Persahabatan Jokowi-Prabowo vs golput
* PILPRES <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
* 1 menit lalu
Jokowi-Prabowo dinilai sampaikan perbedaan orientasi soal industri
4.0Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo
Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di
Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema
Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan
Internasional. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta (ANTARA) - Debat Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto
di Jakarta pada Sabtu malam, 30 Maret 2019, seharusnya membuka mata
sedikitnya 190 juta calon pemilih tentang visi, misi hingga program
kerja mereka, apabila terpilih sebagai kepala negara sekaligus kepala
pemerintahan masa bakti Oktober 2019 hingga Oktober 2024.
Rakyat, baik melalui siaran televisi, radio dan lain-lain, bisa melihat
dan mendengarkan secara langsung tentang bagaimana pandangan serta sikap
mereka di bidang ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta
hubungan luar negeri. Jokowi dan Prabowo "saling menyerang" mengenai
berbagai topik yang menjadi tema pokok debat keempat calon presiden dan
wakil presiden tersebut.
Prabowo yang merupakan purnawirawan Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Darat (TNI-AD) itu, misalnya, minta Jokowi yang masih menjadi Presiden
Republik Indonesia untuk bersikap hati-hati terhadap sikap "asal bapak
senang (ABS)" dari jenderal-jenderal di sekitarnya. Letnan jenderal
Purnawirawan tersebut berharap Jokowi untuk teliti dan waspada ketika
menerima berbagai laporan anak buahnya.
Kedua capres ini kemudian juga berdebat tentang pengelolaan berbagai
bandar udara serta pelabuhan laut. Jokowi yang berlatar belakang
pengusaha kemudian menegaskan bahwa tidak bermasalah jika bandara atau
pelabuhan yang pengelolaannya diserahkan kepada pengusaha swasta selama
pemerintah tetap melakukan pengendalian.
Pada akhir debat ini, kedua tokoh tersebut saling melontarkan
penghargaannya kepada lawan bicaranya serta selalu menyebutkan bahwa
mereka adalah tetap bersahabat. Rakyat Indonesia perlu ingat bahwa
selaku Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah beberapa kali
mengundang lawan politiknya itu untuk bertandang ke Istana Kepresidenan.
Sebaliknya masyarakat juga tahu bahwa Jokowi pernah diundang oleh
Prabowo untuk datang ke rumahnya di Hambalang, Bogor. Bahkan Jokowi
diajak naik kuda. Bisa saja Jokowi dan Prabowo sekedar berbasa- basi
dengan melontarkan kalimat bahwa diantara mereka tetap terjalin
persahabatan.
Akan tetapi masyarakat juga tetap bisa percaya bahwa sekalipun ini
adalah untuk kedua kalinya mereka bertarung dalam pemilihan presiden
tahun 2014 dan 2019 ini, mereka tetap berusaha berteman serta menjalin
silaturahim. Biar bagaimanapun juga sebagai Presiden petahana yang
sedang berkuasa, Joko Widodo adalah tetap orang Solo yang terbiasa harus
terus menunjukkan sikap menghormati dan menghargai pihak lainnya
sekalipun lawan politiknya.
Sementara itu, Prabowo Subianto juga menyadari bahwa Joko Widodo adalah
lawan tangguhnya dalam dua pilpres, apalagi selama empat setengah tahun
ini sudah lahir berbagai prestasi yang dilahirkan Kabinet Kerja.
*Tetap golput ?*
Sejak pemilihan umum tahun 1997 rakyat Indonesia sudah mengenal istilah
golput (golongan putih), yakni sekelompok orang yang mempunyai pandangan
politik atau ideologi yang berbeda, bahkan bertentangan dengan
pemerintahan yang sedang berkuasa, dalam hal itu adalah orde baru. Namun
golput tetap saja hadir hingga kini.
Ada saja alasan orang yang secara sadar masuk ke dalam kelompok golput
misalnya saat ini yang menentang ideologi Presiden Joko Widodo yang
mengutamakan pembangunan berbagai pasarana fisik mulai dari jalan tol,
jalan, jembatan dan lainnya. Di negara demokratis mana pun juga adalah
hal yang amat lumrah apabila ada warga yang berbeda dengan pemerintah
yang sedang berkuasa.
Akan tetapi karena Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden
dan Wakil Presiden serta anggota DPD RI, kemudian DPR RI hingga DPRD
Provinsi dan kota, maka pertanyaannya adalah apakah sikap golput masih
relevan?.
Setiap warga negara yang mempunyai hak pilih tentu sangat diharapkan
memanfaatkan hak politiknya secara maksimal. Karena mereka sudah
memanfatkan hak politiknya terebut maka nantinya mereka mempunyai hak
untuk mengajukan tuntutan atau permintaan kepada presiden dan anggota
lembaga legislatif.
Akan tetapi sebaliknya mereka tidak mau datang ke tempat pemungutan
suara alias TPS untuk mencoblos maka masih berhakkah mereka menuntut
berbagai hal kepada pemerintah dan juga anggota lembaga legislatif?
Memang harus diakui bahwa ada orang yang atau segelintir orang yang
dengan sangat terpaksa tidak bisa masuk ke TPS karena belum memiliki
kartu tanda penduduk (KTP) elektronik atau harus pindah tempat tinggal
sehingga tak sempat mengurus surat kepindahannya tersebut.
Karena pencoblosan surat suara tinggal belasan hari lagi, maka sekitar
190,7 juta calon pemilih sebaiknya sudah memiliki gambaran tentang
gambar siapa yang bakal dicoblosnya. Mudah-mudahan tinggal sedikit warga
yang masih termasuk "kelompok mengambang" (swing voter) dan kelompok
calon pemilih yang masih belum menentukan siapa yang bakal dipilihnya
(undecided voter).
Rakyat pada tanggal 13 April mendatang masih bisa menonton satu kali
lagi tentang calon kepala negara dan wakil presiden favoritnya. Jadi
saksikanlah lagi satu debat terbuka guna memuluskan pencoblosan pada 17
April mendatang. Janganlah dengar rayuan "gombal" kelompok golput untuk
tidak memilih.
Jadilah seorang warga negara Indonesia (WNI) yang baik dengan memilih
presiden dan wakil presiden terbaik dan terpercaya karena tantangan
selama lima tahun mendatang sangat banyak dan amat menyulitkan. Masih
sangat banyak orang di Tanah Air tercinta ini yang hidup dengan 1001
macam kesusahan.
Dengan mendengarkan debat capres sambil berpaling dari golput, maka
gunakan hati nurani untuk memilih pemimpin-pemimpin NKRI yang amanah,
yang siap berjuang 100 persen bagi masyarakat Indonesia dan tanpa
melakukan korupsi ataupun gratifikasi.
**) Arnaz Ferial Firman adalah wartawan LKBN Antara tahun 1982-2018,
pernah meliput kegiatan kepresidenan tahun 1987-2009.*
*Baca juga:Kemarin, gerak-gerik capres hingga mobil baru Kia-Blackpink
<https://www.antaranews.com/berita/818389/kemarin-gerak-gerik-capres-hingga-mobil-baru-kia-blackpink>
Baca juga:PPIT beri catatan positif wawasan internasional kedua capres
<https://www.antaranews.com/berita/818343/ppit-beri-catatan-positif-wawasan-internasional-kedua-capres>*
Pewarta:Arnaz Ferial Firman *)
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com