http://mediaindonesia.com/read/detail/226688-membangun-kepekaan-sosial-mengajarkan-perdamaian
/*Membangun Kepekaan Sosial, Mengajarkan
*/
/*Perdamaian*/
Penulis: *Dody Wibowo Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Perdamaian
di The University of Otago, Selandia Baru* Pada: Senin, 01 Apr 2019,
07:05 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/226688-membangun-kepekaan-sosial-mengajarkan-perdamaian>
<http://twitter.com/home/?status=Membangun Kepekaan Sosial,
Mengajarkan Perdamaian
http://mediaindonesia.com/read/detail/226688-membangun-kepekaan-sosial-mengajarkan-perdamaian
via @mediaindonesia>
Membangun Kepekaan Sosial, Mengajarkan Perdamaian
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/04/828365cf66d0881816a83095367b77a4.jpg>
/MI/Seno/
Ilustrasi MI
"APA yang ingin Anda lihat dari anak didik Anda 15 atau 20 tahun
mendatang?" saya ajukan pertanyaan itu kepada beberapa guru. Jawaban
yang mereka berikan serupa, yaitu ingin agar anak-anak didik bisa meraih
cita-citanya, memiliki karakter yang baik, sukses, atau juga membuat
lapangan kerja sendiri.
Ada juga yang menambahkan, ingin agar anak-anak didik mereka bisa
bermanfaat untuk keluarganya dan orang-orang terdekatnya. Hampir
semuanya berfokus pada keberhasilan anak didiknya sebagai makhluk
individu. Sangat sedikit guru yang menjawab ingin melihat anak didik
mereka menjadi orang yang bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah
sosial di masyarakat. Mungkin ini tidak bisa mewakili jawaban dari
seluruh guru di Indonesia, tetapi tidak dimungkiri masih ada guru-guru
yang berpandangan seperti itu.
Apakah pendidikan seperti ini yang kita inginkan? Anak didik yang
berhasil sebagai makhluk individu, tetapi kurang terlatih sebagai
makhluk sosial. Anak didik yang mengedepankan sikap kompetitif untuk
keberhasilan diri, bukan anak didik yang mampu membangun perilaku
kooperatif dan kolaboratif, yang menyadari bahwa mereka hidup
berdampingan dengan orang dan makhluk hidup lain dan perlu menjaga
kelangsungan hidup bersama. Anak didik yang mampu memanfaatkan sumber
daya untuk kesuksesannya, bukan anak didik yang sadar bahwa mereka harus
memperhatikan juga kebutuhan generasi masa depan sehingga mereka akan
menggunakan sumber daya secara bijak dan menjamin keberlanjutannya.
Beberapa kegiatan pembelajaran di sekolah masih dirancang untuk
memperkuat anak didik sebagai makhluk individu dan belum diimbangi
dengan penekanan pada pentingnya anak didik untuk bisa bertindak sebagai
makhluk sosial. Beberapa guru masih melihat kegiatan pembelajaran di
kelas sebagai fenomena yang terpisah dari situasi yang ada di luar kelas
maupun sekolah. Jika ada guru menggunakan masalah sosial di masyarakat
sebagai contoh kasus dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan contoh
tersebut bukan didasari atas kesadaran bahwa kegiatan pembelajaran di
kelas punya kaitan dengan kehidupan di luar kelas, tetapi lebih pada
memenuhi kewajiban kurikulum yang mensyaratkan penggunaan contoh
tersebut dalam kegiatan pembelajaran.
UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan tujuan
keseimbangan yang ingin dicapai melalui pendidikan nasional; anak didik
yang berhasil sebagai makhluk individu dan sekaligus berperan aktif
dalam posisinya sebagai makhluk sosial. Untuk itu, kita perlu melakukan
transformasi pada kegiatan pendidikan kita.
*Tiga bentuk kekerasan*
Transformasi kegiatan pendidikan yang membuat anak didik sadar atas
perannya sebagai makhluk sosial, dimulai dengan mengasah kepekaan sosial
mereka sejak dini. Anak didik perlu menumbuhkan kepekaannya pada isu-isu
politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan lainnya yang
memengaruhi bukan hanya kehidupan pribadi, melainkan juga masyarakat
luas hingga tingkat global. Untuk itu, anak didik perlu dibekali dengan
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang menunjang, yang ketiganya
bisa ditemukan dalam konsep pendidikan perdamaian.
Pendidikan perdamaian oleh sebagian orang dimaknai sebagai pendidikan
yang bertujuan membuat individu mampu menyelesaikan masalah-masalah
interpersonal secara damai. Akan tetapi, jika kita mengacu pada
pengertian damai yang disampaikan Johan Galtung, seorang peneliti
perdamaian, mengenai perdamaian positif, perdamaian memiliki makna yang
lebih luas. Galtung (1990) menyatakan bahwa perdamaian positif adalah
kondisi yang bukan hanya tidak terjadi lagi kekerasan langsung yang
bersifat fisik, verbal, dan psikis seperti yang terjadi dalam perang dan
konflik dengan kekerasan lainnya, melainkan juga ketika tidak ada lagi
kekerasan struktural dan kekerasan kultural.
Kekerasan struktural merupakan kekerasan yang tersembunyi dalam struktur
kekuasaan, dibangun dan terwujud dalam bentuk distribusi kekuasaan yang
tidak seimbang, dan sebagai hasilnya ialah munculnya ketidakseimbangan
kesempatan bagi anggota masyarakat dalam memenuhi hak-hak dasarnya,
seperti masyarakat yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dan
pendidikan dikarenakan sistem pemerintahan yang tidak berjalan dengan
semestinya. Sementara itu, kekerasan kultural dipahami sebagai bagian
dari budaya yang dapat disalahgunakan untuk memperbolehkan penggunaan
kekerasan langsung maupun kekerasan struktural. Kekerasan kultural
melibatkan perasaan, norma, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh
masyarakat, seperti diskriminasi oleh masyarakat terhadap
kelompok-kelompok tertentu, atau adanya pemahaman masyarakat yang salah,
tetapi masih dilanggengkan, seperti pembatasan terhadap hak-hak perempuan.
Dengan menggunakan definisi perdamaian positif tadi, pendidikan
perdamaian bisa dimaknai sebagai pendidikan untuk membekali individu
dengan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang bisa digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah kekerasan langsung, struktural, dan
kultural, yang menjadi sumber ketiadaan perdamaian di masyarakat. Lalu,
apa saja pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang perlu diajarkan
dalam pendidikan perdamaian?
*Perilaku damai*
Castro dan Galace (2010) memberikan beberapa alternatif pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku damai yang bisa diajarkan kepada anak didik.
Dalam lingkup pengetahuan, kita perlu mengajarkan pemahaman tentang
perdamaian yang menyeluruh; perdamaian yang bukan hanya ketika tidak ada
lagi peperangan, melainkan juga ketika berbagai masalah di masyarakat
yang bersumber dari kekerasan struktural dan kultural juga terselesaikan.
Anak didik juga perlu untuk memahami perbedaan antara konflik dan
kekerasan. Konflik bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan
perlu diselesaikan dengan cara nirkekerasan. Jika konflik bisa
diselesaikan dengan cara nirkekerasan, bisa memberikan pembelajaran yang
positif. Anak didik perlu mengenal berbagai konsep seperti,
nirkekerasan, transformasi konflik, dan pembangunan yang berkelanjutan.
Selain pengetahuan, anak didik juga perlu untuk memiliki beberapa
keterampilan dasar yang bermanfaat untuk mewujudkan perdamaian.
Keterampilan-keterampilan tersebut meliputi kemampuan berpikir reflektif
yang membantu anak didik memahami dirinya dengan lebih baik dan
menyadari relasi antara dirinya dan orang serta makhluk lain. Anak didik
juga perlu memiliki kemampuan analisis dan berpikir kritis,
berkomunikasi yang efektif, mengambil keputusan, berpikir kreatif,
mengelola konflik, membangun empati, dan bekerja dalam kelompok.
Pengetahuan dan keterampilan tadi perlu dilengkapi dengan perilaku yang
mendukung. Untuk itu, anak didik perlu diajarkan dan dibiasakan dengan
perilaku-perilaku seperti menghargai diri sendiri, menghargai orang
lain, menghargai hak hidup setiap makhluk, menjunjung kesetaraan gender,
kasih sayang, peduli pada dunia, peduli pada lingkungan, kerjasama dan
kolaborasi, keterbukaan dan toleransi, keadilan, tanggung jawab sosial,
dan memiliki visi yang positif.
*Peran pendidik*
Untuk mendampingi anak didik bertansformasi menjadi manusia yang
berkembang dari sisi individu dan sosialnya, para pendidik juga perlu
menginternalisasi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku di atas.
Pendidik, dalam hal ini guru di sekolah dan orangtua di rumah akan
menjadi /role model/ bagi anak didik. Selain itu, para pendidik juga
perlu memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku damai dalam kegiatan belajar dan pembiasaan
dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di luar
sekolah.
Salah satu contoh bentuk kegiatan sederhana, tapi bermakna yang bisa
dilakukan ialah mengajak anak didik untuk mengingat satu fenomena sosial
yang terkait dengan kekerasan langsung, kekerasan struktural, atau
kekerasan kultural, yang dia lihat dalam perjalanan menuju atau sepulang
sekolah. Fenomena tersebut digunakan sebagai bahan diskusi kritis untuk
membahas mengapa situasi tersebut terjadi dan apa solusi kreatif yang
bisa diambil untuk merespon situasi tersebut. Pembiasaan diskusi
mengenai fenomena sosial ini jika dilakukan secara kontinu, akan
membantu anak didik untuk membangun kepekaan sosialnya. Selain itu, jika
para pendidik bisa berpikir kreatif, mereka bisa membantu anak didik
untuk memahami relasi antara apa yang mereka pelajari di dalam kelas dan
fenomena sosial di masyarakat.
Pada akhirnya, kita semua harus menyadari tidak hidup sendiri dan tidak
bisa hidup sendiri. Perlu disadari apa yang kita lakukan secara individu
akan berdampak pada lingkungan sosial. Ketika ingin hidup damai, kita
juga harus mengajak dan membuat lingkungan menjadi damai. Semua itu
diawali dari kepekaan kita atas perdamaian yang menyeluruh.