/http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1491-tidak-ada-tiba-tiba
/
//
//
/*Tidak Ada Tiba-Tiba*/
Penulis: *Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 10 Apr
2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1491-tidak-ada-tiba-tiba>
<http://twitter.com/home/?status=Tidak Ada Tiba-Tiba
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1491-tidak-ada-tiba-tiba
via @mediaindonesia>
Tidak Ada Tiba-Tiba
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/94d9c8201e6c07788b420a7ad69fa3da.jpg>
/MI/Tiyok/
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
SETIAP mendengar pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla, selalu ada optimisme
yang kita dapatkan. Saat berbicara dalam peringatan ulang tahun Rakyat
Merdeka dan Warta Ekonomi pada Senin (8/4) malam, Wapres mengajak kita
untuk tidak takut dan khawatir menghadapi masa depan.
Kunci yang harus kita pegang ialah bagaimana bisa menguasai teknologi,
khususnya artificial intelligence dan biotechnology. Apalagi, menurut
Wapres, zamannya sudah berbeda dengan saat dirinya masih aktif menjadi
pengusaha. Kedua, bagaimana mempersiapkan orang-orang untuk bisa
menjalankan teknologi itu.
Mempersiapkan orang itulah yang sering kali kita lupakan. Seakan-akan
semua terjadi dengan sendirinya. Kita menjanjikan lapangan kerja yang
otomatis akan tersedia. Padahal, tanpa keterampilan yang memadai, tidak
mungkin orang akan bisa melompat untuk bisa menjalankan teknologi yang baru.
Tahun ini pemerintah baru mulai sungguh-sungguh memperhatikan soal
vokasi. Bukan hanya anggaran lebih dari Rp490 triliun yang disediakan,
pemerintah juga memberikan double deduction pajak kepada pihak swasta
yang mau melakukan vokasi sendiri.
Pemerintah menyadari era industri 4.0 tidak bisa dihindari. Kita harus
masuk ke era baru di saat sebagian pekerjaan akan ditangani dengan
otomasi. Tenaga kerja yang ada harus diberi keterampilan tambahan agar
bisa berpindah ke profesi barunya kelak.
Kalau ada pemimpin yang menjanjikan lapangan kerja tanpa menyiapkan
penambahan keterampilan, sebenarnya ia sedang memberi angin surga.
Mustahil kita akan bisa masuk ke era industri 4.0 dan menjadi bangsa
pemenang kalau keterampilan angkatan kerja tidak kita tingkatkan.
Beda pemimpin dengan warga biasa dilihat dari pikiran strategisnya.
Kalau pikiran strategisnya tidak masuk akal, pasti pemikirannya tidak
pernah akan bisa menjadi kenyataan. Kalaupun dipaksakan untuk jalan,
pasti akan terhenti di tengah jalan.
Ambil contoh program entrepreneurship yang dikembangkan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta melalui Warung OK OCE. Ide yang ditawarkan luar
biasa karena mencoba memberdayakan masyarakat untuk bisa menjadi
pedagang. Akan tetapi, mengapa banyak yang kemudian gulung tikar? Itu
karena para pengelolanya tidak cukup dibekali masalah inventori, cara
pengadaan barang, efisiensi, dan persaingan dengan warung yang sudah mapan.
Cara yang berbeda diterapkan beberapa kepala daerah di Jawa Tengah.
Mereka memulai dengan satu warung. Bahkan pejabat daerah itu mendatangi
pemilik korporasi besar seperti Indomaret atau Alfamart. Mereka
menyadari dalam pasar bebas tidak mungkin pendatang baru akan bisa
menang, apalagi dengan modal yang terbatas.
Dengan prinsip if you can’t beat them, join them, warung serbaada di
Jawa Tengah itu bisa bertahan. Apalagi untuk membedakan dengan toko-toko
milik korporasi besar, mereka menjual produk khas dari daerah itu yang
diminati masyarakat setempat.
Jusuf Kalla menjelaskan modal yang dimiliki bangsa ini untuk bisa maju
sangatlah besar. Sekarang tinggal bagaimana kita meningkatkan
produktivitas, mendorong ekspor, menguasai ilmu dan teknologi, serta
menguasai perdagangan.
Apabila kita ingin menjadi bangsa pemenang, kita harus juga mampu
membangun sinergi, terutama sinergi di antara tiga pilar, yaitu
pemerintah, ahli teknologi, dan dunia usaha.
Sinergi itu harus ditingkatkan karena akan menciptakan efisiensi dan
akhirnya daya saing.
Modal yang kita miliki untuk bisa maju semakin besar dengan
infrastruktur yang sudah tersedia. Empat tahun ini pemerintah gencar
membangun berbagai infrastruktur. Memang infrastruktur itu bukan tujuan,
melainkan alat yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menjalankan
kegiatan yang produktif.
Dengan modal yang baik itu, kita tinggal menjaga dan merawatnya. Kalau
kita mampu menciptakan keamanan dan ketertiban, orang akan semakin
berbondong menanamkan modal di Indonesia. Dengan investasi itulah kita
kemudian berharap semakin terbuka lebar lapangan pekerjaan untuk
masyarakat kita.
Untuk itulah berulang kali kita sampaikan, pemilihan umum yang sedang
kita jalani jangan sambil merusak rumah besar yang kita miliki. Silakan
terus bersaing untuk menarik suara masyarakat. Namun, jangan sampai
kemudian kita putuskan rasa persaudaraan, apalagi sampai ingin mengoyak
persatuan yang sudah 74 tahun kita bangun bersama-sama.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1491-tidak-ada-tiba-tiba>
<http://twitter.com/home/?status=Tidak Ada Tiba-Tiba
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1491-tidak-ada-tiba-tiba
via @mediaindonesia>