https://kumparan.com/@kumparannews/menyelisik-gerakan-tanpa-feminis-di-indonesia-1qqYYFRvJbc


8 April 2019 8:20 WIB

2
*Menyelisik Gerakan Tanpa Feminis di Indonesia*

Ilustrasi perjuangan hak-hak perempuan Foto: Herun Ricky/kumparan

Sebelas perempuan duduk melingkar di selasar lobi FISIP UIN Syarif
Hidayatullah, Tangerang Selatan, Banten. Satu di antaranya tampak dominan,
berkhotbah. Kali itu soal K-Pop dan dampak buruknya ke sepuluh mahasiswi
UIN di sekelilingnya. Ia membawa serta bayi laki-lakinya, yang selama
pertemuan tepekur tenang di pangkuan ibunya.

“Di UIN banyak cewek yang mengidolakan banget* korea-koreaan*. Maka kita
membahas, apakah kecintaan kita terhadap K-Drama dan K-Pop itu sebuah
kecintaan yang hakiki, yang bikin kita bahagia atau enggak,” ujar Ayu
Fitri, pengkhotbah tadi, kepada *kumparan* seusai acara, Jumat (5/4).

Tajuk pertemuan kala itu berjudul *Fake Love*, satire cerdas yang ia ambil
dari judul lagu *boyband *Korea Selatan, BTS. Tiap minggu, komunitas Yuk
Hijrah <https://www.instagram.com/yukhijrahuin/?hl=en>membahas isu yang
berbeda, terentang dari ragam kultur pop, percintaan, sampai janji bagi
perempuan di surga. Ayu, alumni UIN angkatan 2012, dan dua orang temannya
membikin komunitas tersebut tiga tahun lalu.

Di tengah pertemuan, pembahasan melebar. Ayu mengkritik keberadaan RUU
Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dan menyinggung soal feminisme. Kepada
peserta diskusi yang tampak kurang familier terhadap isu ini, Ayu menyebut
ruh RUU PKS tidak islami.

“Aturannya itu nggak ada pembatasan yang jelas. Bahkan, kalau yang sudah
dihapus ya, katanya ada pemaksaan berpakaian. Saya pernah nonton cuplikan
video, ibu-ibu bilang, ‘Kalau saya mendidik anak saya pakai kerudung terus
anak nggak mau, berarti nanti bisa dijerat dong sama RUU ini?’ Itu menurut
saya *ngenes *banget,” kata Ayu.

Pengacara Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Andi Komara, telah mengklarifikasi
isu tersebut. Ia menduga ada pihak-pihak yang sengaja menyebarkan informasi
salah tersebut kepada publik. “RUU PKS
<https://kumparan.com/@kumparannews/aktivis-ruu-pks-tak-pro-zina-dan-tak-langgengkan-free-sex-1549461770363675936>
tak mengatur masalah pakaian,” kata Andi kepada *Antara *pertengahan
Februari lalu.

Sementara soal feminisme, Ayu juga mengambil posisi bertentangan. Semangat
feminisme agar perempuan tak lagi ditindas, adalah sesuatu yang bagus.
Namun, menurutnya, feminisme sekarang kebablasan.

“Penginnya perempuan nggak cuma di rumah, bisa kerja, berkarier. Saya lihat
jadi kebablasan. Karena sekarang kalau lihat di lowongan pekerjaan saja,
yang lebih banyak dibutuhkan perempuan. Iklan-iklan yang sebenarnya nggak
perlu juga jadi pakai perempuan. Bukan cuma memakai perempuan sebagai
pekerja, tapi sebagai objeknya,” kata Ayu.

Ia lalu menyebutkan beberapa pandangan feminis lain yang membuatnya resah.
Contoh yang ia berikan adalah perkara izin pada suami atau orang tua saat
perempuan hendak keluar rumah dan perihal menutup aurat.

“Ide feminis belakangan ini kan mengarahkan izin sama suami, sama bapak,
itu bikin ribet. Perempuan juga bebas mengeksplorasi tubuhnya, bebas mau
ditunjukkin mau ditutupin terserah. Otomatis secara langsung feminis
bertabrakan dengan Islam,” jelas Ayu.

Suasana Yuk Hijrah di FISIP UIN. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Ayu dan* Yuk Hijrah UIN*-nya bukanlah satu-satunya gerakan yang
berseberangan dengan feminisme. Ia juga bukan yang pertama. Sebelumnya,
Muslimah HTI secara terbuka menggelar demonstrasi menolak feminisme di
Indonesia pada paruh awal 2015. Ada pula kelompok-kelompok kecil macam
Himmah Youth Community <https://www.instagram.com/himmahyc_akhwat/>yang
menggelar diskusi soal feminisme melalui grup WhatsApp.

Namun, yang belakangan mencuri perhatian tentu saja akun Instagram Indonesia
Tanpa Feminis <https://www.instagram.com/indonesiatanpafeminis/>. Kepada
3.000-an pengikut, akun tersebut rutin mengunggah jargon dan slogan bahwa
Indonesia tidak butuh feminisme. Pada dasarnya alasannya tunggal: feminisme
tidak sesuai dengan ajaran Islam.

“Aku adalah makhluk yang diciptakan. Jadi apakah diriku adalah milikku?”
tulis akun tersebut di salah satu unggahannya. Surat Al-Quran Ali Imran 109
lalu disematkan, yang diikuti sebuah kesimpulan: *Jadi tubuhku bukan
milikku, tapi milik Allah*.

Unggahan tersebut senada dengan lantang biografi yang ada di bawah *username
*akun tersebut, “Tubuhku bukan milikku. Indonesia tidak membutuhkan
feminisme.” Meski kini kalimat pertama slogan tersebut telah dihapus,
unggahan-unggahan baru hampir tiap hari rutin muncul.

Sayang, jargon-jargon tersebut amat jarang diikuti argumen bernas.
Kebanyakan hanya berisi slogan yang mengulang-ulang betapa tidak pentingnya
feminisme. Sindiran pada aktivis dan penganut feminisme juga kerap
disematkan, seperti bahwa semua feminis keras kepala.

“Dia (antifeminis) mau menyuarakan pendapatnya ya hak. Pertanyaannya, apa
yang mereka tahu tentang feminisme? Penolakan itu saya tidak melihat
argumennya,” timpal Lies Marcoes, pakar kajian Islam dan gender sekaligus
Direktur Yayasan Rumah Kita Bersama, Rabu (3/4).

Gerakan Feminisme di Indonesia Foto: Basith Subastian/kumparan

Lies kemudian menjelaskan, bagaimana slogan “tubuhku otoritasku” yang
diseru aktivis feminis merupakan buah pemikiran kritis yang berangkat dari
ketertindasan perempuan. Menurutnya, feminisme adalah kunci satu-satunya
yang memiliki kemampuan melihat persoalan ketimpangan kuasa dan penindasan
yang terjadi pada perempuan sejak berabad-abad lalu.

“Ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa melihat relasi kuasa gender.
Kenapa? *Human
rights*, misalnya, tidak bisa menembus ruang domestik,” kata Lies.

Dia mencontohkan, dulu semasa belum ada feminisme, kasus kekerasan terhadap
perempuan oleh suaminya susah ditangani oleh aktivis HAM, karena hukum tak
bisa menembus ruang domestik rumah tangga. Kini feminisme hadir untuk
memecahkan masalah itu.

"Itu yang menurut saya tidak diketahui atau tidak dipelajari teman-teman
yang bicara dia menolak (feminisme)," terangnya

Setali tiga uang, Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin juga
mengeluarkan kritik senada. Ia menilai, ada mispersepsi terhadap konsep “my
body is mine” tersebut.

“Barangkali disangkanya kalo ‘my body is mine’ itu kita boleh melakukan apa
saja yang melewati norma. Padahal kalau dalam konsep feminisme, menurut
saya tubuh perempuan itu harus kita proteksi, harus kita jaga, dan kita
harus tahu bahwa tubuh kita ini sebagai perempuan tidak boleh dijadikan
objek seksual,” kata Mariana.

Meski turut mengkritik unggahan @indonesiatanpafeminis, Mariana melihat
kesempatan ini sebagai celah awal untuk membuka dialog lebih jauh bagi
audiens lebih luas.

“Saya sih nggak ingin menjadikan ini sebagai sebuah permusuhan. Sebaiknya
kita buka dialog, ‘Sebenarnya feminis ini apa sih?’ Kalau perlu mereka juga
memberikan kontribusi, feminisme macam apa yang diperlukan bangsa ini,”
kata Mariana di Hotel Mercure, Sabang, Jakarta Pusat, Kamis (4/4).

Mariana Amiruddin, Komisioner Komnas Perempuan Foto: Dwi Herlambang/kumparan

Peneliti *Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations
*(INSISTS),
Dinar Dewi Kania, menilai kritik dari akun penolak feminisme terlalu
dangkal. Meski Dinar sendiri tak setuju dengan feminisme, ia menilai
unggahan @indonesiatanpafeminis tak mencerminkan gerakan penolakan yang
lebih luas.

“Saya tahu mereka itu sepertinya penolakannya terhadap ide isme-nya.. Cuma
di bawah-bawahnya. Hanya aspek pragmatis saja yang mereka perhatikan,” ujar
Dinar kepada kumparan di Kampus UI, Depok, Jawa Barat.

Dinar mengibaratkan pertentangan Islam dan feminisme sama dengan penolakan
Islam terhadap sosialisme dan komunisme.

“Kalau perjuangan saja, mengedukasi, itu ada irisannya dengan Islam.. Tapi
bukan berarti Islam itu feminis. Sosialis mau berjuang terhadap keadilan
sosial. Islam kan juga memperjuangkan itu. Artinya apakah sosialisme itu
sama dengan Islam? Tidak.”

Dinar, Doktor Pendidikan dan Kajian Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor itu
melanjutkan, “Kenapa Islam menolak komunisme, karena itu sudah menjadi
-isme, kan. (-Isme) itu suatu pandangan hidup yang dia punya konsep Tuhan,
dia sudah punya konsep kehidupan, konsep barang, konsep agama, dan
lain-lain.”

Aktivis Aliansi Cinta Keluarga (AILA) dan Thisisgender, Dinar Dewi Kania.
Foto: Rina Nurjanah/kumparan

Di lain pihak, RUU PKS
<https://kumparan.com/@kumparannews/mui-ikut-kaji-ruu-pks-hubungan-seksual-harus-diatur-1553497694539771085>
ini juga ditolak oleh Dinar dan organisasi-organisasi yang tergabung di
Aliansi Cinta Keluarga. Sejak 2016, mereka telah memprotes daftar
inventaris masalah (DIM) dan mengikuti pertemuan-pertemuan di Badan
Legislatif. Namun, saat RUU PKS berhasil masuk ke Prolegnas, revisi yang
mereka harapkan tak dikabulkan. Akhirnya, lobi ke beberapa fraksi partai di
DPR menjadi jalan yang kemudian dicoba.

“Kami mengirim surat resmi ke fraksi—ke Gerindra, PPP, dan PAN. Ke PKS juga
sudah, duluan, makanya mereka menolak (RUU PKS) itu juga karena kami melobi
mereka, ngasih DIM-nya, kami serahkan,” kata Dinar.

Menurutnya, pada awalnya PKS menerima RUU PKS meski dengan revisi. “Tapi
karena perjalanannya begitu, ya (jadi) menolak. Yang penting kami secara
resmi ngajuin (surat ke fraksi). Kalau diterima ya sudah. Begitu saja
usahanya.”

Kirim email ke