Eropa Mengidap“Penyakit Takut Tiongkok”

2019-04-02 16:36:11 http://indonesian.cri.cn/20190402/b346f875-f9ba-79f2-b8d8-2e50f78c3fa9.html

 “Kita tak boleh histeris dan “penyakit takut Tiongkok” yang ada sekarang tidak beralasan”. “Bagaimanapun, Eropa tak boleh membangun tembok pertahanan”

Inilah peringatan dari Presiden Federasi Perdagangan Internasional, Grosir, dan Jasa Jerman BGA Holger Bingmann berkenaan dengan “penyakit takut Tiongkok” dan perubahan kebijakan industri Eropa.

 Menurut Kantor Reuter, Jerman dan Perancis baru-baru ini menganjurkan pemerintah untuk memainkan peranan lebih besar dalam kebijakan industrinya dan berharap memupuk perusahaan juara untuk menghadapi persaingan dari Tiongkok dan AS, dan kedua negara juga menuntut pemerintah untuk mengambil langkah dalam mendorong inovasi dan melindungi industri penting.

 Baru-baru ini, Italia dan Tiongkok menandatangani MoU kerja sama Satu Sabuk Satu Jalan dalam rangka meningkatkan sinergi strategi pembangunan. Langkah Italia tersebut bertujuan untuk memenangkan lebih banyak investasi Tiongkok di Italia dan mengembangkan infrastrukturnya yang relatif terbelakang dengan lebih baik dan berharap dapat menjual lebih banyak produk Italia ke pasar Tiongkok dan negara-negara sepanjang Sabuk dan Jalan. Akan tetapi, hal ini memancing sejumlah tokoh Eropa dan mengundang tanggapan yang negatif. Misalnya, mereka berpendapat bahwa kerja sama Tiongkok-Italia telah memisahkan Eropa dan khawatir bahwa investasi Tiongkok di Uni Eropa akan memungkinkan terus bertumbuhnya dampak ekonomi Tiongkok. Singkat kata, mereka rupanya mengidap “penyakit takut Tiongkok”.

 Padahal, jika memandang kerja sama tersebut secara umum dengan sudut pandang yang lebih besar, pengertiannya mungkin akan berbeda. Di bidang politik luar negeri, Tiongkok dan Eropa mengejar sebuah dunia multipolaris. Dalam situasi yang bergejolak dewasa ini, Tiongkok dan Eropa menjadi mitra strategis yang bekerja sama dengan erat pada banyak masalah internasional yang penting. Pada masalah pemeliharaan sistem perdagangan multilateral dunia, Tiongkok dan Eropa memiliki pandangan yang sama atau hampir sama. Boleh dikata, kerja sama Tiongkok dan Eropa memainkan peranan penting yang tak dapat dikurangi dalam memelihara tata tertib dunia yang berdasarkan peraturan.

Menurut media Jerman, ekspor perusahaan Jerman ke Tiongkok tahun lalu tercatat lebih dari 93 miliar Euro, Perancis 21 miliar Euro dan Italia 19 miliar Euro. Ternyata, untuk menutupi kesenjangan, Italia memutuskan untuk ikut serta dalam inisiatif dan aksi Satu Sabuk Satu Jalan. Langkah Italia tersebut selain merupakan urusan sebuah negara yang berdaulat, juga merupakan pilihan wajar untuk mengembangkan ekonominya sendiri.

Yang patut ditunjukkan, banyak orang Eropa yang selalu membesar-besarkan perkembangan Tiongkok, sehingga rasa gelisah timbul karena kekurangan bukti nyata.

  Tak dapat disangkal, seiring dengan perkembangan ekonomi ke arah mutu tinggi, Tiongkok pasti akan memperkecil kesenjangan dengan negara-negara maju termasuk negara-negara Uni Eropa. Apakah perlu takut pada sebuah negara Tiongkok yang kaya ini? Kenyataannya justru sebaliknya. Justru seperti apa yang diperingatkan oelh Holger Bingmann dalam wawancaranya dengan media Jerman, “pangsa perusahaan Jerman dalam bisnis di Tiongkok kini telah melampaui 40 persen, Jerman bukan korban melainkan salah satu negara yang paling beruntung dalam pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

 Bingmann mengatakan, publik tidak boleh menutup diri melainkan meningkatkan daya saing perusahaan. Hal ini meliputi peningkatan investasi di bidang infrastruktur digital dan infrastruktur lalu lintas serta penelitian dasar.

Asosiasi Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan Jerman hari Jumat lalu (29/3) didirikan secara resmi. Asosiasi tersebut berpendapat, hanya dengan aktif berpartisipasi dalam inisiatif Satu Sabuk Satu Jalanlah Jerman baru dapat memperoleh keuntungan.




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke