-------- 轉寄郵件 --------
主旨: Prabowo Sering Cemooh Utang, Faisal Basri: Negara Masih Aman
日期: Fri, 12 Apr 2019 14:53:21 +0800
從: ChanCT <[email protected]>
到: GELORA_In <[email protected]>
Prabowo Sering Cemooh Utang, Faisal Basri: Negara Masih Aman
Reporter:
Francisca Christy Rosana
Editor:
Rahma Tri
Jumat, 12 April 2019 11:31 WIB
Faisal Basri. TEMPO/M. Taufan RengganisFaisal Basri. TEMPO/M. Taufan
Rengganis
TEMPO.CO, Jakarta –
Jumlahutang<https://bisnis.tempo.co/read/1194230/cara-prabowo-raih-pertumbuhan-ekonomi-8-persen-dinilai-parsial>negara
acap menjadi narasi renyah bagi calon presiden Prabowo Subianto untuk
mencemooh pemerintah. Dalam beberapa kesempatan, Prabowo mengatakan
Indonesia tidak terlalu dihormati di kawasan Asia Tenggara lantaran
beban utang dan mata uang yang lemah.
*Baca:* Prabowo Kritik Pertumbuhan Ekonomi, Luhut: Kok Kasar Gitu
<https://bisnis.tempo.co/read/1193508/prabowo-kritik-pertumbuhan-ekonomi-luhut-kok-kasar-gitu>
Menanggapi narasi yang masif didengungkan kubu Prabowo ini, ekonom
Faisal Basri memastikan bahwa posisi utang pemerintah saat ini masih
dalam batas aman. Dalam Orasi Kebudayaan yang ia sampaikan Kamis, 11
April 2019, Faisal menganggap utang negara aman lantaran nisbah utang
atau/debt to GDP ratio/tergolong sangat rendah.
“Saat ini, utang negara hanya 30 persen dan masih separuh dari batas
maksimum yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara,” ujar Faisal dalam orasinya, yang juga ia tulis kembali
melalui laman pribadinya di Faisalbasri.com.
Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia ini juga memandang bahwa
perilaku utang bagi sebuah pemerintahan bukan hal yang buruk. Menurut
dia, utang merupakan kebijakan untuk menggenjot potensi pertumbuhan
ekonomi secara maksimal. Dengan utang, negara akan tumbuh lebih pesat.
“Jadi jelas kiranya bahwa utang produktif adalah sesuatu yang positif,
bukan nista atau najis sehingga harus dijauhi dengan risiko apa pun,”
ucap dia.
Dalam data yang dipaparkan, Faisal mengatakan PDB negara menurut harga
berlaku pada 2018 adalah sebesar Rp 14,8 triliun. Itu artinya,
pendapatan domestik negara masih lebih tinggi ketimbang utang.
Faisal lalu membandingkan utang Indonesia dengan nisbah utang
negara-negara lain dengan sebuah grafik batang. Jerman, misalnya. Negara
yang menduduki peringkat ketujuh negara paling bahagia itu ternyata
memiliki nisbah utang 64 persen dari PDB. Sedangkan Kanada memiliki
nisbah utang 90 persen dari GDP. Padahal, Kanada merupakan negara yang
menduduki peringkat kesembilan negara paling bahagia di dunia.
ADVERTISEMENT
Begitu juga dengan Amerika Serikat, dengan nisbah utang 105 persen dari
PDB. Amerika Serikat berhasil menduduki peringkat ke-19 negara paling
bahagia di dunia. “Punya utang tidak membut rakyat sengsara. Negara yang
memiliki rasio utang lebih besar Bahkan masuk 20 besar negara
terbahagia,” ujarnya.
Pada kampanye 28 Oktober 2018 lalu, Prabowo menuding utang pemerintah
membuat negara berada di ambang garis risiko. “Bloomberg mengutip
situasi ekonomi Indonesia/risky/, berbahaya. Paling berbahaya karena
utangnya,” ucap dia.
Calon wakil presiden Sandiaga Uno juga kerap menggunakan narasi utang
negara sebagai amunisi untuk kampanye. Sandiaga acap menyebut utang
negara membuat beban rakyat yang semakin berat. Ia menyindir, utang
untuk pembangunan infrastruktur yang gencar pada masa pemerintahan Joko
Widodo atau Jokowi belum bisa mengelarkan urusan dapur rakyat. “Belum
bisa menyelesaikan permasalahan dompet dan dapur," kata Sandiaga dalam
sebuah kampanye di Yogyakarta pada 22 Maret lalu.
Baca: Bunga Utang Terus Meningkat, Pemerintah Diminta Waspada
<https://bisnis.tempo.co/read/1189406/bunga-utang-terus-meningkat-pemerintah-diminta-waspada/full&view=ok>
Kementerian Keuangan pada Februari lalu merilis data kondisi fiskal
tahun berjalan 2019 lewat APBN Kita. Dalam rilis tersebut tercatat bahwa
posisi utang pemerintah pada Maet 2019 sebesar Rp 4.566,26 triliun.
Jumlah tersebut setara 30,33 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB.
Kementerian menyebutrasio utang
<https://bisnis.tempo.co/read/1190196/faisal-basri-sebut-cina-bukan-pemberi-utang-terbesar-ri-tapi>masih
berada pada taraf yang aman mengingat besaran utang pemerintah yang
ditetapkan dalam Undang Undang Keuangan Negara maksimum sebesar 60
persen dari PDB. Adapun, jika dibandingkan dengan Januari 2019, posisi
utang tersebut tercatat meningkat dari sebelumnya sebesar Rp 4.498,65
triliun. Angka ini juga meningkat jika dibandingkan pada posisi Februari
2018 yang mencapai Rp 4.034,80 triliun.
ADVERTISEMENT
FRANCISCA CHRISTY ROSANA | BUDIARTI UTAMI | MUH SYAIFULLAH | DIAS
PRASONGKO | ANTARA
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com