https://www.indopos.co.id/read/2019/04/16/172005/situs-cadas-pulau-kaimear-terancam-rusak




Situs Cadas Pulau Kaimear Terancam Rusak
Redaktur: Novita Amelilawaty
5 jam yang lalu
 Share  Share  Tweet
[image: Situs Cadas Pulau Kaimear Terancam Rusak - Nusantara]

indopos.co.id - Situs gambar cadas purbakala di Desa Kaimear, Pulau
Kaimear, Kecamatan Pulau-Pulau Kur, Kota Tual dilaporkan terancam rusak
akibat pengaruh alam dan aksi vandalisme yang dilakukan oleh masyarakat
setempat.

"Berdasarkan pengamatan di situs tampak lebih banyak kerusakan pada gambar
cadas," kata Arkeolog Wuri Handoko dari Balai Arkeologi Maluku, di Ambon,
Selasa (16/4/2019).

Situs gambar cadas atau rock art di gua ceruk tebing tepi pantai Pulau
Kaimear baru didata oleh Balai Arkeologi Maluku pada September 2018. Situs
ini diketahui memiliki jumlah gambar, motif dan ragam terbanyak yang pernah
ditemukan di wilayah Maluku, bahkan lebih banyak dari yang pernah ditemukan
di Ohoidertawun, Pulau Kei Kecil pada 1988.

Menurut Wuri, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi
Maluku, pada sisi kiri gua atau bagian Barat, tampak lebih banyak kerusakan
gambar cadas yang ditandai banyaknya gambar cadas yang terlihat tidak
jelas, seperti terjadi pengelupasan warna (pigmen) gambar cadas.

Ini kemungkinan disebabkan oleh terpaan sinar matahari langsung terutama
pada saat siang dan sore hari.

Selain gambar yang mulai mengelupas, kerusakan lain di situs yang
mengkhawatirkan adalah pada beberapa bagian panel dinding gua terdapat
banyak coretan-coretan (vandalisme) yang dilakukan oleh masyakat lokal saat
mengunjungi lokasi situs.

"Ketidakpahaman masyarakat mengenai makna penting gambar cadas, membuat
mereka tak peduli. Pada umumnya, masyarakat tidak menganggap penting dan
sebatas mengetahui keberadaannya tanpa memahami nilai pentingnya untuk
menjaga atau melestarikannya," ujarnya.

Menurutnya, gambar-gambar cadas purbakala di Pulau Kaimear menampilkan
bentuk figuratif dan non figuratif. Bentuk figuratif diantaranya adalah
bentuk manusia, perahu, bentuk cap tangan dan hewan. Sedangkan bentuk non
figuratif diantaranya berupa bentuk garis, titik dan lingkaran.

Bentuk gambar manusia terdiri dari bentuk manusia biasa, manusia tinggi
(jangkung), manusia dengan membawa atribut peralatan semacam senjata,
manusia dengan pikulan, manusia menari dan wajah manusia berbentuk bulat
dan segitiga.

Sementara bentuk gambar binatang pada umumnya menampakkan gambar yang sulit
untuk diidentifikasi.

Penduduk setempat, kata Wuri pada awalnya hanya memahami bahwa gambar cadas
di dinding gua yang ada adalah buatan orang-orang yang bersembunyi pada
masa kedatangan orang-orang Portugis pada masa lalu.

Meskipun tidak ada hubungan kontekstual dengan adanya gambar cadas di Pulau
tersebut, tapi menurut penjelasan penduduk lokal, Pulau Kaimear dianggap
sebagai "pulau rebutan", yakni pulau yang diperebutkan untuk dihuni atau
dimiliki oleh banyak penduduk dari tempat lain.

Tidak diperoleh informasi lebih jelas, mengapa penduduk menyebutnya sebagai
pulau rebutan atau pulau yang diperebutkan.

"Bagi penduduk ceruk gambar cadas hanyalah tempat yang menarik untuk
berwisata," ucapnya.

Lebih lanjut Wuri mengemukakan kondisi Desa Kaimear di Pulau Kaimear
tergolong terpencil. Berada jauh dari pusat administratif Kota Tual
menyebabkan kondisi desa tersebut masih terisolir, terbatas dari akses
komunikasi jarak jauh, energi listrik dan sumber air bersih.

Pada musim kemarau, penduduk harus mengambil air bersih di Pulau Kur yang
berada di ibukota kecamatan Pulau-Pulau Kur, dengan jarak tempuh rata-rata
satu jam perjalanan laut menggunakan perahu.

Untuk menyeberangi ke Pulau Kur yang berjarak 20 kilometer yang dipisahkan
oleh selat yang terbuka, merupakan tantangan tersendiri, terutama pada
musim-musim ombak sedang tinggi.

Dalam sebuah perbincangan dengan penduduk di Kota Tual, kata Wuri ada isu
yang berkembang tentang upaya pemerintah Kota Tual merelokasi penduduk dari
Pulau Kaimear, tapi isu tersebut kemudian tidak pernah terdengar lagi.

"Sejak kedatangan tim penelitian arkeologi Balai Arkeologi Maluku pada awal
September 2018, penduduk menganggap situs gambar cadas Pulau Kaimear
menjadi harapan baru bagi mereka. Di tengah segala keterbatasan saat ini,
diharapkan menjadi pintu masuk perhatian pembangunan di pulau itu,"
ujarnya. (ant)

Kirim email ke