*Kalau orang bekerja satu jam dalam seminggu dihitung bukan penganggur,
maka bisa jadi angka pengangguran akan lebih dari 7 juta, sama halnya
dengan angka kemiskinan akan lebih dari 25 juta. Apakah asumsi tsb benar?
Apa komentar Anda?*


http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7795/miris__jumlah_penduduk_miskin_ri_kalahkan_seluruh_penduduk_australia



*Miris, Jumlah Penduduk Miskin RI Kalahkan Seluruh Penduduk Australia*

Rabu , 10 April 2019 | 13:20





JAKARTA - Klaim keberhasilan pemerintah yang sukses menurunkan angka
kemiskinan menjadi di bawah 10 persen ternyata bukan lah kabar gembira.

Faktanya, populasi jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis
kemiskinan tenyata mengalahkan seluruh jumlah penduduk Australia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2018,
persentase kemiskinan Indonesia turun menjadi 9,66%. Dengan demikian,
jumlah penduduk yang masih terjerat kemiskinan yakni, 25,67 juta jiwa.

"Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan itu lebih
banyak dari total penduduk Australia yang 25 juta orang," ungkap Menteri
Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasionaol (Bappenas), Bambang Brodjonegoro seperti dikutip
dari *cncbindonesia.com
<http://cncbindonesia.com>*, Rabu (10/4/2019).

Begitu juga dengan pengangguran. Pada Agustus 2018, data BPS menunjukkan
persentase pengangguran menurun 5,34%. Hal ini berarti, jumlah penduduk
Indonesia yang masih menganggur adalah 7 juta orang.

Lagi-lagi Bambang mengatakan, jumlah pengangguran di Indonesia lebih besar
dari total penduduk Singapura, yang berdasarkan data Department Of
Statistics Singapore hanya 5,6 juta orang.

"Dengan 7 juta pengangguran itu jelas bukan angka yang kecil, lebih dari
jumlah penduduk Singapura. Jadi mengurus Indonesia memang bukan hal yang
mudah."

Dengan angka-angka tersebut, Bambang ingin agar pemerintah daerah bisa
menyadari pentingnya peranan mereka. Pasalnya, jika hanya mengandalkan
pemerintah pusat, tentu tercapainya pemerataan kesejahteraan sosial akan
lambat. Pemerintah daerah diminta mengembangkan kebijakan daerah yang bisa
menekan angka kemiskinan dan pengangguran.

"Jangan semuanya bergantung pada kebijakan ekonomi nasional. Tapi juga
harus ada kebijakan ekonomi lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan
mendorong ekonominya. Tidak bisa kita hidup ke era sentralisasi," tandasnya.



Sumber Berita:CNBC Indonesia

Kirim email ke