https://cnnindonesia.com/ekonomi/20190403154306-98-383190/tahir-crazy-rich-surabaya-yang-benci-orang-kaya?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop



Tahir, 'Crazy Rich Surabaya' yang Benci Orang Kaya

*Dinda Audriene*, CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 09:59 WIB


Dato Sri Tahir saat ini menempati posisi keenam orang terkaya di Indonesia
versi Majalah Forbes. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama).

Jakarta, CNN Indonesia -- Ucapan adalah doa. Ungkapan ini mungkin bisa
mewakili kisah hidup *orang terkaya
<https://www.cnnindonesia.com/tag/orang-terkaya>*ke-6 di Indonesia versi
Majalah *Forbes* <https://www.cnnindonesia.com/tag/forbes>, Dato Sri *Tahir
<https://www.cnnindonesia.com/tag/tahir>*.

Puluhan tahun silam, pengusaha kelahiran Surabaya ini pernah asal
*nyeplos* akan
membalap kesuksesan mertuanya, pemilik Lippo Group Mochtar Riady. Usianya
saat itu masih 22 tahun. Jiwa mudanya masih kental.

Jangankan punya cita-cita menjadi orang kaya. Ia bahkan tak punya rencana
matang untuk membangun sebuah kerajaan bisnis seperti Mochtar.

Ucapan tersebut muncul begitu saja ketika sang mertua memberitahu bahwa
menantu dilarang masuk ke bisnis keluarga. Kebetulan, saat itu Tahir masih
kuliah di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.


Siapa sangka, ucapan Tahir menjadi kenyataan. Ia kini menempati posisi
keenam orang terkaya di Indonesia, menyalip sang mertua yang berada di
posisi 12.




Total kekayaannya kini mencapai US$4,5 miliar atau setara Rp63 triliun
(kurs Rp14.000 per dolar AS). Sementara, jumlah harta Mochtar sebesar
US$2,3 miliar atau Rp32,2 triliun.

Kejayaan itu diraih dengan susah payah. Ayah empat anak ini pernah jatuh
bangkrut hingga terlilit utang jutaan dolar AS saat menjalani usahanya
dulu.

Tahir memang bukan dilahirkan dari keluarga konglomerat. Ayahnya dulu
seorang juragan becak dan sang ibu menjaga toko sederhana. Beberapa
kejadian tak enak pun pernah dialaminya saat kecil.

"Bapak saya menyewakan 20 becak ke orang Madura, jadi setiap hari ada
setoran. Tapi kalau tidak ditagih tidak bayar, jadi ayah saya *nungguin* untuk
minta setoran," cerita Tahir kepada* CNNIndonesia.com*, Rabu (27/3).

Orang yang menyewa becak dari ayah Tahir marah karena terus ditagih. Orang
tersebut bahkan pernah melempar batu dan mengenai kepala ibunya hingga
bocor.

"Ini cerita masa kecil saya, jadi habitat saya adalah orang yang tidak
mampu," imbuh dia.
Lihat juga:

 Forbes: Harta 10 Orang Terkaya di Indonesia Rp1.200 Triliun
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181213115038-92-353354/forbes-harta-10-orang-terkaya-di-indonesia-rp1200-triliun/>


Itu bukan satu-satunya kejadian nahas yang menimpa keluarga Tahir, ayah dan
ibunya juga sering dihina, diremehkan, dan ditekan oleh orang lain. Dia
mengetahui semua itu karena mendengar obrolan kedua orang tuanya saat kecil.

Pengalaman pahit masa kecilnya membuat Tahir mengaku benci dengan orang
kaya. Ia pun tumbuh dengan rasa 'dendam', ingin membuktikan kepada semua
orang bahwa bisa menjadi seseorang di kemudian hari.

"Karena saya orangnya *fighter,* saya dendam. Suatu hari saya bales. Tapi
dendam ini kan bisa *positive* dan *negative effect*," terang Tahir.

Meski kini ia masuk dalam daftar orang terkaya, Tahir mengaku sering kali
masih tak nyaman bergaul dengan orang kaya. "Orang kaya itu menindas,
merampas hak orang. Jadi saya tidak senang. Saya dengan gamblang bilang
tidak senang dengan orang kaya," tegas dia.

Walau hidup tak berlebihan saat kecil, ia mengaku selalu diajarkan kebaikan
kepada sesama dan taat kepada ajaran Tuhan oleh orang tua. Khusus dari sang
ibu, Tahir dilatih bekerja keras dalam keadaan apapun. Hingga kini, ibunya
yang berusia hampir 89 tahun bahkan masih aktif bekerja di salah satu
kantor cabang Bank Mayapada.

Dato Sri Tahir. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)


Pria penyuka makanan asli Indonesia ini awalnya memiliki cita-cita menjadi
seorang dokter. Alasannya cukup sederhana, ia ingin dapat bekerja secara
mandiri. Dengan menjadi dokter, Tahir berniat membuka praktek di depan
rumah sehingga tak perlu bekerja di bawah orang lain.

"Tapi yang paling penting, dokter itu bisa berbuat baik tanpa keluar uang,"
katanya.

Untuk merealisasikan impiannya, Tahir sempat kuliah di Taiwan. Namun, ia
mengaku kala itu tak betah dan merasa tak cocok menjalani pendidikan di
negara itu. Takdir pun bersambut, ia harus kembali ke Tanah Air usai
mengetahui sang ayah sedang sakit lewat sepucuk surat yang dikirim dari
Indonesia.

Meski keadaan sang ayah mulai membaik, Tahir enggan meneruskan
pendidikannya di Taiwan. Ia malah mencoba peruntungan dengan tinggal dan
berdagang di Singapura. Saat itu, ia mendapat modal dari sang ibu yang kala
itu sudah mulai mapan usahanya sebesar Rp700 ribu.

"Itu pengalaman yang bagus untuk saya, saya ke Singapura tinggal di losmen.
Jadi inang-inang (berdagang). Itu sendiri ya, kesendirian itu membuat saya
tabah hari ini," terang Tahir.
Lihat juga:

 Tahir Tukar Dolar AS dan Singapura ke Rupiah Setara Rp2 T
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181015140128-78-338556/tahir-tukar-dolar-as-dan-singapura-ke-rupiah-setara-rp2-t/>


Saat baru mulai berdagang di Singapura, ia mengaku tak pandai berbicara
bahasa Inggris. Hanya beberapa kata yang dihafal oleh Tahir, misalnya *how
much* dan *discount*. Tapi, bukan Tahir namanya kalau menyerah karena hal
sepele.

Biasanya, ia membawa satu sampai dua koper untuk diisi dengan berbagai
barang dari Singapura dan dijual di Indonesia. Pekerjaan itu dijalani
sampai dua tahun lamanya. Bahkan, setelah diterima di kampus terbaik
Singapura, Nanyang Technological University dan menikah dengan Rosa Riady.

"Karena saya berdagang dan sering mondar-mandir Jakarta-Singapura, saya
bahkan sempat dicurigai sebagai mata-mata," cerita dia.

Lulus dari Nanyang, Tahir mulai membangun bisnis *leasing* yang menjual
sekaligus memberikan kredit mobil. Nama Mayapada mulai digunakan untuk
bisnis tersebut.

"Waktu itu dagang mobil Suzuki, tapi lalu bangkrut," kenang Tahir.
Lihat juga:

 Cermat Investasi Demi jadi 'Crazy Rich' saat Pensiun
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190223070057-83-371989/cermat-investasi-demi-jadi-crazy-rich-saat-pensiun/>


Tahir saat itu bahkan sempat terlilit utang hingga lebih dari US$10 juta.
Ia kemudian ditawari Mochtar untuk mengurus bisnis garmen mertuanya itu
hingga berhasil melunasi utangnya di bank.

Ia kemudian mulai membangun kembali bisnisnya. Pada1989, ia mengajukan izin
ke Bank Indonesia (BI) untuk membangun Bank Mayapada. Dengan bantuan oleh
beberapa pihak, Tahir berhasil memperoleh izin.

Tahir tak hanya dikenal sebagai pengusaha, ia juga kerap dikenal sebagai
filantropis. Dia bahkan masuk dalam jajaran orang terkaya dunia yang
berkomitmen memberikan 50 persen hartanya untuk membantu masyarakat.

Lantas, bagaimana sebenarnya cerita lengkap perjuangan kisah hidup Tahir,
simak wawancara *CNNIndonesia.com* dengan Tahir di halaman berikut.


*Tumbuh dengan Rasa Minder*

*Bagaimana kehidupan masa kecil Anda?*

Saya waktu kecil, ada satu hal yang terus melekat dan mungkin baru hilang
beberapa tahun yang lalu yaitu merasa minder atau rendah diri. Itu cukup
kental. Sebenarnya tidak bagus ya untuk masa pertumbuhan (anak), tidak
baik. Makanya saya bilang sekarang, kalau mendidik anak itu dengan suka
cita. Dulu kan orang tua saya tidak memiliki kemampuan itu.

Tapi untungnya saya sekolah, sehingga bisa menerobos apa yang tadinya bisa
menjatuhkan saya, yakni rasa rendah diri. Tapi kan tidak semua orang
memiliki kemampuan seperti itu. Kalau dia minder, dendam, dia menjadikan
itu negatif juga bisa saja.


Tapi saya jadikan rasa ini (rasa rendah diri) sebagai motivasi untuk
mencari loncatan-loncatan yang lebih baik. Itu hal yang penting untuk hidup
sebenarnya. Saya jadikan energi positif, lalu bisa saya capai sampai hari
ini.


*Rasa minder seperti apa yang Anda rasakan? *
Yang membuat saya minder itu adalah apa yang saya lihat dan dengar sendiri
dari orang tua. Obrolan antara papa sama ibu, banyak merasa ditekan, Mereka
kesulitan, dihina orang, diremehkan. Jadi itu terus menjadi suatu
pendidikan secara informal menurut saya.

Orang tua saya sebenarnya tidak kasih tahu bahwa mereka dihina orang, tapi
memang cerita kalau sedang susah berdagang, tidak dapat uang.

Sekarang kalau saya* flashback* itu seperti tidak bagus untuk pendidikan,
tapi itu fakta dalam kehidupan saya. Orang tua saya juga mungkin tidak
sengaja mau mengajari anaknya demikian. Jadi, menurut saya itulah kepahitan
yang saya timbun dalam hidup.
Lihat juga:

 Mempersiapkan Uang Kuliah Anak Sejak Dini
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190325202646-83-380603/mempersiapkan-uang-kuliah-anak-sejak-dini/>


*Apa pekerjaan yang ditekuni oleh orang tua?*

Pertama kan mereka jadi juragan becak. Lalu mulai hidup baik itu ketika
ayah saya diangkat sama kakak perempuannya menjadi pengusaha tekstil. Sejak
itu, kehidupan saya agak mendingan.

Sebenarnya kehidupan saya oke-oke saja. Walaupun orang tua saya juragan
becak, saya tidak pernah lapar ya, tidak pernah kekurangan. Kalau
kekurangan materi pasti ada, ambil contoh kalau saya pulang sekolah itu
kadang-kadang tidak punya uang jajan. Kalau merasa haus saya menunggu teman
mentraktir dulu.

*Apakah kepahitan hidup ini yang membuat akhirnya Anda membenci orang kaya?*

Saya benci orang kaya sejak kecil, karena itu lebih banyak orang tua saya
yang mewarisi. Mereka kan sering mengobrol tadi ya, cerita kok tadi ketemu
orang *diginiin* (diremehkan). Karena saya orang tegar, saya dendam. Suatu
hari akan saya bales. Balasnya terserah, apa dengan prestasi atau seperti
apa.


*Apa yang ditanamkan oleh orang tua sejak kecil?*
Ayah saya meletakkan pondasi bagaimana jadi orang baik. Ayah saya tidak
pernah mau merugikan orang, kerja yang benar. Ibu saya mengajari untuk
*fighting
spirit,* beliau umur 89 tahun masih bekerja.

Ayah saya sangat *gentlemen,* kalau jadi orang jangan menipu. Ayah saya
bilang begini, kalau bisa kamu menjadi orang yang dihormati orang, orang
hormat dan salut. Tapi kalau tidak mampu, kamu harus jadi orang kedua,
membuat orang simpatik, eh orang ini kok baik ya ayo dibantu. Dia jujur,
tulus. Kalau tidak bisa menjadi orang pertama, jangan sampai dibenci orang.
Lihat juga:

 Melihat Pundi-pundi Uang 5 Orang Terkaya di Indonesia
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190306093055-92-374928/melihat-pundi-pundi-uang-5-orang-terkaya-di-indonesia/>


*Kapan dan bagaimana Anda memulai bisnis?*

Setelah lulus saya sekolah sipil, lalu dikeluarkan. Masuk kedokteran
dikeluarkan juga. Terus jadi *inang-inang*(berdagang) lah. Jadi
*inang-inang* pengalaman yang bagus untuk saya.

Saya ke Singapura, tinggal di losmen, itu sendiri ya. Kesendirian itu
membuat saya tabah hari ini. Saya tidak ada bimbingan, kalau sekarang kan
saya bimbing anak saya. Kalau dulu saya, siapa yang bimbing? tidak ada.
Semua saya kerjakan sendiri, saya ngomong bahasa Inggris tidak jelas, how
much how much, *discount-discount*. paling begitu. Bahasa Inggris juga
kacau ya orang Surabaya, bukan dari Jakarta, tapi Suroboyo.

Saya kemudian buka* showroom. *Jadi 3S, *sale, service, *dan* sparepart.* Saya
jual mobil Suzuki, tapi bangkrut. Itu kan modalnya besar, pinjam uang juga
di bank.

*Apa itu menjadi titik terendah dalam hidup Anda?*

Iya, waktu saya bangkrut. Saya kan berutang kira-kira US$10 juta lebih.
Saya selama enam bulan tidak mau ketemu orang, saya merenungkan bagaimana
bayar utang ini, jual barang ini. Bayar ini, lunasin ini, begitu. Itu kan
tanggung jawab saya sebagai debitur. Di sanalah saya melihat suatu fakta.
Yang tadinya orang itu baik ke saya, jadi tidak lagi. Termasuk keluarga.

*Bagaimana cara Anda bangkit dari titik terendah itu?*

Saya adalah orang yang bukan* positive thinking,* saya adalah orang yang
*fighter.* Saya mau cerita begini, ini bagus untuk anak muda.

Ketika kita kepeleset di tengah jalan, ada tiga sikap yang bisa diambil.
Sikap pertama, kepeleset lalu bangun lagi dan jalan saja. Ini adalah sikap
yang celaka. Kedua, kepeleset, lihat lagi, oh ternyata ada kulit pisang
kemudian mengerti terus jalan lagi. Ketiga yang paling penting, dia melihat
kulit pisang, terus berpikir kok saya bisa teledor ya tadi. Apa yang saya
pikirkan sampai jatuh, lalu saya ambil kulit pisang dan saya buang agar
orang lain tidak jatuh juga. Sikap ketiga itu adalah yang harus pilih.
Dalam hidup juga begitu.

Ada orang gagal bolak-balik tidak belajar, karena dia anggap ya sudah. Saya
tidak mau. Saya ada kejadian jatuh, saya mau belajar. Apa yang salah,
misalnya saya bisnis mobil jatuh, saya harus tahu. Oh, saya pinjam uang
terlalu banyak. Jadi saya tahu jangan utang terlalu banyak.

Dato Sri Tahir. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama).


*Istri Anda adalah anak dari Pak Mochtar Riady, apa Anda sempat merasa
minder?*

Sempat minder. Pasti dong. Tapi istri saya sangat baik, tidak pernah
menunjukkan anaknya Pak Mochtar. Istri saya baik dan setia mendampingi saya
waktu melarat.

*Dari mana Anda belajar sikap kepemimpinan dalam hidup Anda?*

Mungkin dari pengalaman, konsultasi. Hanya itu saja. Itu karunia. Susah
dipelajari.

*Apa yang anda tanamkan ke karyawan?*

Seorang pemimpin harus memenuhi tiga syarat, yang pertama harus bisa
memberitahu kepada pengikutnya, ini berlaku untuk presiden berlaku untuk
kepala keluarga, suami, dan direktur perusahaan. Dia harus bisa meyakinkan
dan memberitahukan ke pengikutnya. Saya mau bawa kalian.

Jadi melamar ke perusahaan dia, harus tanya saya mau dibawa ke mana sih
pak. Dia harus mampu jawab. Dia harus tahu membawa anda ke level mana.
perusahaan mau di bawa ke mana, anak-anak mau dibawa ke mana.

Kedua, dia harus bisa meninggalkan teladan. Dia adalah sebuah panutan,
sebuah model. Kalau di perusahaan di Mayapada saya bilang mau bawa Mayapada
ke sini, lalu saya disiplin.  Ketiga, menciptakan nilai tambah. Nilai
tambah itu anak saya bisa saya sekolahkan di tempat yang lebih baik,
sekarang teknologi maju.
Lihat juga:

 10 Orang Terkaya dalam Crazy Rich 'Asean'
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180917175656-95-330879/10-orang-terkaya-dalam-crazy-rich-asean/>


*Anda juga dikenal sebagai seorang filantropis, apa sebenarnya motivasi
Anda?*

Itu bukan motivasi, tapi yang harus dilakukan. Ada orang bertanya sama
saya, kamu sumbang sini sumbang sana apa tidak sayang? Kenapa uangnya tidak
dinikmati sendiri?

Saya bilang ada sebuah konsekuensi dari sebuah logika. Kalau tidak ada
Indonesia kan tidak ada Tahir. Kalau saya tinggal di Sudan hari ini saya
adalah pengungsi, kalau tinggal di Syria saya pengungsi. Baru saya tinggal
di Indonesia saya jadi Tahir seperti hari ini.

Maka itu saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang telah tanda
tangan* giving
pledge*. Artinya tanda tangan apa? Saya bersedia menyumbang 50 persen dari
harta saya untuk dikembalikan kepada masyarakat. Apa susahnya? tidak ada
susahnya.

Kedua, sebagai seseorang yang mengenal agama, ibadah, harus sadar bahwa
baik di agama Islam, Kristen, Buddha, dan apa pun namanya, selalu
menjelaskan bahwa sumber daripada semua berkah itu adalah dari Gusti Allah.
Artinya apa? Kita semua tahu ketika dikasih uang di dunia ini bukan untuk
menjadi hak milik. Kita tidak pernah loh dikasih hak milik, hanya dikasih
hak mengelola.


*Impian apa lagi yang mungkin belum tercapai?*
Mimpi begini, setiap orang pasti memiliki mimpi fase berbeda ya. Mimpi tuh
bisa berubah, waktu umur 20 tahun, 30 tahun, dan 50 tahun berbeda. Jangan
mimpinya terus sama. Sekarang saya umur 67 tahun, mimpi apa yang saya
harapkan.

Hanya satu, yakni adalah bagaimana kelak menghadap ke sang pencipta. Rapor
apa yang mau saya bawa. Ini penting dan krusial. Saya mau bawa kejelekan
saya atau saya mau bawa kebaikan saya. *(agi)*

Kirim email ke