Pengamat: Jokowi dan Prabowo Manfaatkan Sentimen Agama di Pilpres
Reporter:
Francisca Christy Rosana
Editor:
Syailendra Persada
Selasa, 16 April 2019 07:07 WIB
(ki-ka) Pemimpin Redaksi Tempo.co, Wahyu Dhyatmika, Direktur Eksekutif
Center for Strategic and International Studies, Philips Vermonte, Dosen
Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi, dan Koordinator Nasional Jaringan
Gusdurian, Alissa Wahid, dalam diskusi (ki-ka) Pemimpin Redaksi
Tempo.co, Wahyu Dhyatmika, Direktur Eksekutif Center for Strategic and
International Studies, Philips Vermonte, Dosen Universitas Gadjah Mada,
Dodi Ambardi, dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid,
dalam diskusi "Menatap Indonesia setelah Pemilu" di Ruang & Tempo,
Palmerah, Jakarta, Senin, 15 April 2019. TEMPO/Bintari Rahmanita
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada,
Dodi Ambardi, mengatakan tren polarisasi agama di Indonesia masih kuat
di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Bahkan, selama kontestasi,
kedua pasangan calon presiden, Joko Widodo atauJokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi> dan lawannya Prabowo Subianto, turut
memobilisasi agama untuk mendapatkan dukungan dari kelompok tertentu.
Baca: TKN Jokowi Lapor Dugaan Kecurangan Pemilu di LN ke Bawaslu
<https://pemilu.tempo.co/read/1196049/tkn-jokowi-lapor-dugaan-kecurangan-pemilu-di-ln-ke-bawaslu>
“Masing-masing mencoba untuk memanfaatkan sentimen agama yang terpolar,
yang diharapkan dapat membetot dukungan politik,” kata Dodi dalam
diskusi bertajuk ‘Menatap Indonesia Setelah Pemilu’ di kantor Tempo,
Senin petang, 15 April 2019.
Dodi mencontohkan, mobilisasi agama telah dilakukan calon presiden Joko
Widodo atau Jokowi saat memilih wakil presidennya, yakni Ma’ruf Amin.
Penetapan Ma’ruf Amin sebagai pendamping tak diprediksi oleh masyarakat.
Sebab, Jokowi kala itu santer dikabarkan akan menggandeng Mahfud MD
sebagai cawapres.
Menurut Dodi, Mahfud MD memiliki ketokohan dengan kredensial Islam yang
mumpuni, bahkan melampaui Ma’ruf. Namun, Ma’ruf diduga dipilih lantaran
namanya turut berperan pada munculnya gerakan 212 pada 2016.
Ma’ruf dianggap mampu menarik elektoral dari kelompok konservatif dalam
banyak. “Paling tidak (Ma’ruf) membentengi Jokowi dari anggapan terlalu
abangan atau kejawen,” ujarnya.
Sikap seragam turut ditunjukkan calon presiden Prabowo Subianto.
Prabowo, ujar Dodi, turut merangkul tokoh dalam lingkaran 212, misalnya
Rizieq Sihab. Pentolan Front Pembela Islam itu ditengarai memiliki
hubungan dekat dengan koalisi Prabowo. Adapun sikap Prabowo memobilisasi
tokoh 212 itu tak jauh dari tujuan penggalangan dukungan.
ADVERTISEMENT
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian (JGD) Alissa Qotrunnada
Munawaroh atau Alissa Wahid mengatakan situasi pilpres yang sarat
polarisasi agama ini merupakan perubahan karakteristik demokrasi.
Persepsi masyarakat yang telah bergerak berubah terhadap politik ini
dipengaruhi iklim menguatnya sentimen agama dalam Pilkada DKI.
Simak: Masa Tenang, Prabowo Akan Olahraga. Kira-Kira Olahraga Apa?
<https://gaya.tempo.co/read/1195981/masa-tenang-prabowo-akan-olahraga-kira-kira-olahraga-apa>
“Kalau kita bicara 1998, rakyat melawan negara /people versus people/.
Tapi kondisi ini berubah, /people versus people/,” ujarnya dalam acara
yang sama.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com