Dato Sri Tahir Bercerita soal Infrastruktur Cina dan Kemakmuran
Reporter:
Francisca Christy Rosana
Editor:
Ali Akhmad Noor Hidayat
Kamis, 28 Maret 2019 05:59 WIB
Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat menjadi narasumber dalam
acara The Founders bertajuk Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat
menjadi narasumber dalam acara The Founders bertajuk "How To Be A Good
Entrepreneur" di Gedung TEMPO, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. TEMPO/M
Taufan Rengganis
*TEMPO.CO, Jakarta*– PengusahaDato Sri Tahir
<https://www.tempo.co/tag/dato-sri-tahir>memuji Presiden Joko Widodo
atau Jokowi yang dinilai mampu memanfatkan momentum pertumbuhan ekonomi
Indonesia.Selama lima tahun menjabat, Jokowi dipandang mumpuni mengisi
tren pertumbuhan ekonomi dengan membangun infrastruktur.
Simak: Dato Sri Tahir Beberkan Tiga Cara Jadi Pengusaha Sukses
<https://www.tempo.co/tag/dato-sri-tahir>
“/Growth/yang baik itu seperti Pak Jokowi, mengisi
dengan/infrastucture/. Ini hal yang produktif dibanding Jepang,
Singapura, Tiongkok,” ujar Tahir dalam diskusi The Founders bertajuk
“How to be A Good Entrepreneur” yang digelar Tempo pada Rabu petang, 27
Maret 2019, di kantor Tempo, Jalan Palmerah Barat, Jakarta.
Pengembangan infrastruktur ini akan berdampak secara tak langsung untuk
pertumbuhan di banyak sektor pada masa pasca-pembangunan. Lewat
realisasi pembangunan proyek-proyek tersebut pula, pemerintah dinilai
produktif membuka keran konektivitas.
Tahir menambahkan, hal yang berbeda terjadi di Cina. Beberapa tahun
belakangan, ia berpandangan pemerintah Negeri Tirai Babu memanfaatkan
pertumbuhan ekonomi dengan kegiatan konsumtif. “Itu akan bahaya,” ujarnya.
Padahal, Cina di masa pemerintahan Wen Jiabao pernah mengisi tren
pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan infrastruktur/high-speed
rail/atau kereta cepat. Kereta ini menghubungkan Beijing dan Shanghai
yang berjarak sekitar 29 ribu kilometer.
Tahir mengakui, keuntungan dari pembangunan/high-speed rail/bukan
berasal dari penjualan tiket moda transportasi secara langsung. Namun,
ia menghitung dampak ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat
setelah/high-speed rail/beroperasi. “Untungnya sampai sekarang hanya 6
persen. Tapi tempat yang dilewati ini ada kemakmuran,” ujarDato Sri
Tahir <https://www.tempo.co/tag/dato-sri-tahir>.
ADVERTISEMENT
Badan Pusat Statistik mencatat, mengalami peningkatan laju pertumbuhan
ekonomi Indonesia sejak 2016. Pada 2016, tren pertumbuhan ekonomi
Indonesia terus membaik di angka 5,07 persen. Tren pertumbuhan ekonomi
terus membaik setelah menjejak 5,07 persen pada 2017 dan mencapai 5,17
persen pada 2018.
Kendati pertumbuhan ekonomi mencapai 5,17 persen atau yang terbaik sejak
2014, nilai tersebut masih belum mencapai target.
**
*FRANCISCA CHRISTY ROSANA | CAESAR AKBAR*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com