-------- 轉寄郵件 --------
主旨: Pemimpin idaman eks tahanan politik di Buru
日期: Fri, 12 Apr 2019 14:30:19 +0800
從: ChanCT <[email protected]>
到: GELORA_In <[email protected]>
Pemimpin idaman eks tahanan politik di Buru
* ARSIP PEMILU <https://pemilu.antaranews.com/arsip-pemilu>
* 12 April 2019 10:07
Pemimpin idaman eks tahanan politik di BuruSalah seorang eks tahanan
politik, Harto Wiyono (71) sedang merawat tanaman hias dan tanaman obat
di halaman rumahnya di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Pulau Buru,
Senin (25/3/2019). Harto Wiyono merupakan satu dari 17 eks tapol yang
memilih menetap di Pulau Buru. ANTARA /Jimmy Ayal.
Pemimpin Indonesia ke depan harus mampu mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat...
Ambon (ANTARA) - Harto Wiyono (71) sedang berada di ladang saat anggota
Satuan Polisi Pamong Praja menjemput dan memberi tahu dia bahwa ada tamu
yang menunggu di rumahnya.
Pria jangkung itu tergopoh-gopoh turun begitu sepeda motor anggota
Satuan Polisi Pamong Praja yang dia tumpangi berhenti di jalan depan
pekarangan rumahnya. Ia bergegas masuk ke rumah sebentar, kemudian
keluar lagi dengan senyum sumringah untuk menyambut tamunya.
"Maaf saya baru dari ladang dan tidak menduga akan kedatangan tamu,"
kata Harto saat menerima kunjungan tim Antara di rumahnya di Jalan Sedap
Malam, Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru.
Harto pada masa lalu termasuk tahanan politik yang diasingkan ke Pulau
Buru dan ditempatkan di area Unit IV, yang kini Desa Savana Jaya.
"Saat dibuang ke sini, kerja sehari-hari adalah membabat hutan dan
alang-alang dengan tangan kosong, mencetak sawah dan membuat jalan serta
bendungan dengan peralatan seadanya," katanya mengenang masa-masa
awalnya di Pulau Buru.
Bersama para tahanan politik yang sekitar akhir tahun 1960-an sampai
awal 1970 dibuang ke Buru karena dituduh punya hubungan dengan Partai
Komunis Indonesia, dia membangun rumah dan tempat ibadah, serta membuka
dan mengolah lahan pertanian.
Bekas tahanan politik yang tersisa di Savana Jaya sekarang tinggal 17
orang, termasuk Harto. Mereka memilih menetap dan menghabiskan sisa
hidup di Pulau Buru setelah semua tahanan politik dinyatakan bebas pada
1979.
Harto memilih tidak kembali ke daerah asalnya di Solo karena sudah tidak
lagi mengetahui keberadaan keluarga dan sanak saudaranya di sana.
"Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman pasti ada. Tetapi saya tidak
tahu keberadaan orang tua, kedua adik saya dan keluarga mereka," ujar Harto.
Saat ditangkap Harto masih muda. Ia merupakan anak sulung dari tiga
bersaudara. Kedua adiknya, Supomo dan Suwandi, masih remaja saat Harto
ditangkap dengan tuduhan terlibat kegiatan partai terlarang.
Kedua orang tua Harto juga ditangkap, namun dia tidak tahu mereka
diasingkan ke wilayah mana. Keluarganya tercerai-berai.
Meski demikian Harto mengaku tidak sampai merasakan kesedihan mendalam
selama menjalani masa pengasingan di Pulau Buru.
"Dulu kalau ada yang menangis pasti diketawai oleh kawan yang lain.
Makanya kami selalu gembira dan senang menjalani hidup semasa itu," kata
Harto, mengenang masa lalu dalam wawancara dengan Antara, yang
disaksikan dan direkam oleh aparat keamanan dan perangkat desa.
*Racun dan Madu*
Harto menuturkan bahwa pada awal masa pembuangan para tahanan politik
sempat dijauhi warga setempat karena dianggap sebagai orang jahat.
Selama dalam pengasingan, para tahanan politik ibarat menelan racun yang
menggerogoti tubuh setiap waktu. Mereka harus menghadapi kerasnya alam
untuk bertahan hidup, membuka hutan dan mengolahnya menjadi lahan
pertanian produktif.
Setelah semua tahanan politik di Pulau Buru dinyatakan bebas, sebagian
memilih tinggal, tidak kembali lagi ke daerah asal. Status mereka
berubah dari tahanan politik menjadi transmigran swakarsa.
Sebagai transmigran, Harto dan bekas tahanan politik yang lain berhak
mendapatkan satu unit rumah dan pekarangan seluas 1/5 hektare, kebun 3/4
hektare, sawah satu hektare, hewan ternak dan sedikit uang sebagai bekal
memulai hidup baru sebagai orang bebas.
Mereka yang bertahan berperan dalam membangun Buru menjadi daerah
pertanian yang maju.
Bagi Harto dan 16 rekannya, pulau pengasingan itu kemudian menjadi
tempat yang damai untuk hidup, berkeluarga dan mencari makan.
Ibarat madu, Pulau Buru kini didatangi banyak warga yang ingin membangun
kehidupan yang lebih baik.
"Di sini asal mau kerja pasti berhasil, daerahnya masih luas dan subur.
Hanya butuh tenaga dan kerja keras saja," kata Harto.
*Tenang Menyambut Pemilu*
Gedung kesenian di Desa Savana Jaya Kecamatan Waiapo, Pulau Buru, Senin
(25/3). bangunan yang menjadi gedung kesenian bai para tapol itu,
merupakan satu-satunya bangunan sejarah yang tersisa. (ANTARA/Jimmy Ayal)
Harto kini hidup tenang di Savana Jaya bersama istrinya Sumarmi dan
keluarga besarnya. Dia punya tiga anak dari pernikahan pertama, dua anak
dari pernikahannya dengan Sumarmi, dan lima anak angkat.
Dari anak-anak maupun anak angkatnya, ia kini punya 18 cucu.
"Kalau semua cucu berkumpul rumah ini menjadi sangat ramai," katanya,
lalu tertawa.
Dia menghabiskan sebagian harinya untuk menggarap ladang seluas setengah
hektare yang ditanami aneka buah, sayur dan palawija, serta kebun
tanaman obat dan tanaman hias di halaman rumah.
Sebagaimana warga Savana Jaya lainnya, Harto juga merasakan kemeriahan
menjelang pesta demokrasi dan bersiap-siap menggunakan hak pilih.
Dia berharap kemeriahan pemilihan umum tidak dinodai dengan aksi saling
menjelekkan antar-kontestan, juga penyebaran informasi dan berita bohong
serta ujaran kebencian.
"Syukurlah warga di Savana Jaya tidak terpengaruh dengan berbagai
tayangan berita yang berisi ujaran kebencian, hoaks atau saling
menjelekkan antarsesama pendukung," ujarnya.
Ia mengatakan warga Desa Savana Jaya umumnya hanya menganggap tayangan
negatif seperti angin lalu.
"Di sini tidak ada yang saling menjelekkan atau menyebar berita bohong.
Hidup rukun, aman dan damai sangat dijunjung tinggi warga Savana Jaya,"
katanya.
*Pemimpin Idaman*
Saat berbincang mengenai Pemilu 2019, ketika warga akan memilih
presiden/wakil presiden, serta anggota DPD, DPR, DPRD I dan DPRD II
dalam satu waktu, Harto juga mengungkapkan karakter pemimpin idamannya.
"Bangsa ini butuh pemimpin masa depan yang merakyat. Artinya
mengutamakan kesejahteraan masyarakat di atas segala-galanya," katanya.
Pemimpin bangsa lima tahun mendatang, menurut Harto, haruslah
Pancasilais, mampu menjalankan butir-butir penghayatan dan pengamalan
dasar negara.
"Pemimpin Indonesia ke depan harus mampu mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia," katanya.
Keadilan sosial yang dia maksud adalah pemerataan pembangunan di
berbagai sektor yang manfaatnya menjangkau warga seluruh pelosok Tanah
Air hingga lapisan masyarakat paling bawah.
"Jangan sampai yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin malah
tambah miskin," demikian Harto Wiyono.
Pewarta:Jimmy Ayal
Editor: Maryati
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com