Merayakan Demokrasi Indonesia
<https://www.antaranews.com/slug/merayakan-demokrasi-indonesia>
Menggairahkan pesta demokrasi orang laut Bangko
Oleh Hernawan Wahyudono dan Sharif Santiago Kamis, 4 April 2019 09:19 WIB
Menggairahkan pesta demokrasi orang laut Bangko
Kehidupan warga Desa Bangko, Sulawesi Tenggara, akrab dengan laut karena
perkampungan mereka memang didirikan di alas laut. (Sharif Santiago)
Kalau ini (pengurusan e-KTP) bisa terlaksana tentunya jumlah DPT Desa
Bangko akan bertambah dan partisipasi pemilih akan meningkat
dibandingkan pemilu sebelumnya
Kendari (ANTARA) - Pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia pada 17
April mendatang tidak hanya milik warga di daratan saja, tetapi penduduk
di kepulauan yang kehidupan sehari-harinya lekat dengan laut juga
memiliki hak dan kewajiban sama untuk menyukseskan Pemilu 2019.
Warga Desa Bangko Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat merupakan salah
satu desa di Provinsi Sulawesi Tenggara yang berada di atas laut. Mereka
membangun rumah sekaligus beraktivitas di atas air, termasuk sekolah
dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sedangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
(SMA) mereka harus keluar dari lingkungan rumahnya di wilayah Muna
Barat, termasuk sesekali mereka pergi ke daratan (Muna Barat) untuk
membeli kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang di rumahnya
berdagang.
Desa Bangko di Kabupaten Muna Barat ini harus ditempuh dari Kota
Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan naik kapal feri
milik Pelni sekitar lima hingga enam jam untuk sampai di Raha, Kabupaten
Muna. Kemudian dilanjutkan dengan jalan darat sekitar 20 menit hingga 30
menit untuk sampai di ibu kota Kabupaten Muna Barat.
Perjalanan masih belum berakhir karena harus meneruskan melalui darat ke
dermaga penyeberangan di Desa Barakkah Kecamatan Tiworo Selatan sekitar
satu hingga dua jam lamanya.
Dari dermaga Desa Barakkah kembali harus menyeberang ke Desa Bangko
dengan naik perahu kecil, lebih dikenal dengan perahu "ketinting" yang
bisa memuat tiga sampai lima orang termasuk nahkodanya. Dengan perahu
yang digerakkan dengan mesin, hanya sekitar 15 menit untuk sampai ke
Desa Bangko, tentu saja tergantung kondisi ombak di lautan.
Meskipun berada di atas lautan, Desa Bangko memiliki struktur organisasi
pemerintahan sama dengan desa-desa lainnya mulai dari kepala desa hingga
perangkat di bawahnya. Aktivitas di desa yang dihuni sekitar 1.500
penduduk tersebut sama dengan warga daratan lainnya, hanya saja mata
pencaharian penduduk di sini adalah nelayan khusus bagi kaum laki-laki
sedangkan istri di rumah ada yang membuka warung kebutuhan sehari-hari.
Penduduk yang mendiami Desa Bangko ini tidak hanya dari Suku Bajoe
tetapi sudah bercampur dengan warga pendatang dari daerah lain tetapi
mereka tetap hidup berdampingan secara damai.
Mereka sudah membaur menjadi satu sebagai warga Desa Bangko. Dan yang
paling menonjol dari kehidupan mereka adalah mereka saling kenal satu
dengan lainnya mengingat hanya ada satu pintu dermaga untuk keluar dari
desa tersebut.
"Kalau dulu memang yang tinggal di sini adalah Suku Bajoe tetapi
sekarang ini sudah bercampur ada Bugis, Makassar, Muna, dan lain
sebagainya. Mereka membaur menjadi satu dalam satu profesi yaitu
nelayan," kata Kepala Desa Bangko, Hayal, yang ditemui di rumahnya.
*Baca juga:Membelah laut demi mulusnya pesta demokrasi
<https://www.antaranews.com/berita/817667/membelah-laut-demi-mulusnya-pesta-demokrasi>*
Anak-anak warga Desa Bangko Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat baru
saja tiba di desanya menggunakan perahu katinting. (Sharif Santiago)
*Geliat Pemilu*
Hiruk pikuk pemilu yang tinggal menghitung hari di Desa Bangko ini
berbeda dengan daerah lain, nyaris tidak ada bendera atau
lambang-lambang partai di kawasan desa tersebut, bahkan gambar caleg
yang terpampang di dinding-dinding rumah juga tidak terlalu banyak dan
bisa dihitung dengan jari tangan.
Kalaupun ada gambar caleg yang terpasang di dinding rumah warga adalah
caleg dari desa setempat yang maju untuk pemilihan caleg DPRD Kabupaten
Muna Barat.
Meskipun geliat pesta demokrasi lima tahun tidak begitu dirasakan oleh
warga Desa Bangko bukan berarti mereka apatis terhadap pemilu. Mereka
tahu dan mengerti kalau pada tanggal 17 April adalah hari pencoblosan
Pemilu 2019 dan tetap akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyalurkan
suaranya.
"Saya mengerti kalau tanggal 17 April mendatang adalah saatnya kita
menyalurkan suaranya tetapi sampai kini saya belum tahu arahnya," kata
Emba (50).
Apa yang dirasakan Emba sama dengan yang dirasakan Ny Nadira (20) warga
Desa Bangko yang sehari-harinya berjualan barang kebutuhan sehari-hari
untuk membantu suaminya yang berprofesi sebagai nelayan.
"Saya ndak ngerti....saya ndak ngerti pada pencoblosan nanti memilih
siapa. Di desa ini ada tetangga yang mencalonkan diri sebagai caleg
tetapi di luar sana ada juga saudaranya yang maju sebagai caleg," kata
ibu satu putra berumur empat tahun itu.
Ny Nadira dan warga yang lainnya tentu berharap ada sosialisasi lagi
dari KPU Muna Barat. "Bagaimana kita bisa mencoblos kalau tidak
diketahui nama calon," katanya.
Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPU setempat dan aparat
terkait untuk lebih mensosialisasikan soal pemilu kepada masyarakat Desa
Bangko karena pada Pemilu 2019 ini dilakukan serentak yaitu memilih
Presiden-Wakil Presiden, memilih anggota DPR RI, memilih anggota DPRD
Provinsi, memilih DPRD Kabupaten/Kota, dan memilih Dewan Pimpinan Daerah
(DPD) RI.
Sosialisasi ini sangat diperlukan masyarakat Desa Bangko supaya mereka
bisa menyalurkan hak pilihnya sesuai dengan hati nuraninya. "Sosialisasi
yang dilakukan KPU Muna Barat memang sudah dilakukan sekali kepada
masyarakat Desa Bangko," kata Kepala Desa Hayal.
Memang sosialisasi yang dilakukan KPU baru sekali, tetapi aparat desa
secara terus menerus melakukan sosialisasi kepada warganya baik dalam
pertemuan formal maupun nonformal dengan melakukan/door to door/. "Kami
masih butuh sosialisasi lagi dari KPU, tetapi kami juga melakukan
sosialisasi kepada warga baik saat pertemuan warga atau melalui
informal," kata Hayal.
Melalui sosialisasi ini, Kepala Desa Bangko Hayal merasa optimistis
bahwa partisipasi pemilih pada pemilu mendatang tetap terjaga. Pada
pemilu sebelumnya, partisipasi pemilih di Desa Bangko mencapai 80 persen
dan untuk Pemilu 2019 ini diharapkan bisa lebih.
Berdasarkan data di kantor Kepala Desa Bangko disebutkan bahwa penduduk
desa ini mencapai 1.500 orang dan yang masuk dalam daftar pemilih tetap
(DPT) sebanyak 845 orang. "Sebenarnya jumlah DPT ini bisa bertambah
karena warga yang usianya di atas 17 tahun masih cukup banyak tetapi
mereka belum memiliki E-KTP," kata Hayal.
Hayal tak henti-hentinya mendorong warga yang berusia 17 tahun ke atas
untuk segera melakukan perekaman e-KTP. "Saya terus mendorong warga di
sini yang usianya di atas 17 tahun dan belum ber-e-KTP untuk segera
mengurusnya. Kalau ini (pengurusan e-KTP) bisa terlaksana tentunya
jumlah DPT Desa Bangko akan bertambah dan partisipasi pemilih akan
meningkat dibandingkan pemilu sebelumnya," katanya.
Bukan perkara mudah untuk meningkatkan partisipasi pemilih di desa yang
penduduknya berprofesi sebagai nelayan karena mereka disibukkan dengan
mencari ikan di laut. "Saya kira sebenarnya tidak ada persoalan karena
saat pencoblosan kan ada waktunya, misalnya jam sekian sampai sekian,
jadi tidak saat tertentu mereka bersamaan datang ke TPS," kata Hayal.
Pengalaman pada pemilu atau pilkada sebelumnya, penduduk silih berganti
mendatangi TPS untuk menyalurkan hak pilihnya. Petugas TPS juga siap
untuk mendatangi warga jika ada yang belum menggunakan hak pilihnya.
"Petugas akan mendatangi warga dan mengingatkan untuk segera datang ke
TPS," katanya.
*Baca juga:Merayakan demokrasi di tanah gusuran
<https://www.antaranews.com/berita/819004/merayakan-demokrasi-di-tanah-gusuran>*
Oleh Hernawan Wahyudono dan Sharif Santiago
Editor: Zita Meirina
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com