konsekwen revolusioner – Komunis. Ini banjak sekali mempengaruhi fikiran 
orang-orang, terutama sekali fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel. 
Dan inipun terus dipergunakun (diambil manfaatnya) oleh orang-orang Indonesia 
yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis, kompromis, blandis, 
dan lain-lain sebagainya. (Pidato Sukarno pada Peringatan HUT Proklamasi 
Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960)
2. Dus: Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita penyakit “takut 
kalau-kalau disebut kiri”, “takut kalau-kalau disebut Komunis”. Kiri-phobi dan 
komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif dan reaksioner dalam 
soal-soal politik dan soal-soal pembangunan sosial-ekonomis. (Pidato Sukarno 
pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960)
Cita-cita Kom: Masyarakat Adil dan Makmur
3. Kalau tidak mau pada Kom, bahkan menentang kepada Kom, Komdalam arti yang 
tempo hari kukatakan, menghendaki suatu masyarakat adil dan makmur tanpa 
exploitation de I’homme par I’homme, persama-rasa-sama-rataan politik dan 
ekonomi, siapa yang tidak demikian, dia tidak berpegang pada azimat Revolusi. 
Sebab, salah satu azimat Revolusi ini adalah Nasakom. (Pidato di HUT PERWARI, 
1965)
4. Ayo, terus terang ya. Anti Gestapu yang lain! Kom-Kom-Kom, saya katakan, 
sebagai ideologi untuk mendatangkan di sini masyarakat adil dan makmur. (Amanat 
Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 
11 Desember 1965)
Pancasila Itu Kiri
5. Oleh karena itu maka saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh 
karena apa? Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur 
keadilan sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah anti 
exploitation de I’homme par I’homme (baca: penghisapan manusia atas manusia). 
Pancasila adalah anti exploitation de nation par nation (penindasan bangsa atas 
bangsa). Karena itulah Pancasila kiri. (Pidato Sukarno di Sidang Paripurna 
Kabinet Dwikora, di Istana Bogor, 6 November 1965).
6. Perkataan (maksudnya Pancasila) dipakai sebetulnya untuk men-demonstreer 
anti kepada Kom. Padahal Pancasila itu sebetulnya tidak anti Kom. Kom dalam 
arti ideologi sosial untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat sosialistis. 
(Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana 
Bogor, 11 Desember 1965)
7. Pendek kata, kalau saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno, 
saya tidak mau punya anak yang tidak kiri. Ya, saya tidak mau punya anak yang 
tidak kiri. Kalau yang cuma mulutnya saja progresif revolusioner, tetapi di 
dalam hatinya sebetulnya kanan. (Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota 
Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965) (bersambung 
kebagian 2)

Kirim email ke