https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi
Rabu 10 April 2019, 11:50 WIB
Mimbar Mahasiswa
Mengelola Urbanisasi untuk Pertumbuhan
Ekonomi
Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4504255/mengelola-urbanisasi-untuk-pertumbuhan-ekonomi#>
Mengelola Urbanisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Foto: detik
*Jakarta* - Laporan Perekonomian Indonesia 2018 yang dibuat oleh Bank
Indonesia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 mencapai
5,17%, meningkat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yaitu sebesar
5,07%. Hal ini merupakan momentum pemulihan ekonomi Indonesia di tengah
ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global. Bahkan dalam asumsi dasar
ekonomi makro APBN 2019 pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,3% walaupun lembaga setingkat World Bank dan International
Monetary Fund (IMF) pesimis terhadap angka tersebut. Yang jelas, hal
tersebut tidak mengurangi optimisme pemerintah dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara,
di antaranya kualitas dan kuantitas tenaga kerja serta jumlah barang
modal yang merupakan faktor produksi utama. Jumlah tenaga kerja mampu
menentukan jumlah produksi, sedangkan mutu tenaga kerja yang ditopang
dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni mampu meningkatkan
produktivitas yang tinggi. Selain itu, banyaknya jumlah penduduk juga
akan mempengaruhi cakupan pangsa pasar yang luas yang akan menciptakan
dorongan terhadap pertambahan produksi nasional dan tingkat kegiatan
ekonomi.
Indonesia yang dikaruniai jumlah penduduk dan sumber daya alam yang
melimpah memiliki potensi menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi. Ditambah lagi bonus demografi yang akan
terwujud hingga beberapa tahun ke depan membuat Standard Chartered Plc
memprediksikan Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian
terbesar keempat di dunia pada 2030. Tentu saja hal ini bukan hanya
ramalan semata, karena potensi Indonesia yang begitu besar bahkan diakui
negara lainnya di dunia.
*Tertinggi di Asia*
Tingginya laju pertumbuhan penduduk Indonesia dapat menyebabkan
tingginya tingkat perpindahan penduduk dari desa ke kota. Terbatasnya
kesempatan dan lapangan kerja serta maraknya alih fungsi lahan pertanian
di desa membuat sebagian penduduk usia produktif memilih untuk mengadu
nasib di kota. Iming-iming upah yang tinggi dan fasilitas kehidupan yang
memadai di kota semakin menambah jumlah kaum urban di Indonesia.
Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas),
perkembangan jumlah penduduk perkotaan terus meningkat berdasarkan
perbedaan laju pertumbuhan penduduk daerah perkotaan dan daerah
perdesaan (Urban Rural Growth Difference/URGD). Dalam kurun waktu 5
tahun antara 2015-2020 diprediksi tingkat urbanisasi meningkat dari
53,3% menjadi 56,7% dan diproyeksikan menjadi 66,6% pada 2035. Laju
urbanisasi ini merupakan yang tertinggi di Asia. Potensi perpindahan
penduduk ke daerah perkotaan ini dapat membawa dampak positif bagi
perekonomian.
*Meningkatkan Pendapatan*
Urbanisasi dapat mendorong meningkatnya faktor utama pertumbuhan ekonomi
yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Urbanisasi mendorong meningkatnya jumlah pendapatan masyarakat desa yang
pindah ke kota. Tingginya tingkat upah di kota dibandingkan di desa
diikuti juga dengan pola perubahan konsumsi masyarakat. Jika masyarakat
di desa misalnya hanya menghabiskan satu hingga dua juta per bulan untuk
konsumsi, maka kehidupan di kota menawarkan tingkat konsumsi hingga
lebih dari dua kali lipat. Tingginya harga barang dan pola hidup
perkotaan yang cenderung konsumtif pada akhirnya ikut meningkatkan
tingkat konsumsi rumah tangga. Selain itu, tingginya perkembangan jumlah
penduduk di kota akan meningkatkan investasi dan belanja pemerintah di
kota.
Pembangunan infrastruktur dan fasilitas dasar seperti kesehatan,
pendidikan, jalan raya hingga fasilitas hiburan akan meningkat seiring
dengan bertambah luasnya cakupan pangsa pasar akibat dari meningkatnya
jumlah penduduk. Dengan berkembangnya infrastruktur ekonomi yang memadai
di perkotaan untuk menunjang kegiatan ekonomi seperti komunikasi,
transportasi, lembaga keuangan, dan sistem penyediaan energi juga turut
membangun lapangan pekerjaan baru. Bertambahnya lapangan pekerjaan ini
akan mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan serta mendorong
pemerataan ekonomi dengan adanya arus kas yang mengalir dari perkotaan
ke perdesaan dari kaum urban yang bekerja dan menyisihkan pendapatannya
untuk keluarga di desa.
Dengan demikian, meningkatnya tingkat urbanisasi dapat menjadi upaya
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ke depannya. Namun,
jika tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, urbanisasi justru
menjadi bumerang bagi negara. Urbanisasi pada dasarnya akan meningkatkan
pendapatan masyarakat. Kenaikan populasi di daerah perkotaan dapat
mendorong pertumbuhan PDB per kapita.
Di negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang tinggi
seperti Tiongkok dan India, dalam medio 1970 hingga 2012 misalnya,
setiap kenaikan satu persen populasi menaikkan pertumbuhan PDB per
kapita masing-masing sebesar sepuluh dan tujuh persen. Sedangkan di
Indonesia, kenaikan PDB per kapita hanya berkisar empat persen. Hal ini
menunjukkan urbanisasi di Indonesia belum mampu menaikkan tingkat
kesejahteraan masyarakat.
Potensi urbanisasi juga harus ditunjang dengan pembangunan infrastruktur
dan fasilitas yang memadai sehingga penduduk di daerah perkotaan dapat
terhindar dari masalah kemacetan, polusi, dan risiko bencana.
Bertambahnya jumlah populasi di kota jika tidak diikuti dengan
bertambahnya tingkat taraf hidup masyarakat justru akan menimbulkan
masalah baru di perkotaan. Kenaikan jumlah angkatan kerja yang tidak
diiringi dengan bertambahnya lapangan pekerja dan peningkatan mutu
tenaga kerja akan meningkatkan daya saing yang tinggi serta menambah
jumlah pengangguran dan kemiskinan yang pada akhirnya memicu kriminalitas.
Selain itu, masyarakat yang pindah dari perdesaan ke perkotaan jika
tidak diiringi dengan pengetahuan dan kesadaran hidup yang tinggi akan
mengurangi efektivitas penggunaan fasilitas yang disediakan negara.
Infrastruktur yang dibangun pemerintah jika tidak dimanfaatkan dengan
baik akan mengurangi fungsi dan manfaatnya. Hal ini dapat dilihat
contohnya secara nyata di ibu kota provinsi seperti DKI Jakarta, di mana
fasilitas publik bahkan menjadi sasaran vandalisme dan kesewenangan
penggunaan tanpa memperhatikan keberlangsungan ke depannya.
*Didukung Pemerintah*
Urbanisasi merupakan hal yang tak dapat dihindari khususnya bagi negara
berkembang seperti Indonesia. Namun, peningkatan populasi penduduk
daerah perkotaan juga harus didukung oleh pemerintah dan dimanfaatkan
dengan baik oleh masyarakat. Pembangunan infrastruktur di perkotaan
seperti perumahan rakyat yang sesuai dengan tata kelola perkotaan yang
optimal, transportasi publik dan fasilitas kesehatan serta pendidikan
formal yang terjangkau, sarana pengelolaan air bersih dan sanitasi yang
cukup serta layanan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan mutu
tenaga kerja. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan pemerataan
ekonomi di desa melalui optimalisasi penggunaan dan pengawasan dana desa
yang akan berdampak pada pembangunan ekonomi di desa serta mendorong
reklasifikasi desa perdesaan menjadi desa perkotaan.
Kualitas urbanisasi juga ditentukan dari kualitas kaum urban yang
berpindah dari desa ke kota. Peningkatan kualitas pendidikan di
perdesaan akan berdampak bagi meningkatnya kesadaran dan kepedulian kaum
urban terhadap kehidupan dan fasilitas di perkotaan sehingga masyarakat
yang berpindah dari desa ke kota mempunyai visi dan tujuan yang terarah,
bukan lagi hanya mengadu nasib namun juga meningkatkan taraf hidup dan
perekonomian rumah tangga. Juga pola pikir untuk menciptakan lapangan
pekerjaan sendiri dengan menjadi wirausaha daripada hanya sebagai
pencari kerja. Dengan demikian, pemanfaatan laju urbanisasi yang tinggi
dan bonus demografi yang optimal dapat mewujudkan peningkatan
pertumbuhan ekonomi tahun ini dan meningkatkan optimisme Indonesia
menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2030
mendatang.
*Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu* /mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN/
*(mmu/mmu)
*
**