https://news.detik.com/kolom/d-4503025/pilpres-2019-sebagai-katalis-ekonomi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236210113.1104448647.1554831804-1090822155.1554831804
Selasa 09 April 2019, 15:20 WIB
Kolom
Pilpres 2019 sebagai Katalis Ekonomi
Jusup Silitonga - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/jusupsilitonga>
Jusup Silitonga <https://connect.detik.com/dashboard/public/jusupsilitonga>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4503025/pilpres-2019-sebagai-katalis-ekonomi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236210113.1104448647.1554831804-1090822155.1554831804#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4503025/pilpres-2019-sebagai-katalis-ekonomi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236210113.1104448647.1554831804-1090822155.1554831804#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4503025/pilpres-2019-sebagai-katalis-ekonomi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236210113.1104448647.1554831804-1090822155.1554831804#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4503025/pilpres-2019-sebagai-katalis-ekonomi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236210113.1104448647.1554831804-1090822155.1554831804#>
Pilpres 2019 sebagai Katalis Ekonomi
*Jakarta* -
Pemilihan Umum Presiden 2019 mendekati tahapan akhir. Debat demi debat
capres dan cawapres yang sangat menarik telah kita ikuti bersama. Yang
lebih penting untuk dinantikan adalah sejauh mana dampak pilpres
terhadap ekonomi Indonesia. /It's the economy!
*The Next Big Thing*/
Pertumbuhan ekonomi 2018 yang dirilis BPS berada di angka 5.17%, yang
lebih baik daripada 2017 (5.07%). Pertumbuhan ekonomi beberapa tahun
terakhir berada di sekitar 5% yang bisa dikatakan /the new normal/.
Pesatnya pembangunan belakangan ini, khususnya di bidang infrastruktur,
tidak cukup signifikan dalam menaikkan angka pertumbuhan ekonomi atau
bisa dikatakan /diminishing return/ ataupun kurang produktif. Utang yang
bertambah, walaupun secara angka rasio terhadap GDP masih aman, tidak
menyebabkan /multiplier effect/ yang signifikan terhadap ekonomi.
Kebijakan reformasi fiskal yang ditandai dengan /tax amnesty/ juga tidak
berpengaruh banyak dalam menaikkan rasio pajak terhadap PDB.
Terakhir kali pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% disebabkan oleh
/commodity boom/ yang sayangnya kurang dimanfaatkan dalam membangun
fundamental ekonomi di masa lampau. Oleh karena itu diperlukan strategi
baru yang efektif untuk menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia,
atau bisa jadi diperlukan perubahan yang cukup radikal terhadap ekonomi
Indonesia supaya tumbuh lebih tinggi di masa depan. Kita sangat perlu
melakukan penguatan komponen-komponen ekonomi dalam negeri supaya
Indonesia dapat menjadi /the next big thing/.
*Keunggulan Kompetitif*
Jika ditelisik dari komponen PDB, /shifting/ ke sektor industri dan jasa
dari sektor pertanian masih belum cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan
komponen PDB dari sektor pertanian yang masih cukup tinggi (di atas
10%). Perpindahan dari sektor pertanian harus berjalan lebih cepat agar
dapat meningkatkan produktivitas masyarakat, tanpa mengurangi
kesejahteraan para petani. Di kebanyakan negara maju, ekonomi sangat
menitikberatkan kepada sektor industri dan jasa.
Adapun di komponen PDB dari /end use,/ konsumsi rumah tangga masih
menjadi andalan, diikuti oleh investasi. Ke depannya perlu dipikirkan
kebijakan untuk menumbuhkan investasi supaya dapat menstimulasi konsumsi
yang pada akhirnya menumbuhkan ekonomi.
Diperlukan investasi yang cukup besar, khususnya /Foreign Direct
Investment/ (yang saat ini masih di kisaran 2% dari PDB) yang berdampak
langsung terhadap ekonomi, agar dapat menumbuhkan ekonomi di atas 6%
atau lebih tinggi lagi, siapapun presidennya. Kebijakan suku bunga yang
tidak terlalu tinggi, keringanan pajak kepada investasi baru, kemudahan
izin (/ease of doing business/, yang saat ini masih di peringkat 70-an),
kepastian hukum, pembangunan infrastruktur yang lebih terarah dan
efektif, maupun pembukaan pusat-pusat industri baru sangat dibutuhkan
untuk menumbuhkan ekonomi lebih tinggi lagi.
Kita perlu menemukan dan memfokuskan keunggulan kompetitif kita
dibandingkan negara lain demi kemajuan Indonesia.
*Nilai Tambah*
Pertumbuhan di masa depan wajib memfokuskan kepada nilai tambah (/value
added/) yang dapat diberikan kepada barang dan jasa. Kita tidak bisa
lagi hanya bersandar kepada sumber daya alam mentah yang dijual murah di
pasar. Era /commodity boom/ sudah berakhir. Harga komoditas yang
fluktuatif dan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China
sangat rentan mempengaruhi Indonesia yang secara ekonomi termasuk dalam
/weak open economy/.
Infrastruktur yang dibangun cukup masif sebaiknya tidak hanya berhenti
di "ganti untung". Perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana nilai tambah
dari infrastruktur tersebut yang memberi manfaat bagi rakyat banyak.
Pusat-pusat industri baru, misalnya, perlu dibuka lebih banyak di
sekitar lokasi infrastruktur.
Selain itu, kebijakan suku bunga di Amerika Serikat sangat mempengaruhi
aliran investasi dan nilai tukar. Kita tidak bisa hanya mengandalkan
menaikkan suku bunga kita terus-menerus untuk mengimbangi kebijakan
negara kuat di bidang ekonomi, yang akan berdampak kurang baik terhadap
ketahanan ekonomi. Pemerintah harus segera membenahi /current account/
yang saat ini negatif dengan tidak hanya mengandalkan impor.
Betul bahwa inflasi terjaga dengan baik di kisaran 3% belakangan ini.
Tapi jika hanya memperbanyak /supply/ barang dengan melakukan impor
sangatlah kurang elok di jangka pendek bagi /current account/ Indonesia
yang sekarang defisit ataupun bagi petani kita, maupun di jangka panjang
terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
*Pertumbuhan dan Stabilitas*
Beberapa firma dunia meramalkan Indonesia termasuk negara dengan ekonomi
kuat di masa depan. Tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi dengan
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pertumbuhan PDB di kisaran 5%
tentulah tidak cukup untuk mewujudkan mimpi firma-firma tersebut.
Tantangannya adalah sejauh mana pemerintah memilih antara pertumbuhan
dan stabilitas. Belakangan ini sepertinya kebijakan lebih berfokus
kepada stabilitas. Pertumbuhan utang pemerintah nampaknya belum cukup
radikal berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang dijaga di
angka 3%, cadangan devisa yang terjaga cukup baik, dan suku bunga yang
dinaikkan cukup tinggi belakangan ini, memang cukup menjaga stabilitas
ekonomi.
/Trade-off/-nya adalah pertumbuhan ekonomi tidak cukup tinggi jika
dibandingkan dengan era /commodity boom/. Pertumbuhan ekonomi yang ada
sekarang tidak cukup baik untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Betul angka kemiskinan berkurang. Tetapi penurunan itu berlangsung lebih
lambat di masa lalu (kurang dari 1% per tahun dibandingkan lebih dari 1%
per tahun di masa /commodity boom/). Hal tersebut disebabkan pembukaan
lapangan kerja dengan kualitas rendah di mana sebagian masyarakat
Indonesia bekerja di sektor informal yang tidak cukup aman bagi
kehidupannya.
Di masa depan kita harus lebih memfokuskan pada pertumbuhan, yang
memerlukan investasi besar-besaran, khususnya di sektor industri yang
lebih produktif dalam menumbuhkan ekonomi, tidak hanya di infrastruktur.
Hal ini sangat diperlukan untuk menyerap tenaga kerja, di mana Indonesia
mendapat bonus demografi. Industri 4.0 justru menjadi tantangan dengan
adanya otomatisasi. Digitalisasi yang memperpendek rantai distribusi
juga sangat erat kaitannya dengan tenaga kerja yang berada di dalamnya.
Jangan sampai bonus demografi malah menjadi kutukan bagi kita dengan
adanya kemajuan teknologi.
*Fokus pada Rakyat*
Perjalanan panjang dalam proses pilpres yang berlangsung hampir setahun
terakhir cukup membelah masyarakat. Kita berharap bahwa yang terpilih
nantinya dapat berfokus kepada ekonomi rakyat. Daripada hanya berkutat
pada isu remeh-temeh mengenai harga telur dan tempe, ataupun seremonial
peresmian infrastruktur, adalah lebih baik memikirkan bagaimana
menumbuhkan produktivitas ekonomi dan menaikkan pendapatan masyarakat.
Kebijakan di bidang energi juga perlu menjadi perhatian, di mana harga
komoditas yang naik turunnya sangat cepat dan fluktuatif yang sangat
mempengaruhi pemasukan negara.
Jika pasangan petahana yang terpilih, diharapkan dapat memperbaiki
banyak hal yang masih kurang baik (kekurangefektivan pembangunan
infrastruktur sebagai contoh) dan melanjutkan hal-hal yang sudah baik
dengan kecepatan yang lebih baik daripada penantang, dengan melakukan
/continuous improvement/. Jika pasangan penantang yang terpilih,
dibutuhkan perencanaan yang sangat matang, dan kebijakan yang terukur
dan efektif, serta eksekusi dengan kecepatan tinggi.
Tantangan perang dagang dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat maupun
tantangan dalam negeri dan global lainnya akan selalu mengiringi
perjalanan di masa yang akan datang. Siapapun yang terpilih, baik dengan
jargon Indonesia Maju ataupun dengan /tagline/ Indonesia Menang, semoga
dapat menjadi katalis ekonomi untuk mewujudkan Indonesia Jaya.
*Jusup Silitonga, MBA */pemerhati ekonomi, calon Komisioner OJK 2017
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!