/http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1490-lembaga-survei-cermin
/
//
//
/*Lembaga Survei: Cermin*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Selasa, 09
Apr 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1490-lembaga-survei-cermin>
<http://twitter.com/home/?status=Lembaga Survei: Cermin
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1490-lembaga-survei-cermin
via @mediaindonesia>
Lembaga Survei: Cermin
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/c50385b7c25ccaf09e1819f587129e72.jpg>
/MI/Tiyok/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
PEMILU paling panas di era reformasi ini tinggal sepekan lagi (17
April). Ada yang berharap tanggal itu cepat tiba dan kemudian berlalu.
Namun, banyak pula yang menikmati ini sebuah proses politik menuju
pendewasaan bangsa. Pesta politik elektoral di era ini, terlebih sekelas
pemilihan presiden, muskil tanpa rivalitas yang ketat dan amat terbuka.
Seperti galibnya pesta demokrasi, ada banyak nubuat didedahkan.
Misalnya, tentang caleg dan partai partai politik yang lolos ke Senayan;
juga tentang pasangan calon presiden-wakil presiden yang bakal menang;
dan apa yang akan terjadi jika salah satu pasangan yang diberi mandat
rakyat memimpin Ibu Pertiwi periode 2019-2024.
Nubuat yang punya pijakan akademis kuat pastilah lembaga survei. Ia
bukan fantasi atau halusinasi. Lembaga survei bekerja sesuai dengan
kaidah ilmiah. Kini telah terdaftar 33 lembaga survei di KPU untuk
Pemilu 2019; Pemilu 2014 tercatat 56 lembaga survei.
Aturan soal lembaga survei tercantum dalam Pasal 449 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. “Pelaksana kegiatan
penghitungan cepat hasil pemilu wajib mendaftarkan diri kepada KPU
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari pemungutan suara.”
Ayat (4) berbunyi, “Pelaksana kegiatan penghitungan cepat wajib
memberitahukan sumber dana, metodologi yang digunakan, dan hasil
penghitungan cepat yang dilakukannya bukan merupakan hasil resmi
Penyelenggara Pemilu.” Pengumuman prakiraan hasil penghitungan cepat
hanya boleh dilakukan paling cepat dua jam setelah selesai pemungutan
suara di wilayah Indonesia bagian barat.
Meski bukan lembaga resmi mengumumkan hasil pemilu, banyak pihak
menjadikan hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei sebagai
patokan, karena hasilnya memang tepercaya. Meskipun hasil resmi tetap
menunggu perhitungan manual KPU. Lembaga survei yang kredibel juga bisa
menjadi alat kontrol penyelenggara pemilu jika berbuat lancung.
Kehadiran lembaga survei ialah bentuk partisipasi masyarakat. Betapa
sepinya hajat politik nasional tanpa lembaga survei.
Pada Pemilu 2014, ada dua kelompok lembaga survei mengumumkan hasil
berbeda. Beberapa lembaga survei mengumumkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla
menang; ada pula yang mengumumkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa unggul.
Umumnya lembaga survei yang mengunggulkan Prabowo, selain baru juga tak
tergabung di asosiasi pegiat survei seperti Perhimpunan Survei Opini
Publik Indonesia (Persepi) dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia
(Aropi).
Sejak itu Prabowo antipati terhadap lembaga survei. "Rakyat sudah capek
dengan pencitraan, sudah capek dengan lembaga survei yang akal-akalan
yang banyak bohong," kata Prabowo pada kampanye akbar, di Lapangan
Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa pekan lalu. Sandi juga
mengatakan, pihaknya tak pernah percaya pada survei eksternal.
Survei memang tak steril dari kesalahan, tapi tak boleh bohong. Itu
prinsip dasar penelitian. Untuk mendeteksi mana hasil yang kredibel dan
dapat dipercaya publik, kita bisa lihat dari rekam jejak lembaga survei
itu. Hasil survei dari lembaga yang kredibel secara psikologis terbukti
juga bisa menenangkan massa. KPU pun mengakui amat membutuhkan lembaga
survei.
Kini, survei prapemilu sedikitnya 19 lembaga survei menunjukkan Joko
Widodo-Ma’ruf Amin menang dengan selisih rata-rata 17% jika dibandingkan
dengan pasangan Prabowo-Sandiaga. Bahkan, ada delapan lembaga survei
selisihnya di atas 20%. Beberapa survei juga menunjukkan PDIP bakal
mengulang kemenangan pada Pemilu 2014, disusul Gerindra, Golkar, PKB,
Demokrat, PKS, NasDem, dan PPP.
Betulkah hasil survei itu? Dalam tulisan Ke Mana Pemilih Bimbang
Berlabuh? (Media Indonesia, 8/4), Berhanuddin Muhtadi menjelaskannya
dengan tepat. Salah satu potensi yang bisa mengubah keadaan ialah bias
partisipasi. Menurut Burhan, dalam survei, para peneliti yang aktif
mendatangi responden. Sementara itu, dalam pemilihan, pemilihlah yang
aktif mendatangi TPS.
“Jika pendukung 01 tak menerjemahkan preferensi elektoralnya dengan
menggunakan hak pilih di TPS, sedangkan pendukung 02 lebih solid dan
militan, hasilnya bisa tak sesuai dengan prediksi survei.” Hal yang
kurang lebih sama berlaku juga untuk partai.
Hasil survei lembaga yang kredibel ialah sebuah cermin. Ia alat untuk
melihat wajah kita. Justru dengan cermin itu kita tahu bagaimana merawat
wajah dan tubuh kita. Namun, jika ‘buruk muka cermin dipecah’, itulah
tanda ia tak mau melihat wajah diri sendiri yang sesungguhnya.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1490-lembaga-survei-cermin>
<http://twitter.com/home/?status=Lembaga Survei: Cermin
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1490-lembaga-survei-cermin
via @mediaindonesia>