http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1481-kegigihan-ibu-ibu
/*Kegigihan Ibu-Ibu*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 28 Mar
2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1481-kegigihan-ibu-ibu>
<http://twitter.com/home/?status=Kegigihan Ibu-Ibu
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1481-kegigihan-ibu-ibu
via @mediaindonesia>
Kegigihan Ibu-Ibu
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/03/0af1e5ee6f9629f5ea7e3fcad94b4ff7.jpg>
/MI/Tiyok/
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
ADA dua berita yang menarik perhatian saya dalam kampanye pilpres pekan
ini. Yang pertama berita seorang mahasiswi, yang kedua berita ibu-ibu.
Mahasiswi itu diberitakan menawarkan diri untuk menjadi istri kedua
cawapres Sandiaga Uno. Hal itu disampaikannya dalam kampanye di Sleman,
Yogyakarta.
Nama perempuan itu Vincentia Tiffani. Sekarang beredar pengakuan bahwa
dia hanya bercanda. Dia bilang untuk menghidupkan acara dia dimintai
tolong panitia untuk bertanya bagaimana kalau dia menjadi istri kedua
Sandiaga.
Berita yang kedua, ibu-ibu mengunjungi dari pintu ke pintu sejumlah
tempat di Tanah Minangkabau. Kata mereka, Minangkabau negeri yang kaya
dengan peradaban budaya. Kampung halaman tokoh-tokoh bangsa, antara lain
proklamator Bung Hatta, Agus Salim, dan Buya HAMKA.
Ibu-ibu itu meyakini masyarakat Sumatra Barat tidak akan terpengaruh
dengan berita bohong yang terus disebarluaskan sebab masyarakat Sumatra
Barat merupakan masyarakat rasional. Kaum perempuan itu bergabung dalam
Komunitas Srikandi Indonesia (KSI) yang mengampanyekan Joko
Widodo-Ma'ruf Amin. Gerakan mereka dipimpin Ketua Umum KSI Yanti Rukmana
dan Pembina KSI Niniek Darmanto.
Mereka ialah emak-emak yang mendatangi warga dengan pesan rasional.
Minangkabau memang tempat kelahiran banyak elite bangsa ini. Selain yang
telah disebutkan, dari sana berasal Sutan Sjahrir, Perdana Menteri
Indonesia pertama.
Dalam melahirkan orang-orang pintar Minangkabau, perlu disebut
Kotagadang, yang sangat khas. Pada awal 1900-an, misalnya, inilah tempat
kelahiran para pekerja birokrasi Belanda, seperti jaksa, pegawai pajak,
yang meliputi daerah tugas Sumatra, Kalimantan, dan beberapa orang di
Batavia. Di masa awal kemerdekaan, bahkan Bukit Tinggi pernah menjadi
ibu kota Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika Yogya diserbu Belanda.
Saya sangat setuju betapa aneh bila orang Minangkabau percaya berita
bohong. Menurut Sensus Penduduk 2010, hanya 2,30% penduduk berumur 7-15
tahun yang tidak/belum pernah sekolah.
Menurut data Unicef, pada 2015 angka partisipasi dalam pembelajaran PAUD
yang terorganisasi di kalangan anak usia 6 tahun mencapai 95%, dan
sebagian besar di antaranya masuk sekolah dasar lebih cepat.
Hampir separuh penduduk berumur 18 tahun bersekolah di sekolah lanjutan
atas dan perguruan tinggi. Dari pepatah petitih Minangkabau pun
tampaklah betapa kritis orang Minang. Mereka tidak hanya piawai
berpepatah petitih sebagai ekspresi lisan, tapi juga lewat tulisan.
Selama masa Balai Pustaka, 9 dari 15 pengarang terkemuka pada generasi
1920-1930-an itu ialah orang Minang.
Berita bohong tentang Jokowi itu tidak boleh dibiarkan, lalu diterima
warga sebagai kebenaran. Ibu-ibu itu dengan gigih menemui warga untuk
meluruskan yang bohong dan berupaya meyakinkan orang Minangkabau yang
rasional itu agar melihat dan menerima dengan objektif siapa Jokowi dan
apa kinerja pemerintah di bawah kepemimpinannya.
Saya tidak ingin menghakimi mahasiswi yang menawarkan dirinya menjadi
istri kedua itu. Saya hanya menyesali dia tidak kritis. Kecaman justru
lebih patut ditujukan ke panitia kampanye yang berpikir sensasional
untuk menghidupkan acara dengan bertanya kepada Sandiaga apakah bersedia
menjadikan si mahasiswi istri kedua.
Kampanye pilpres bukan ajang bercanda. Kampanye pilpres bukan ajang
bermain-main. Kampanye pilpres ajang untuk meyakinkan rakyat yang punya
hak pilih agar memilih pasangan capres-cawapres yang terbaik. Bangsa ini
bukan sedang mencari pemimpin yang ingin punya atau bersedia punya istri
kedua.
Masa kampanye pilpres masih sampai 13 April 2019. Kiranya tidak terulang
lagi kampanye cara majal ada perempuan menawarkan diri menjadi istri kedua.
Kita ingin kampanye pilpres merupakan pendidikan politik, menyampaikan
pesan yang rasional sehingga terpilih presiden yang terbaik yang telah
terbukti hasil kerja dan pengabdiannya.