Ya gimana menggiring? Emangnya sapi hehehehe digiring2?

Ya karena ente tulalit jadinya gak ngerti baca tulisan orang.

Gini aja repot hehehehe?!

 

Sono tu lihat omongannya monsignor ignatius suharyo uskup agung Jakarta. Lihat 
imbaunnya. Baca substansinya. Ya sama saja gak menggiring tetapi orang yg bukan 
bisu tuli dan buta akan tahu isinya suruh coblos yg mana.

 

Gereja katholik juga waktu orba/soeharto masih mau jadi presiden, juga 
mengeluarkan statement begini. Tapi isinya mah orang2 tahu: jangan pilih 
soeharto. Bahasa yg dipakai: pakai hati Nurani dlsbg.

 

Dasaaaarrr….

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Thursday, April 11, 2019 2:26 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Romo Magnis: Politisasi Agama Cara Berpolitik Tak 
Bermartabat

 

  

 

Romo Magnis sendiri mengaku dalam beberapa undangan di acara Katolik, tidak 
pernah menggiring penganut Katolik untuk memilih partai politik, caleg, atau 
Capres-Cawapres tertentu, tetapi dirinya hanya berpesan agar menjadi orang 
Katolik yang baik, yakni dalam berpolitik tidak menyeret-nyeret agama.

....


 
<https://www.senayanpost.com/romo-magnis-politisasi-agama-cara-berpolitik-tak-bermartabat/>
 Romo Magnis: Politisasi Agama Cara Berpolitik Tak Bermartabat


 <https://www.senayanpost.com/author/miftahulum/>   
<https://www.senayanpost.com/author/miftahulum/> M Ulum 2 hari ago

  
<https://i1.wp.com/www.senayanpost.com/wp-content/uploads/2019/04/Frans-Magnis-Suseno.jpg?resize=702,405&ssl=1>
  

Frans Magnis Suseno

 

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pemilu tinggal menghitung hari. Para politikus 
berlomba-lomba menarik simpati masyarakat agar memilih partainya, calon 
legislatif (caleg), bahkan calon presiden dan calon wakil presiden yang 
diusungnya.

 

Namun, tak jarang dalam upaya meraih tujuan politiknya, para politikus 
menghalalkan segala cara, termasuk mempolitisasi agama.

 

Fenomena politisasi agama yang sering dipertunjukkan para politikus sangat 
disayangkan Franz Magnis Suseno.

 

 

Pria yang kerap disapa Romo Magnis ini menyatakan bahwa orang yang beragama 
seharusnya dalam berpolitik menggunakan cara-cara yang bermartabat.

 

“Tentu kita berpolitik sebagai orang beragama mestinya berpolitik secara 
bermartabat, tetapi tidak dengan memanfaatkan agama untuk kepentingan politik,” 
kata Romo Magnis, Senin (8/4), diktip dari NU Online.

 

Romo Magnis sendiri mengaku dalam beberapa undangan di acara Katolik, tidak 
pernah menggiring penganut Katolik untuk memilih partai politik, caleg, atau 
Capres-Cawapres tertentu, tetapi dirinya hanya berpesan agar menjadi orang 
Katolik yang baik, yakni dalam berpolitik tidak menyeret-nyeret agama.

 

“Perbedaan politik boleh, ada yang mendukung Jokowi berdebat hebat, apakah mau 
memilih Prabowo atau sebaiknya, tetapi tidak atas dasar agama,” ucapnya.

 

Hal ini diutarakan karena dinilainya sangat penting agar tidak ada salah satu 
pihak yang memonopoli agama dan menyalahkan pihak lain.

 

“Saya kira (memonopoli agama) itu tidak hanya salah, tapi itu agak sedikit 
menyerempet pelecehan,” imbuhnya.

 

Ia menyatakan, semua orang yang terlibat dalam hiruk-pikuk politik merupakan 
orang yang beragama. Sehingga dirinya berharap, seusai pemilihan umum, semua 
pihak kembali menjalin hubungan dengan baik.

 



Kirim email ke