https://bisnis.tempo.co/read/1194724/ekonomi-indonesia-dikuasai-asing-hoaks-atau-fakta/full&view=ok
Ekonomi Indonesia Dikuasai Asing, Hoaks atau
Fakta?
Reporter:
Bisnis.com
Editor:
Dewi Rina Cahyani
Kamis, 11 April 2019 16:22 WIB
0 komentar
<https://bisnis.tempo.co/read/1194724/ekonomi-indonesia-dikuasai-asing-hoaks-atau-fakta/full&view=ok#comments>
9222
#
#
#
#
Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji
<https://statik.tempo.co/data/2019/01/10/id_810437/810437_720.jpg>
Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri
menjelaskan fakta dan hoaks yang beredar soal ekonomi Indonesia
<https://www.tempo.co/tag/ekonomi-indonesia>. Hal ini diungkapkan Faisal
dalam acara Panggung Kabaret Tek Jing Tek Jing untuk melawan hoaks
ekonomi yang mewarnai jalannya kampanye Pilpres 2019 di Gedung Soeharna
Hall, Kamis, 11 April 2019.
*Baca juga: Neraca Perdagangan Surplus, Darmin: Pertumbuhan Jangan
Terganggu
<https://bisnis.tempo.co/read/1185707/neraca-perdagangan-surplus-darmin-pertumbuhan-jangan-terganggu>*
Kabaret ini menampilkan orasi kebudayaan yang dibawakan oleh Faisal
Basri. Orasi kebudayaan ini merupakan rangkaian kampanye Pilpres 2019.
Dalam orasi kebudayaan ini, Faisal Basri menampilkan fakta dari hoaks
yang beredar. Isu pertama yang disoroti Faisal adalah masalah hoaks
'Ekonomi Indonesia di kuasai asing'. Hoaks beredar menampilkan peta
Indonesia yang bertaburan bendera asing.
Faisal membantah sinyalemen tersebut karena data justru menunjukkan
ekonomi Indonesia jauh dari dikuasai asing. "Perekonomian Indonesia
tidak saja tidak dikuasai asing, melainkan justru sebaliknya, peranan
asing relatif kecil dalam pembentukan kue nasional (produk domestik
bruto)," kata Faisal.
Sebaliknya, dari waktu ke waktu perekonomian Indonesia justru semakin
tertutup. Sepanjang sejarah kemerdekaan, ekonomi Indonesia tidak pernah
didominasi oleh asing.
Arus investasi langsung asing (foreign direct investment) yang masuk ke
Indonesia rerata setahun hanya sekitar 5 persen dari keseluruhan
investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto.
"Angka tersebut sangat kecil apabila kita sandingkan dengan
negara-negara tetangga dekat seperti Malaysia dan Filipina, yang peranan
modal asingnya berkali lipat jauh lebih besar dari kita," ujar Faisal.
Dengan negara komunis sekalipun seperti Vietnam dan negara sosialis
seperti Bolivia, Indonesia selalu lebih kecil. Peranan investasi asing
di Indonesia berada di bawah rerata Asia, apalagi dibandingkan dengan
negara di kawasan Asia Tenggara. Indonesia tidak pernah mengandalkan
modal langsung asing untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Akumulasi kehadiran investasi langsung asing hingga sekarang tidak
sampai seperempat dari PDB. Dia menuturkan belakangan ini meningkat jika
dibandingkan dengan rerata selama kurun waktu 2000-2004 yang baru 7,1
persen, namun masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam (50,5
persen), Bolivia (33,7 persen), Asia (25,7 persen), dan Asia Tenggara
(66,1 persen).
Lebih lanjut, Faisal mengatakan pernyataan-pernyataan tentang tenaga
kerja asing yang telah mengambil lahan pekerjaan WNI di dalam negeri
juga tidak ditopang data akurat.
Jumlah tenaga kerja asing di Indonesia hingga akhir 2018 ternyata tidak
sampai 100.000 orang. Bandingkan dengan jumlah tenaga kerja Indonesia di
luar negeri yang jumlahnya hampir 40 kali lipat. Sementara itu, lebih
dari 3,65 juta orang Indonesia berjuang dan bekerja di luar negeri.
Pada tahun 2018 mereka mengirimkan US$11 miliar ke sanak keluarganya
yang berada di Indonesia. Sebaliknya, remitansi tenaga kerja asing
sebesar US$3,4 miliar, sehingga kita menikmati surplus sebesar US$7,6
miliar. "Data ini kian menunjukkan keterbukaan lebih membawa maslahat
ketimbang mudarat bagi ekonomi Indonesia
<https://bisnis.tempo.co/read/1189343/ekonom-bonus-demografi-bisa-dorong-pertumbuhan-ekonomi>,"
ujar Faisal.
BISNIS