https://news.detik.com/kolom/d-4488939/politik-fesyen-dan-gaya-elite-politik-kita
Jumat 29 Maret 2019, 16:20 WIB
Kolom
Politik Fesyen dan Gaya Elite Politik Kita
Danang T.P - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/nangdanangtp>
danang tp <https://connect.detik.com/dashboard/public/nangdanangtp>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4488939/politik-fesyen-dan-gaya-elite-politik-kita#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4488939/politik-fesyen-dan-gaya-elite-politik-kita#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4488939/politik-fesyen-dan-gaya-elite-politik-kita#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4488939/politik-fesyen-dan-gaya-elite-politik-kita#>
Politik Fesyen dan Gaya Elite Politik Kita Presiden Jokowi dengan
sarungnya (Foto: Rusman/Biro Pers Setpres)
*Jakarta* -
**Apa yang ingin dikatakan ketika Prabowo memakai dan mempopulerkan
kemeja safari kantong empat ala Sukarno, Gus Dur memakai kolor dan kaos
ketika lengser, Kiai Ma'ruf memilih berkalung sorban?
Gus Dur dalam sebuah wawancara ketika ditanya tentang alasannya memakai
celana kolor dan kaos oblong, berseloroh, "Itu supaya saya tidak
dianggap sebagai presiden."
Presiden identik dengan paduan jas hitam, celana bahan, dan peci hitam,
mengesankan suatu kombinasi untuk "fashion presidensial". Lalu, apakah
ketika Jokowi dalam berbagai kesempatan kampanye atau kunjungannya ke
berbagai daerah mengenakan sarung, jaket bomber, sepatu /sporty/, itu
semua untuk mengatakan agar ia tidak dianggap sebagai presiden?*
*
Saya mengamati gaya lipatan sarung yang beberapa kali dikenakan oleh
Jokowi atau Ma'ruf Amin sangat rapi, dengan lipatan jatuh yang bertumpuk
di bagian depan. Lipatan sarung tersebut jelas tidak identik dengan
sarung yang biasa dikenakan di Indonesia. Lipatan seperti itu
membutuhkan kain dengan diameter yang cukup lebar, sementara kita biasa
melilitkan sarung sekali lipat.
Tapi, sebagai fesyen, sarung model besar itu cocok untuk bereksplorasi
dengan model lipatan. Bukan tidak mungkin ada staf kepresidenan bidang
fesyen yang khusus memberikan tips melilit lipatan sarung.
Di luar soal lipatan sarung, Jokowi ketika menghadiri acara Muktamar NU
(2015) di Jombang, dan baru-baru ini ketika hadir dalam Festival Sarung
Indonesia 2019 (3 Maret 2019) mengenakan sarung warna merah dipadukan
dengan atasan kemeja putih dan jas hitam. Mengapa Jokowi memilih sarung
warna merah? Kenapa tetap menggunakan jas hitam, dan tidak memilih
kemeja atau kaos katun biasa layaknya kombinasi fesyen sarung yang
biasanya dikenakan di berbagai pesantren di Indonesia?
*Politik Bergaya atau Gaya Berpolitik*
Sejak dahulu fesyen, perpaduan mode, mulai dari pilihan baju, celana,
dan aksesoris lainnya adalah produk sosial yang punya makna politis.
Sarung merah Jokowi dengan mudah bisa kita identikkan dengan afiliasinya
pada PDIP. Perpaduan kemeja safari kantong empat, dengan tongkat komando
dan gaya orasi Prabowo, seolah ingin menegaskan makna bahwa dirinya
mewakili semangat Sukarno. Makna fesyen memang bisa diarahkan oleh
pemakainya, tetapi makna itu juga bisa menjadi ruang yang bebas
ditafsirkan orang yang melihatnya
Pada Februari 2019 Uniqlo salah satu merek fesyen terbesar dari Jepang
yang memiliki gerai di berbagai negara --termasuk Indonesia--
meluncurkan produk baru seri jaket musim semi berkerah, dan celana kain.
Seri jaket musim semi ini cepat mendapat respons di sosial media dan
beberapa surat kabar. /South China Morning Post/ misalnya, berkomentar:
"Apakah ini seri jaket militer, yang terinspirasi oleh fesyen Mao
Zedong?" Orang wajar cepat mendapatkan kesan bahwa setelan fesyen ini
terinspirasi dari Mao Zedong, sebab potongan kemeja safari dengan empat
kantong depan dan pilihan warna khaki yang menjadi unggulan produknya
memang mirip dengan fesyen Mao.
Christophe Lamaire, desainer fesyen yang mengerjakan seri jaket
tersebut, dan pihak Uniqlo menegaskan bahwa "kemiripan ini murni
kebetulan". Tidak ada maksud untuk merancang jaket musim semi tersebut
seperti pakaian pemimpin kaum proletar Mao Zedong. Mungkin ini memang
kebetulan, tapi bagi saya tentu ini kebetulan yang mengasyikkan.
Bayangkan jika produk Uniqlo tersebut sampai ke gerai-gerai di
Indonesia, apa yang terlintas di imaji dan pikiran orang Indonesia? Bisa
jadi orang Indonesia akan teringat Sukarno, yang juga mempopulerkan baju
safari empat kantong depan warna khaki. Sangat mungkin juga orang
Indonesia akan lebih teringat pada peristiwa kontemporer sosok Prabowo
Subianto. Bisa juga, imajinasi kita bersamaan langsung merujuk Sukarno
dan Prabowo, lalu menilai keduanya memiliki sikap politik yang selaras.
Pada titik ini, pilihan fesyen Prabowo menjalankan fungsinya untuk
mengartikulasikan kehendak politik tertentu, yakni "pewaris Sukarno".
Fesyen memang memiliki kekuatan untuk "berbicara" tentang politik,
meraup simpati rakyat, bahkan mencerminkan gaya berpolitik. Baju,
celana, rok, sampai perpaduan aksesoris yang kita kenakan bisa menjadi
penanda bagi identitas "kelompok kita", sekaligus secara gampang
menciptakan politik pembedaan untuk "kelompok mereka". Melalui mekanisme
seperti itu fesyen menjalankan fungsinya mengarahkan citra dan mendorong
emosi seseorang untuk mengidentifikasi bahwa dirinya satu kelompok
dengan salah satu tokoh politik tertentu, dan lawan bagi kelompok lainnya.
Benang merah antara fesyen dan artikulasi politik serta identifikasi
kelompok dan individu punya akar kuat dalam sejarah politik di
Indonesia. Pada zaman akhir kolonial menjelang revolusi kemerdekaan Kiai
Soleh Dharat, diikuti oleh Kiai Hasyim Asyari berfatwa tentang larangan
bagi seorang muslim memakai pakaian yang identik dengan penjajah --jas,
dasi, dan celana. Selain itu dalam sebuah pertemuan /Jong Java/ di
Surabaya (1921) sebagian anggota menyatakan ketidaksetujuan menggunakan
kain penutup kepala ala Jawa, dan sarung.
Anggota /Jong Java/ melihat fesyen tersebut khas kaum pribumi rendahan.
Sukarno menyampaikan ketidaksetujuan atas pendapat tersebut dan
memberikan alternatif fesyen lain. Sukarno menambah aksesoris peci hitam
sebagai simbol nasionalisme Indonesia. Sejak itu, dengan gampang kita
jumpai tokoh-tokoh pergerakan nasional di Jawa mengenakan peci hitam.
Menjadikan fesyen sebagai medium bagi artikulasi politik di dunia yang
mengglobal seperti sekarang bukan tanpa risiko. Kita harus sadar bahwa
globalisasi yang kita alami benar-benar telah menyentuh kehidupan
sehari-hari. Televisi, internet, dan teknologi komunikasi lainnya
memungkinkan orang dengan cepat mengenal Mao Zedong, mengetahui kondisi
New York, hanya dengan sekali ketik.
Ketika seseorang melihat fesyen Prabowo, sangat mungkin ia justru
mengimajinasikan bukan Sukarno, tetapi Mao Zedong, Ho Chi Minh, atau Zou
Enlai yang juga populer dengan baju safari empat kantong. Keempat tokoh
politik Asia Tenggara tersebut pernah kita tonton di televisi atau
terlintas fotonya di media sosial kita. Imajinasi kita tidak pernah
salah ketika menemukan makna lain dari fesyen yang keluar dari maksud
utama pemakainya. Globalisasi menyediakan akses bagi imajinasi untuk
berkelana lintas kawasan geografis, bahkan lintas ideologis.
Baju safari dengan empat kantong depan dan celana kain warna khaki
memang menjadi identitas para nasionalis. Bersamaan dengan itu fesyen
nasionalis tersebut juga berkelana lintas kawasan geografis. Jangan
heran jika fesyen Sukarno, Mao Zedong, Zou Enlai, Ho Chi Minh mirip,
sebab sejak dahulu kita berbagi gaya, rujukan fesyen, bahkan ideologi
dari berbagai belahan dunia.
Jas hitam yang dahulu disebut sebagai simbol penjajah kini bisa
dipadukan dengan sarung yang dulu menjadi simbol kaum pribumi rendahan.
Di satu sisi jas hitam telah memiliki makna identik dengan fesyen
presidensial, sementara sang presiden sedang ingin merebut hati kalangan
Islam Tradisional yang identik dengan sarung. Presiden menyediakan
tubuhnya untuk menjadi perlambang bagi satu sisi kekuasaan negara khas
Barat yang disimbolkan dengan jas, sambil tetap menjadi pelindung bagi
kaum Islam Tradisional yang identik dengan sarung.
Apa jadinya jika sorban, kain yang biasanya dipakai kaum muslim di leher
dipadukan dengan jas? Sama-sama seorang kiai, antara Gus Dur dan Ma'ruf
Amin kenapa beda pilihan baju presidensial? Hampir tidak pernah kita
lihat dalam penampilan publiknya Gus Dur mengenakan sorban, jubah, atau
pakaian terusan layaknya pria muslim dari kalangan pesantren. Paling
sering kita lihat Gus Dur hanya mengenakan kemeja batik dan peci hitam
yang entah sengaja atau tidak, dalam beberapa kesempatan keliatan
dipasang agak miring, berbeda dengan cara Sukarno memakai peci.
Perubahan politik seperti apa yang akan kita alami pada masa depan
dilihat dari fenomena fesyen para elite politik kita hari ini? Yang
jelas, fesyen elite politik hari ini tidak datang tiba-tiba. Fesyen itu
dikenakan untuk merespons berbagai gejala sosial politik di masyarakat.
Saya selalu teringat kata-kata lengkap Gus Dur tentang alasannya memakai
celana pendek dan kaos --"Itu supaya saya tidak dianggap sebagai
presiden, supaya orang hatinya dingin."
Politik fesyen elite kita hari ini mungkin bisa membuat hati kita
tenang. Menimbulkan perasaan pada kita bahwa elite politik tersebut
menggunakan fesyen yang sesuai simbol identitas kelompok kita. Tapi satu
hal yang perlu diingat, sebagaimana komitmen politik yang bisa
berubah-ubah sesuai kepentingan, fesyen juga produk di bawah matahari
yang kapan pun bisa diganti sesuai selera dan tujuan politik pemakainya.
*Danang T.P* /tinggal di Yogyakarta, sedang melakukan penelitian tentang
politik fesyen di Indonesia/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!