Karena cuma bicara "kalau" jawabnya ya gampang, "atur sajalah sesukanya."
Bagi yang menyukai fakta tentu gregetan melihat pencapaian 5% yang sama saja dengan rata-rata pertumbuhan sepanjang 20 tahun reformasi. Padahal sang presiden (Jokowi) menjanjikan perobahan sejarah yaitu, 7% tercapai pada 2017 dan 8% pada 2019. "Muluk" kata orang, tapi tidak bagi Jokowi yang bangga punya menteri keuangan jebolan Bank Dunia. Dengan fakta ini (cuma mencapai rata-rata pertumbuhan 20 tahun) lalu apa sebenarnya kerja presiden dan bu menteri? Apalagi 5% itu sudah didongkrak dengan subsidi Rp 1 juta / bulan untuk keluarga miskin, kata tim ekonom istana saat mengakui utang bertambah lagi. Orang jadi gregetan karena ada fakta lain ketika setahun setelah Orba jatuh kabinet BJH bisa menumbuhkan dari minus ke 0,7%. Disusul fakta luarbiasa meningkatnya pertumbuhan dari 0,7% ke 4,9% sekaligus mempersempit kesenjangan (ratio gini 3,2) yang beda tipis dari periode terakhir Orba (3,1). Dan, semua itu dicapai sambil... nah ini, memgembalikan pinjaman IMF serta melunasi utang lain-lain hampir sebanyak 5 M USD, hanya dalam 21 bulan. Jadi, sambil ikut gregetan siapa pun boleh saja mengakui 4 tahun kekuasaan Jokowi memang betul-betul konyol. Apa kerja dia selama itu? --- djiekh@... wrote: Bagaimana kalau nanti ada yang asal ngomong, Tanpa Ekonoom juga bisa....? Pada tanggal Sab, 6 Apr 2019 pukul 21.05 ajeg menulis: Kamis,04 Apr 2019 19:17 WIB Ekonomi RI Tumbuh 5%, Ekonom UI: Tanpa Presiden PunBisa VadhiaLidyana - detikFinance Jakarta- Dalam rentang 4 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pertumbuhanekonomi RI masih terjaga di kisaran angka 5%-an. Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, angka 5% padapertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan angka yang natural saja terjadi.Artinya, tanpa perlu campur tangan pemerintah pun angka bisa dicapai. "Kita bicara dulu kondisi perekonomian di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi5%. Kalau 5%, itu berarti pemerintah tidak kerja. Pertumbuhan ekonomi 5% ituadalah natural road," sebut Faisal ditemui di Jakarta, Kamis (4/4/2019). Dengankata lain, keberadaan pemerintah tak banyak berdampak pada perekonomiannasional. Sehingga menurutnya, pemerintah harusnya bisa bekerja lebih kerasmendongkrak perekonomian RI. "Tanpa presiden atau tanpa Kemenkeu juga itu akan 5%. Kita sebenarnyabutuh the big push(usaha keras)," tandas dia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2014 ekonomi nasional hanyamentok di kisaran 5%-an. Pada tahun 2014, ekonomi RI tumbuh 5,02%. Lalu di 2015hanya 4,79%. Pada 2016 realisasi pertumbuhan ekonomi ada di 5,02%. Selanjutnya, di 2017, ekonomi RI tumbuh 5,07%. Terakhir di 2018, pertumbuhanekonomi tercatat sebesar 5,17%. (dna/ang)
