https://news.detik.com/internasional/4499200/penulis-terkenal-china-sebut-negaranya-ancaman-bagi-seluruh-dunia
Sabtu 06 April 2019, 13:48 WIB
Penulis Terkenal China Sebut Negaranya
Ancaman Bagi Seluruh Dunia
Rita Uli Hutapea - detikNews
Share *0*
<https://news.detik.com/internasional/4499200/penulis-terkenal-china-sebut-negaranya-ancaman-bagi-seluruh-dunia#>
Tweet
<https://news.detik.com/internasional/4499200/penulis-terkenal-china-sebut-negaranya-ancaman-bagi-seluruh-dunia#>
Share *0*
<https://news.detik.com/internasional/4499200/penulis-terkenal-china-sebut-negaranya-ancaman-bagi-seluruh-dunia#>
35 komentar
<https://news.detik.com/internasional/4499200/penulis-terkenal-china-sebut-negaranya-ancaman-bagi-seluruh-dunia#>
Penulis Terkenal China Sebut Negaranya Ancaman Bagi Seluruh Dunia Foto:
Internet/ebcitizen.com
*Beijing* - Seorang penulis terkenal asal China menyebut bahwa negaranya
merupakan ancaman bagi seluruh dunia.
Menurut Liao Yiwu, penulis pengkritik pemerintah China itu, akan lebih
baik bagi umat manusia jika China terbagi menjadi menjadi 10 negara atau
lebih. <https://www.detik.com/tag/china>
"Impian saya adalah bahwa China terbagi menjadi 10 atau lebih negara.
Karena China saat ini adalah ancaman bagi seluruh dunia," ujarnya
seperti dikutip kantor berita/AFP,/ Sabtu (6/4/2018). Hal ini
disampaikannya di saat buku terbarunya "Bullets and Opium" dirilis di
Prancis.
*Baca juga: *Insinyur Jerman Akui Keunggulan Teknologi Industri China
<https://news.detik.com/read/2019/04/05/155324/4498263/1779/insinyur-jerman-akui-keunggulan-teknologi-industri-china>
Liao pernah dipenjara karena menulis puisi berjudul "Pembantaian" t
<https://www.detik.com/search/searchall?query=penulis%20china>entang
aksi protes di Lapangan Tiananmen. Buku terbarunya "Bullets and Opium"
telah dilarang beredar di China. Buku tersebut mengangkat kisah-kisah
puluhan korban pembantaian di Tiananmen, ketika pasukan China membunuh
ribuan demonstran pro-demokrasi di Beijing pada tahun 1989 silam.
Pembantaian yang juga dikenal sebagai "Insiden 4 Juni" itu merupakan hal
yang sangat tabu di China.
Liao telah mengasingkan diri ke Berlin, Jerman sejak tahun 2011.
"Kembali ke China bukan masalah besar bagi saya. Saya ingin kembali ke
kampung halaman saya di Sichuan -- ketika negara itu merdeka. Maka saya
akan senang untuk kembali," ujar pria tersebut.
Liao mengatakan, dirinya sangat pesimistis akan negaranya di bawah
pemerintahan otoriter Presiden Xi Jinping.
<https://www.detik.com/tag/xi-jinping> "Tiga puluh tahun lalu, kami
pikir kami bisa berkembang menuju demokrasi. Saat ini, semuanya adalah
soal menghasilkan uang," cetus Liao.
*Baca juga: *Tragis! 24 Petugas Pemadam Tewas Saat Padamkan Kebakaran
Hutan di China
<https://news.detik.com/read/2019/04/01/164550/4492693/1148/tragis-24-petugas-pemadam-tewas-saat-padamkan-kebakaran-hutan-di-china>
Liao pun bersikeras bahwa Tiananmen merupakan titik balik yang besar
dalam sejara China baru-baru ini. "Bagi saya, juga untuk semua China,
itu adalah momen bencana," tutur pria berumur 60 tahun itu.
"Anda tak bisa menyebut pembantaian itu di China, itu tabu. Perjuangan
saya adalah membuat kebenaran tentang apa yang terjadi diketahui oleh
sebanyak mungkin orang," tandasnya. Dikatakannya, tiga dekade telah
berlalu sejak pembantaian Tiananmen, namun "kita masih belum tahu jumlah
pasti korban."
Kelompok-kelompok HAM meyakini bahwa antara 2.600 dan 3.000 orang tewas
setelah sekitar 200 ribu tentara dikerahkan untuk mengepung Beijing
dalam peristiwa pembantaian di Tiananmen.
Penulis Terkenal China Sebut Negaranya Ancaman Bagi Seluruh Dunia
<https://oto.detik.com/indeksfokus/4606/crazy-rich-priok>
*(ita/ita)
*
**