Menurut saya, masalah sengketa ini pulau di LTS ini harusnya dilihat begini:

1. AS harus keluar dari usaha meneruskan KUASA nya di LTS! Biarkanlah negara2 bersangkutan menyelesaikan masalahnya sendiri, AS jangan ikut campur apalagi merecoki usaha perundingan dgn latihan militer bersama, terus menjual senjata-senjata modern dengan daya mematikan yg dahsyat, .... Saya yakin TANPA campur tangan AS negara2 bersangkutan BISA menyelesaikannya secara damai dan baik2!

2. Pulau2 yg jadi sengketa itu, sementara belum diselesaikan, jangan dijamah atau diinjak oleh pihak manapun, ... nampaknya Filipina dan Vietnam berhasil diojok-ojok AS utk membangun dipulau sengketa itu! Tentu saja RRT yg menganggap itu juga merupakan pulau/wilayah kedaulatan nya akan dipertahankan mati-matian.

Begitu juga bisa diajukan sebagai contoh yg lebih jelas dengan sengketa pulau Tiao Yu, di Laut Tiongkok Timur dengan Jepang. Selama belum mendapatkan penyelesaian, jangan jamah pulau Tiao Yi itu! Tapi, begitu Jepang resmi hendak menjual pulau Tiao Yi itu pada konglomerat Jepang dan akan bangun pelabuhan utk proyek wisata disitu, ... jadi TEGANG lah hubungan RRT-Jepang! Dan RRT akan tetap berusaha keras penguasaan atas pulau Tiao Yi itu TETAP KOSONG seperti sekarang, tidak ada pihak manapun yg boleh menjamah dan menginjakkan kakinya disitu!

Sebenarnya saja, RRT dengan Vietnam dan Filipina, sesuai dengan berita yg pernah saya ikuti beberapa tahun yl, sudah tercapai kesepakatan bersama untuk menang bersama. Disekitar pulau sengketa itu, RRT siap investasi+teknologi pengeboran sumur minyak didasar laut dengan Vietnam dan Filipina, dengan pembagian keuntungan 60% utk RRT dan 40% Vietnam juga begitu dengan Filipina. Tapi AS ikut campur, juga mau merebut untung di LTS itu! Pertama Vietnam berhasil berubah pikiran, yg hendak kangkangi sendiri hasil produkti minyak di LTS itu bersama AS! Kemudian terakhir ini juga hendak dilakukan Filipina, ... berubah pikiran dengan pengaruh dan tekanan AS yg masih sangat kuat di Filipina itu. Inilah sumber masalah ketegangan di LTS yang terjadi!

Jadi, ... inilah kenyataan dan tantangan yang dihadapi RRT, bagaimana mengalahkan pengaruh dan tekanan AS terhadap negara-negara di LTS, khususnya Korea Selatan dan Jepang!


ajeg [email protected] [GELORA45] 於 16/4/2019 23:21 寫道:
Ini 2 bulan lalu. Sekarang kabarnya sudah hampir 300 kapal dikerahkan sekalipun bulan sebelumnya banyak kapal nelayan yang ditarik. Di antara kapal perang yang masih berlayar sebagiannya hilir-mudik "mendukung" perundingan dengan Jepang untuk perkara yang sama, sengketa wilayah di Laut Cina Timur.

-


  *Intimidasi Filipina, Cina Kirim 95 Kapal ke Laut Cina Selatan *

*
Reporter:
Non Koresponden
Editor:
Eka Yudha Saputra

Minggu, 10 Februari 2019 08:00 WIB
*
*
*
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Angkatan laut Cina dilaporkan telah mengerahkan armada hampir 100 kapal ke Pulau Thitu, salah satu dari beberapa pulau yang disengketakan di Laut Cina Selatan.

Ini diyakini sebagai upaya Cina untuk menghentikan pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung yang sedang dilakukan oleh pemerintah Filipina.


Dikutip dari Sputnik, 9 Februari 2019, menurut laporan hari Rabu yang diterbitkan oleh Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI), sebuah lembaga think tank yang dikelola oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional, Beijing baru-baru ini mulai mengirim kapal dari Subi Reef, yang terletak sekitar 22,2 kilometer laut dari Thitu.


Pada tanggal 3 Desember 2018, dengan hari-hari konstruksi yang jauh dari permulaan di Thitu, Cina mengirim setidaknya 24 kapal ke pulau yang disengketakan, menurut laporan. Konstruksi sebelumnya telah dihentikan karena cuaca buruk dan gelombang laut yang besar.


Selama sisa bulan itu, dan memasuki Januari 2019, jumlah armada Cina, terdiri dari kapal-kapal dengan Tentara Pembebasan Rakyat-Angkatan Laut, Penjaga Pantai Cina dan berbagai kapal penangkap ikan, berfluktuasi ketika mereka menempatkan diri di dekat pulau yang diperebutkan ketika konstruksi dimulai.


"Kapal-kapal penangkap ikan sebagian besar telah berlabuh antara 3,7 dan 10,1 kilometer laut di sebelah barat Thitu, sementara kapal-kapal angkatan laut dan penjaga pantai beroperasi sedikit lebih jauh ke selatan dan barat," papar isi laporan.


"Penyebaran ini konsisten dengan contoh-contoh sebelumnya dari 'strategi kubis Cina', yang mempekerjakan lapisan penangkapan ikan, penegakan hukum dan kapal angkatan laut konsentris di sekitar wilayah yang diperebutkan."


Pada tanggal 20 Desember 2018, citra satelit menunjukkan 95 kapal Cina di dekat pulau itu, sebelum banyak yang ditarik kembali, menjadi tinggal 42 kapal pada 26 Januari 2019. Dua kapal terlihat selama 20 Desember yang diidentifikasi AMTI sebagai kapal perang frigat PLAN Type 053H1G dan CCG Type 818 cutter.


"Penurunan jumlah kapal pemerintah, yang mencerminkan pengurangan kehadiran milisi, menunjukkan pasukan Cina telah menetap dalam pola pemantauan dan intimidasi setelah penyebaran besar awal mereka gagal meyakinkan Manila menghentikan pembangunan," laporan itu menyimpulkan.


Menurut Philstar, kapal penjaga pantai Cina dan kapal penangkap ikan juga terlihat di dekat Sandy Cay, sebuah gugus pulau yang berjarak sekitar 4,63 kilometer laut dari Pulau Thitu. Juga dikenal sebagai Pulau Pag-asa, pulau ini diklaim oleh Filipina, Cina, Taiwan, dan Vietnam dan merupakan pulau Spratly terbesar kedua.


Rencana pemerintah Filipina untuk membangun jalan landai di atas Thitu untuk memungkinkan kapal-kapal Filipina untuk mengangkut bahan-bahan perbaikan dengan lebih baik dan untuk memperpanjang landasan pulau guna mendaratkan pesawat-pesawat yang lebih besar pada awalnya diumumkan pada bulan April 2017.


Awal pekan ini, laporan AMTI dikritik oleh Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana atas klaimnya bahwa upaya pembangunan yang sedang berlangsung juga akan mencakup reklamasi tanah, lapor Manila Bulletin.


"Sampai sekarang, hanya jalan landai yang sedang dilakukan. Berikutnya adalah beton landasan pacu. Fase ketiga adalah pemanjangan landasan pacu, yang akan memerlukan reklamasi sekitar 300 meter," jelas Lorenzana.


Lorenzana mengeluarkan pernyataan tentang kehadiran kapal-kapal Cina pada hari Jumat, menekankan bahwa upaya pembangunan akan terus berlanjut dan tuntutan sengketa Laut Cina Selatan harus "menghormati kedaulatan Filipina" dan berperilaku dalam "cara beradab yang sesuai dengan anggota komunitas global."





---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke