https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190408113714-32-384221/surat-sby-dan-jubah-politik-islam-prabowo?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop



ANALISIS Surat SBY dan Jubah Politik Islam Prabowo

CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 16:49 WIB

Bagikan :

 1.  Surat SBY dan Jubah Politik Islam Prabowo  2.  Lonceng Peringatan SBY

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sedang mengikuti doa bersama usai
salat subuh berjamaah sebelum kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung
Karno (SUGBK), Jakarta, 7 April 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang
Yudhoyono (*SBY <https://www.cnnindonesia.com/tag/susilo-bambang-yudhoyono>*)
menyentil kampanye *Prabowo Subianto
<https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto>* yang terkesan
eksklusif di tengah kampanye akbar *Pilpres 2019.
<https://www.cnnindonesia.com/tag/pilpres-2019>*

Protes SBY dalam secarik surat itu tersebar ke publik saat Prabowo
menggelar kampanye rapat umum atau kampanye akbar di Stadion Utama Gelora
Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (7/4). Kampanye yang 'memutihkan'
Stadion GBK itu diawali dari kegiatan subuh berjemaah di stadion terbesar
se-Indonesia tersebut.

Presiden keenam RI itu mengaku mendapat informasi detail kampanye dari
lingkaran Prabowo pada 6 April lalu. Kini dia merasa terusik dengan
realisasi dari konsep kampanye tersebut.


Dalam surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Partai Demokrat, SBY
memandang rancangan kampanye di GBK itu terlalu eksklusif untuk umat Islam.
SBY meminta agar Prabowo diingatkan bahwa kampanye kubu Paslon 02 dalam
Pilpres 2019 harus mengusung keberagaman alias inklusif.

"Penyelenggaraan kampanye nasional [di mana Partai Demokrat menjadi bagian
di dalamnya] tetap dan senantiasa mencerminkan *inclusiveness*, dengan
*sasanti* 'Indonesia Untuk Semua' Juga mencerminkan kebhinekaan atau
kemajemukan," tulis SBY dalam surat yang beredar pada hari kampanye akbar
Prabowo di SUGBK tersebut.

Dalam gelaran Pilpres 2019, Prabowo-Sandi didukung lima partai politik
yakni Gerindra, PKS, PAN, Demokrat, dan Berkarya.
Lihat juga:

 Andi Arief Sebut Ada Faksi Keumatan di Koalisi Prabowo-Sandi
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190408093643-32-384189/andi-arief-sebut-ada-faksi-keumatan-di-koalisi-prabowo-sandi/>


Pengamat politik Habibie Center Bawono Kumoro menilai Prabowo akan tetap
menggunakan simbol-simbol agama Islam yang notabene pemeluk keyakinan
tersebut merupakan mayoritas pemilih di Indonesia.

Prabowo dan tim suksesnya, menurut Bawono, tak ingin begitu saja mengubah
strategi yang sukses pada Pilkada DKI 2017 silam. Selain itu, koalisi
Gerindra-PKS pun terbilang sukses membuat lonjakan perolehan suara bagi
paslon yang diusung mereka dalam Pilkada 2018 lalu.

"Sangat susah memang, ada semacam kepercayaan tinggi sekaligus dilema di
Prabowo-Sandi, apalagi PKS sebagai partai Islam. Kalau membuat kampanye
mereka lebih plural sesuai logika SBY, khawatir tidak bisa mengulang
kemenangan di 2017," ucap Bawono saat dihubungi *CNNIndonesia.com*, Minggu
(7/4).

Massa pendukung Paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga memadati kampanye
akbar yang diawali dengan kegiatan salat subuh berjemaah di Stadion Utama
Glora Bung Karno, Jakarta, 7 April 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


Meski kubu 02 kerap mengklaim mengusung isu ekonomi di pilpres, kondisi
saat ini tetap menuntun tim Prabowo kepada politik identitas untuk
memanfaatkan kelompok muslim konservatif. Dilema itu, kata Bawono, akan
membuat Prabowo akan tetap eksklusif dalam kampanye.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menganggap
Prabowo-Sandi terjebak dalam kondisi yang membuat kampanye-nya kerap
menggunakan simbol-simbol keislaman.

Serupa Bawono, Pangi menilai basis suara Prabowo saat ini paling kuat pada
pemilih Muslim. Prabowo, menurut dia, masih kalah telak dari paslon nomor
urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin pada basis pemilih non-Muslim.
Lihat juga:

 Kata Bersayap dan Framing Politik SBY Menuju Koalisi Prabowo
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180725112641-32-316806/kata-bersayap-dan-framing-politik-sby-menuju-koalisi-prabowo/>


Seperti dalam survei Celebes Research Center (CRC) yang dirilis Februari
lalu. Jumlah pemilih nonmuslim yang memilih Prabowo hanya 5,6 persen,
sedangkan Jokowi 87,1 persen. Prabowo bergantung pada 35,3 persen pemilih
beragama Islam yang memilih dirinya.

Survei lain yang dilakukan LSI Denny JA pada 18-25 Februari 2019 menemukan
bahwa dukungan untuk Prabowo-Sandi datang dari segmen pemilih Muslim yang
orientasi politiknya Indonesia harus seperti Timur Tengah atau Arab Saudi
yakni 54,1 persen.

Selain itu, berdasarkan survei yang digelar LSI Denny JA pada 18-25 Januari
2019, dukungan kantong pemilih Muslim terhadap Prabowo-Sandi cenderung
meningkat jika dibandingkan survei lima bulan lalu. Pada Agustus 2018,
dukungan ke Prabowo-Sandi di kantong pemilih Muslim hanya 27,9 persen.
Sedangkan saat ini dukungan mencapai angka 35,4 persen.

"Kalau mereka tidak mengambil segmen itu [pemilih muslim], misalnya Pak
Prabowo tidak menggunakan simbol-simbol Islam, lebih toleran, plural,
kebinekaan, *problem*-nya segmen beliau memang sudah pemilih muslim," ucap
Pangi, Senin (8/4).

Apalagi, Prabowo notabene adalah capres yang didukung lewat dua kali
Ijtimak Ulama.

Memasuki konteks kampanye akbar yang digelar kemarin di SUGBK, Pangi
mengaku melihat kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) telah mencoba
memasukkan unsur selain Islam ke atas panggung. Namun, menurut dia, upaya
menghadirkan sosok nonmuslim sebagai orator itu terkesan kurang karena
lebih kental simbol Islam.

"Kemarin ada tokoh lintas agama, seharusnya ada tausiah juga dari tokoh
Nasrani, Buddha, simbol itu penting. Kemarin simbol itu masih kurang karena
simbol Islam terlalu kental," tuturnya.

Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean
menegaskan isi dari surat SBY telah disampaikan kepada tiga petinggi
Demokrat. Sehingga kampanye akbar Prabowo-Sandi pada Minggu (7/4) pun
dilaksanakan sesuai saran. Walhasil, katanya, pada kegiatan kampanye akbar
pun ada penegasan soal itu dan menghadirkan umat dari agama lain.

"Saran SBY pun diterima. Tadi (dalam kampanye akbar) ada dari pendeta dan
berbagai agama," katanya, Minggu (7/4).

Pada kampanye tersebut, memang setidaknya ada tiga perwakilan agama lain
yang ikut menyampaikan pesan di panggung. Bukan hanya pesan, mereka yang
berasal dari Kristen, Katolik, dan Buddha pun turut membacakan doa untuk
Prabowo-Sandi.
Lihat juga:

 SBY Ungkap 'Set-up' Tak eksklusif di Balik Kampanye Prabowo
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190407110841-32-384021/sby-ungkap-set-up-tak-inklusif-di-balik-kampanye-prabowo/>

Kirim email ke