Golput: Hai MUI, Kami Kecanduan Berbuat Dosa!
Roy Murtadho10 April 2019

Pastikan anda gunakan selalu sabun #SayaGolput untuk menangkal caci-maki, 
kritik asbun dan fitnah para buzzer sosmed.
Buat saya dan banyak kawan yang memilih golput pada Pemilu 2019 ini, pemilu 
yang kerap disebut sebagai pesta demokrasi ini tak lain adalah pestanya 
oligarki (khususnya di sektor industri ekstraktif). Meski demikian, 
Hendropriyono mengatakan Pilpres 2019 tak sekadar pemilu tapi pertarungan 
ideologi Pancasila vs Khilafah. Jujur saja, pernyataan sang mantan petinggi BIN 
tersebut terdengar menggelikan. Kita tahu PBB, partai pimpinan Yusril Ihza 
Mahendra yang secara ideologis adalah islamis yang merupakan metamorfosis 
partai Masyumi, juga ada di barisan pendukung Jokowi.

Tak hanya itu, sejumlah aktivis juga menghembuskan kabar bahwa pemilu kali ini 
adalah pertarungan antara Kuasa Baik vs Kuasa Jahat; Toleransi vs Intoleransi; 
NKRI vs Khilafah; Sukarnois vs Suhartois; Multikulturalisme vs 
Monokulturalisme. Bahkan kata mereka, bila Jokowi kalah Indonesia akan terjatuh 
menjadi negara gagal seperti Syuriah. Pokoknya kalau Jokowi kalah Indonesia 
akan di-Syuriah-kan atau diubah menjadi negara Islam. Pernyataan semacam ini 
telah beredar luas di media sosial, yang tentu saja tak jauh beda dengan 
Hendropriyono, tidak berdasar pada fakta konkret yang ada. (Soal ini saya akan 
mengulasnya tersendiri di lain kesempatan).

Mereka hendak membangun dikotomi antara Yang Baik dan Yang Jahat. Seolah-olah 
ada kubu Pandawa di satu sisi dan kubu Kurawa di sisi lainnya yang tengah 
beradu pedang di padang Kurusetra. Seolah-olah pilpres 2019 seperti jihad jaman 
para rasul yang ada garis batas yang tegas antara Yang Hak dan Yang Batil. Tak 
heran buat mereka, Jokowi-Ma’ruf adalah simbol Pancasila dan toleransi di 
Indonesia. Simbol kerukunan umat beragama yang harus diperjuangkan dan dibela. 
Sementara Prabowo-Sandi simbol intoleransi dan sumber perpecahan di Indonesia. 
Anda tak perlu tertawa dengan propaganda politik ini. Inilah faktanya.

Untuk mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, Anda cukup ketik nama: Ma’ruf 
Amin/MUI/Pelarangan gereja, atau Ma’ruf Amin/MUI/Ahok, di google, Anda akan 
tahu sendiri jawabannya. Maha benar google dengan segala jejak digitalnya. Nah 
kalau Prabowo? Tak usah kita bahas di sini. Ia sejak semula adalah elitnya elit 
dan pelanggar HAM berat. Jokowi memang bukan pelanggar HAM berat, tapi ia 
memaklumkan penggusuran paksa, perampasan tanah disertai intimidasi dan 
kriminalisasi masyarakat untuk proyek jaringan infrastruktur transportasi dan 
energi di Indonesia.

Lagi-lagi bagi kami, Pilpres 2019 adalah pertarungan Bohir vs Bohir serta 
manifestasi pesta oligarki. “Siapapun yang menang, rakyat tetap kalah”, 
demikian kata kawan saya Bilven. Namun kali ini saya tak akan mengomentari 
persoalan NKRI vs Khilafah dan segala rumor politik borjuis yang penuh tipu 
muslihat, atau turut dalam perdebatan demokrasi. Nanti akan kita sediakan ruang 
khusus untuk mengulasnya dengan serius. Kali ini saya merasa terpanggil untuk 
mengomentarifatwa haram bagi golput. Itupun saya tak akan menanggapinya dengan 
terlampau serius. Mengapa? Ya untuk lembaga kumpulan kaum fanatis seperti MUI, 
kita tak perlu terlampau serius menanggapinya dengan beradu dalil agama. “Hei 
bung, ini abad 21. Iman penting, sangat penting, tapi ortodoksi dan fanatisme 
tidak kompatibel bagi peradaban dan kebudayaan yang kosmopolitan serba saling 
silang seperti sekarang. Ia adalah cerita usang yang dipaksakan untuk semua 
orang. Jadi, fatwa haram bagi golput saya anggap olok-olok kaum fanatis yang 
baiknya kita buat parodi di atas mimbar stand up comedy. Serius!” (yang ini 
saya 1000% serius ya akhi!).

***

Setelah Rocky Gerung membuat gaduh dengan gerakan akal sehatnya. Saya pikir 
kegaduhan akan segera reda. Rupanya menular. Agamawan plus ahli filsafat 
Magnis-Suseno turut latah mengumbar kata-kata kasar pada para golput. Seperti 
diakuinya sendiri, belakangan ia menyesalinya. Tak berselang lama keluar 
pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto 
yang mengancam akan mempidanakan golput. Bahkan ia mau memakai UU Terorisme 
untuk memenjarakan golput yang disebutnya sebagai “pengacau”. Ingat ya? Wiranto 
melabeli golput sebagai pengacau. Maklum anak ideologis fasisme orde baru.

Berulangkali Wiranto menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang 
seharusnya bisa menghukum para pengacau alias para golputers. Ironinya, bila 
memang benar negara ini negara hukum kenapa tak bisa mengadili pelanggar HAM 
berat! Mengapa tidak bisa menangkap para pembunuh aktivis dan pembunuh Munir! 
Mengapa Jokowi tidak menuntaskan persoalan pelanggaran HAM berat di Indonesia?  
So, bila supremasi hukum hendak ditegakkan di negeri ini, maka yang harus 
ditangkapi duluan adalah para pelanggar HAM, bandit politik, dan koruptor yang 
masih bergentayangan di panggung politik 2019 dan merupakan pengacau 
sesungguhnya republik ini, bukan rakyat. “Situ ngaca dong, Pak Wir?” Siapa Pak 
yang pengacau? Istighfar Pak, ingat nama Anda akan dikenangkan sebagai apa 
kelak. Yang jelas bukan pahlawan rakyat.

Beginilah jadinya, sang pengacau menuding orang lain mengacau. Maling teriak 
maling kata pepatah yang entah.

Menurut saya ini yang paling menggelikan dari semua keculasan elit politik di 
negeri ini. Bayangkan, orang yang jelas-jelas pelaku pelanggaran HAM berat 
masih bisa mengancam mau menghukum rakyat! Inilah prestasi terbesar perjuangan 
para aktivis pejuang HAM pendukung Jokowi maupun Prabowo. Menjadikan para 
pelanggar HAM kembali ke panggung politik Indonesia.

Eit, kita kembali ke MUI. Kita lompati saja membahas statemen Mega. Kita patut 
kasihan padanya. Sepanjang karir politiknya, ia berlindung di bawah ketiak 
bapaknya. “Ia memang anak biologis BK, tapi bukan anak ideologisnya” demikian 
jamak dikatakan banyak orang. Jadi tak usah terlalu banyak kita bahas di sini. 
Kasihan. Ia salah seorang golputers yang labil. Kini mengecam orang golput 
sebagai pengecut. Sepertinya ia juga lupa mengaca seperti Pak Wir! Tapi 
sudahlah ya, jangan paksa saya untuk membahas keculasannya di sini. Ya 
begitulah. Kasihan.

***

Belum lama ini beredar berita bahwa MUI mengeluarkan fatwa haram bagi golput. 
Meski demikian, kabar tersebut segera disanggah oleh salah seorang pejabat MUI, 
Ketua Bidang Fatwa Huzaimah, yang mengatakan bahwa MUI tidak pernah menerbitkan 
fatwa golput atau tidak memilih dalam pemilu adalah haram. Menurutnya, MUI 
hanya mengimbau agar masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2019 dan 
membuat empat syarat yang harus dimiliki calon pemimpin yang diambil dari empat 
sifat Rasulullah yaitu sidiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (aspiratif 
dan komunikatif), dan fatonah (cerdas atau memiliki kemampuan). Ini anjuran 
paling ilusif yang pernah saya dengar di dalam iklim demokrasi pasar. Tentu 
saja menggelikan. Hari gini menganjurkan memilih pemimpin yang jujur dan tidak 
menyebar hoax? Tahan dulu jangan ketawa. Nanti Anda dikira anti Islam.. Bahaya!

Berbeda dengan pernyataan ketua Bidang Fatwa MUI. Calon wakil presiden nomor 
urut 01 yang juga petinggi MUI, Ma’ruf Amin, mengatakan bahwa Majelis Ulama 
Indonesia (MUI) telah mengharamkan golput sejak 2009 melalui Ijtima’ Ulama di 
Padang Panjang, Sumatera Barat. Menurut pengakuannya, fatwa tersebut juga sudah 
disosialisasikan pada Pilpres 2014 lalu.

Jadi, kalau banyak ilmuwan politik sekarang gemar mengulang-ulang pernyataan 
hingga klise bahwa banyak terjadi politisasi agama untuk kepentingan politik, 
mereka lupa bahwa MUI adalah contoh paripurna bagaimana agama dipolitisir untuk 
kepentingan modal dan penguasa. Ia adalah contoh terbaik dari apa yang 
dikatakan oleh Althusser sebagai alat aparatus ideologis negara. Ya iyalah, 
lembaga produk orde baru! tugas dan fungsinya adalah memberi stempel bagi 
berlangsungnya struktur kuasa yang menindas untuk terus menindas.

***

Jadi begini, terkait dengan fatwa haram bagi golput oleh MUI, saya kok 
tiba-tiba ingin merasa umuk, kemaki, ujub, takabbur, sombong, congkak, dan 
sok-sok-an ngaku-ngaku relijius. Sebenarnya kalau boleh jujur, saya rugi 
mengklaim relijius di negeri mabok agama seperti NKRI ini. Sebab ini menurunkan 
level atau maqam saya setara dengan para nasionalis relijius NKRI harga mati. 
Bahkan istri saya sendiri telah mengingatkan, “masyarakat kita bukan makin 
relijius, tapi makin fanatis. Itu dua hal yang berbeda!” Oke saya sepakat.

Apalagi kata relijius sendiri sekarang tak ada lagi maknanya, kehilangan aura 
keramatnya. Lihat saja, politisi yang ditangkapi KPK semuanya adalah kaum 
nasionalis relijius. Bahkan ketua partai Islam berlambang Ka’bah. Memang 
terdengar ganjil. Tapi semua itu bisa dicari akarnya. Setelah peristiwa 
berdarah gorok-gorok leher orang di tahun 65-66, kesadaran historis orde baru 
menegasi semua warisan orde lama dengan mengganti narasi nasionalisme yang 
tumbuh mekar dalam taman solidaritas internasionalisme yang dibangun Bung 
Karno, dirontokkan semua diganti dengan narasi kebangsaan: nasionalisme 
relijius. Tujuannya tak lain untuk memutus kesadaran sejarah orde lama yang 
dianggap kekiri-kirian, kurang syar’i dan tentu saja tidak relijius diganti 
dengan cerita agung tentang surga lokanya Gusti Allah dalam terang peri 
kehidupan sosial politik di Indonesia. Mereka mau bilang, kini jaman kami, 
jaman beragama. Hidup dalam naungan ridla Allah, tidak seperti sebelumnya. 
Uniknya, di luar jangkauan pikir mereka, justru kini gusti Allah diobral murah 
untuk stempel tambang, dan perampasan tanah rakyat. Klop: nasionalis relijius 
plus NKRI Harga mati! Inilah jadinya.

***

Saya sebenarnya enggan dianggap relijius, meski faktanya beberapa orang 
menganggap demikian. Sederhana saja, mungkin untuk ukuran kawan saya yang 
kurang relijius, saya dianggap relijius. Namun bagi mereka yang ahli ibadah 
(abid), justru seringkali saya diolok-olok atau dikategorikan liberal. Jadi ini 
hanya murni soal ukuran. Tapi untuk menanggapi arogansi MUI, biarkan saya 
mengatakan pada Anda bahwa saya pernah dianggap relijius. Meski definisi 
relijius sendiri salah kaprah dan saya pertanyakan.

Anda boleh percaya, boleh tidak. Boleh menganggap saya relijius atau tidak. Tak 
jadi soal. Saya tak rugi dan tidak peduli. Bullshit dengan label itu. Tapi, 
sedikit cerita. Mungkin karena saya diasuh dalam keluarga yang sangat ketat 
dalam beragama (Islam). Apalagi orang tua saya keduanya guru ngaji dan aktivis 
Islam, khususnya ibu saya yang sangat taat. Sampai sekarang, saya selalu merasa 
bersalah setiap melanggar perintah agama, meski ukurannya kecil. Misal— ini 
sangat sering saya lakukan—telat sholat sampai tiba waktu sholat lainnya. Tahu 
dengan kebiasaan saya sering lupa sholat tepat waktu, khususnya ketika di luar 
rumah, tiap kali telepon, ibu selalu mengingatkan satu hal yang tak pernah ia 
lupakan: “sholatlah tepat waktu, karena itu akan dihisab pertama kali kelak di 
akhirat. Siapa yang sholatnya baik, maka amal lainnya akan baik”. Saya tak 
pernah menyanggah pesan tersebut, setidaknya saya tak ingin melukai hati orang 
tua.

Sekali lagi saya ingatkan, Anda menganggap saya relijius atau tidak, tidaklah 
penting. Namun hingga sekarang saya selalu merasa bersalah setiap melalaikan 
sholat. Di dalam Islam hukumnya dosa. Untuk urusan ini tak ada perbantahan di 
kalangan Ulama. Mungkin karena inilah kawan-kawan saya menganggap saya 
relijius, meski terkadang dengan nada mengolok. “Hari gini masih percaya dosa. 
Dosa itu kalaupun ada”, kata Soleh kawan saya satu kosan semasa sekolah, 
“adalah perasaan bersalah karena telah dengan sengaja berbuat tidak baik atau 
zalim pada orang lain”.  Oke, saya juga setuju dengan pandangan kawan baik saya 
ini.

Di Indonesia, ukuran seseorang relijius atau tidak adalah seberapa sering ia 
terlihat rajin sholat atau menjalankan ibadah mahdlah lainnya di masjid atau 
musholla, atau seberapa sering ia ikut majelis taklim. Jadi, yang dijadikan 
parameter saleh dan relijius bukanlah komitmen seseorang pada kehidupan sosial 
yang lebih baik, tapi seberapa rajin Anda sholat. Makanya jangan heran, di 
Indonesia, sebrengsek apapun orang seperti Haji Muhidin di sinetron “Tukang 
Bubur Naik Haji”, tetaplah dianggap relijius. Bahkan meski seandainya seseorang 
tersebut adalah maling. Apalagi kalau bertitel kiai, ustad dan pernah haji. 
Berani mengkritiknya? Anda mau dianggap musuh Islam? Berat ‘kan!

Membicarakan relijiusitas personal di tengah malapetaka sosial sebenarnya 
adalah kesia-siaan. Kurang ajar. Bahkan bisa dilihat sebagai kegagalan 
beragama. Saya sadar soal itu. Tapi kita tak perlu repot-repot menganalisanya 
di sini. Kita tak sedang bicara hal ihwal yang teoritis dan njlimet. Ini murni 
soal sesuatu yang absurd dan memuakkan di negara yang menyebut dirinya 
demokratis, nasionalis, dan apa? Ya, betul, relijius!

Intinya, setelah mendengar Ma’ruf Amin bilang golput haram (dan otomatis 
berdosa),saya mendadak ketagihan ingin terus menerus melakukan tindakan berdosa 
dengan golput sampai pencoblosan tiba. Kebayang ‘kan betapa besar dosa kita 
yang golput; telah didakwa merusak tatanan demokrasi oleh kaum ultranasionalis, 
dan dianggap membahayakan masa depan sosialisme oleh para kiri takfiri pemegang 
kunci kebenaran sabda Lenin. Bayangkan ya akhi, betapa pedihnya nanti nasib 
kita di akhirat kelak. Dikutuk di dunia, dirajam di neraka. Para golput akan 
meronta-ronta kesakitan pantatnya disunduti malaikat pakai besi panas karena di 
dunia telah berbuat dosa melanggar fatwa MUI dan mengerjakan perbuatan haram.

Sementara para pejabat MUI yang telah memberi stempel halalan thayyiba pada 
bisnis tambang batubara sebagai bisnis syar’i yang sesuai dengan 
prinsip-prinsip maqasid al syariah (tujuan dari syariah), tertawa cekikikan 
bersama Luhut di surga melihat nasib para golput di neraka, “rasain lho, siapa 
juga yang suruh kalian golput, kapokmu kapan? tuman! mending ikut kami. Jaya di 
dunia, jaya di surga!” Bisa dipastikan mereka di sorga bakal menggelar pesta 
dengan anggur dan wanita. Ya surga gitu lho! Jangan kalian pikir ada yang 
haram. Semua yang dulu haram sekarang menjadi halal semua. Pasti ada anggur dan 
sex-nya. Mereka mengulangi lagi kisah manis, berbagi kebahagiaan sebagaimana 
yang pernah mereka lakukan di dunia. Sementara itu para golput yang sebagian 
besar aktivis dan masyarakat korban pembangunan masih demo di neraka dan 
menangis merintih karena digamparin malaikat akibat perbuatan mereka di dunia, 
memilih golput di Pilpres 2019.

Berat memang menjadi golput. Kalau tak kuat biar Bilven dan Alghif saja yang 
menanggungnya. Kalian jangan. Resikonya dunia dan akhirat.

Tapi, jangan pernah lupa berbahagia dan berdoa pada Allah swt, siapa tahu Allah 
berbelas kasihan pada hambanya yang teraniaya. “Janganlah berputus asa dari 
rahmat Allah swt” seperti pesan al-Qur’an. Tak dapat surga tak masalah. Memang 
Anda mau masuk surga satu kamar dengan para pejabat MUI, Luhut, Wiranto, atau 
Sandiaga Uno? Serem ‘kan bayanginnya? Sekarang tak usah ngoyo, dapat surga 
alhamdulillah, tak dapat selow saja. Lebih baik di emperan surga saja ketimbang 
satu kamar dengan para bigot agama, penindas rakyat dan perusak lingkungan. 
Yang penting, lagi-lagi seperti pesan al-Qur’an, “jadikanlah sabar dan sholat 
sebagai pegangan hidup Anda”. Bagi yang sholat.

Kalian tak usah emosi hanya sekedar disebut pucuk tai oleh Alit Ambara, atau 
diolok-olok pengecut oleh Mega dan dituding mengidap gangguan mental dan 
berperilaku tak sedap oleh Romo Magnis. Anggap saja kegembiraan dalam 
berpolitik. Apalagi Romo Magnis. Anda tahu sendiri, sang Romo tak sedap-sedap 
amat kalau bahas politik di Indonesia sejak peristiwa 65. Klise. Minus mallum 
andalannya. Mencegah yang terburuk untuk berkuasa. Uniknya, kita 
keblangsakterus.

Kalau Alit? Ah, khusnudzan saja pada kawan senior kita. Jangan gampang berburuk 
sangka. Ini hanya soal selera. Ia bilang begitu, karena memang ia tak suka 
pucuknya, terlalu minimalis. Ia ingin bonggolnya. Lebih sedap bos! Takbir! 3x. 
***

(Tulisan yang dimuat di rubrik kolom merupakan opini pribadi penulis)

Kirim email ke