Banteng terkuat, partai baru keok
* PILEG <https://pemilu.antaranews.com/pileg>
* 18 April 2019 00:10
Suara penyandang tunanetra dalam pesta demokrasi 2019.Daftar partai
politik peserta Pemilu 2019 (https://pintarmemilih.id/)
Jakarta (ANTARA) - PDI Perjuangan, partai berlambang banteng gemuk
dengan atribut sebagai partainya wong cilik, memenangi perolehan suara
secara nasional dalam pemilu serentak 17 April 2019.
Setidaknya begitulah hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survei.
Tidak hanya menjadi partai penyokong utama bagi kemenangan pasangan
capres dan cawapres, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, PDI Perjuangan juga
berada di puncak keunggulan.
Bila hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survei yang telah
disebarluaskan ke publik pada Rabu (17/4), sesuai dengan hasil resmi
dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) kelak tentang hasil perolehan suara
partai-partai politik peserta Pemilu serentak 17 April 2019, untuk
ketiga kalinya, PDI Perjuangan, memenangi kompetisi meraup suara rakyat.
Sebelumnya, partai yang sudah dipimpin oleh Megawati Soekarnoputeri
selama 26 tahun ini, secara meyakinkan resmi unggul lima tahun lalu pada
Pemilu Legislatif 9 April 2014 dan Pemilu pertama era reformasi pada 7
Juni 1999. Kemenangannya pada Pemilu 2014 juga mampu mengantarkan calon
presiden yang diusungnya, Joko Widodo yang saat itu menjabat Gubernur
DKI Jakarta, melenggang ke Istana Merdeka dan Istana Negara sebagai
Presiden.
Pada Pemilu 2014, PDI Perjuangan berhasil mengantongi 23.681.471 suara
atau 18,95 persen dari 124.972. 491 suara sah dan menduduki 109 kursi
atau 19,46 persen dari 560 kursi di DPR RI.
Kemenangan PDI Perjuangan pada pemilu kali ini sebenarnya sudah diduga,
apalagi pemilu dilakukan secara serentak dalam satu waktu memilih
Presiden/Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota.
PDI Perjuangan diperkirakan bakal mendominasi perolehan kursi dari 575
kursi di DPR RI yang diperebutkan oleh 16 partai politik tingkat
nasional pada Pemilu 2019 ini.
Kemenangan partai itu tak terlepas dari kepemimpinan yang kuat.
Ya, Megawati Sukarnoputeri, anak Proklamator dan Presiden pertama,
Sukarno, memang telah memimpin partai selama 26 tahun, sejak masih
bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam Kongres Luar Biasa di
Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jatim pada 2-6 Desember 1993.
Kemenangan partainya pada Pemilu 1999, di atas kertas bisa mengantarkan
dia sebagai Presiden. Saat itu, PDI Perjuangan 35.689.073 suara atau
33,74 persen dari 105,7 juta suara sah dengan menduduki 153 kursi atau
33,12 persen dari 462 kursi DPR RI.
Namun, melalui Sidang Umum MPR tahun itu, hanya mengantarkan dia sebagai
Wakil Presiden karena kalah bersaing mendapatkan suara anggota MPR dalam
Pemilihan Presiden, yang dimenangkan oleh Abdurrahman Wahid, untuk
periode 1999-2004. Megawati menjadi Presiden pada 2001 setelah
Abdurrahman Wahid dilengserkan melalui Sidang Istimewa MPR.
Kita kembali kepada hasil hitung cepat (quick count) dari berbagai
lembaga survei. Versi lembaga survei dari LSI Denny JA hingga pukul
23.40 WIB dengan data masuk hingga 96,55 persen, misalnya, menempatkan
PDI Perjuangan dengan meraih 19,86 persen suara.
*Baca juga:PDIP pimpin perolehan suara versi hitung cepat LSI
<https://www.antaranews.com/berita/834942/pdip-pimpin-perolehan-suara-versi-hitung-cepat-lsi>*
Begitu pula dengan hasil hitung cepat Indo Barometer yang membuat partai
banteng ini berada di puncak dengan meraih 19,54 persen setelah data
yang masuk sebesar 83,75 persen.
Sementara versi Indikator Politik menunjukkan PDI Perjuangan teratas
dengan mengantongi 19,11 persen suara setelah data masuk hingga 88,71
persen, dan versi Charta Politika menggambarkan partai itu menjuarai
persaingan dalam pesta demokrasi dengan menguasai 19,83 persen suara
setelah data masuk hingga 89,70 persen.
*Baca juga:Hitung cepat Indikator catat PDI P partai pemenang Pemilu
2019
<https://www.antaranews.com/berita/835079/hitung-cepat-indikator-catat-pdi-p-partai-pemenang-pemilu-2019>*
Bila hasil hitung cepat ini sesuai dengan hasil resmi dari Komisi
Pemilihan Umum (KPU) RI yang akan ditetapkan pada bulan depan, besaran
persentase suara yang diraih PDI Perjuangan tak bakal terkejar oleh
partai-partai pesaing lainnya.
Partai Gerindra yang berada di peringkat kedua (naik setingkat dibanding
hasil resmi Pemilu 2014), meraih suara pada kisaran 12,33 persen hingga
13,74 persen versi empat lembaga survei itu.
Partai Golkar, partai penguasa rezim Orde Baru, anjlok setingkat ke
posisi ketiga, dibanding hasil resmi Pemilu 2014, menggondol suara pada
rentang 10,97 persen sampai 12,29 persen.
Sejumlah partai baru, seperti Perindo, PSI, Garuda, dan Berkarya, dari
hasil hitung cepat, bakal tak bisa melenggangkan calon-calon anggota
legislatifnya ke Senayan untuk menjadi wakil rakyat di DPR RI karena
mendapat perolehan suara di bawah empat persen, sebagai ambang batas
memperoleh kursi di DPR RI.
Berdasarkan hasil hitung cepat dari Charta Politika, Perindo hanya
meraih 2,47 persen, PSI 2,13 persen, Partai Garuda 0,52 persen, dan
Partai Berkarya yang dipimpin putra bungsu penguasa Orde Baru, Soeharto,
yakni Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, hanya meraih 1,97
persen. Hasil hitung cepat dari tiga lembaga survei lainnya juga
menunjukkan perolehan persentase suara yang nyaris sama dengan
angka-angka tersebut.
*Baca juga:PSI akui kekalahan di Pemilu 2019
<https://www.antaranews.com/berita/835201/psi-akui-kekalahan-di-pemilu-2019>
Baca juga:Hitung cepat Charta Politika: PSI terancam tak lolos
<https://www.antaranews.com/berita/835127/hitung-cepat-charta-politika-psi-terancam-tak-lolos>*
Sementara partai yang telah berpengalaman mengikuti pemilu-pemilu
sebelumnya, juga bakal menjadi partai gurem karena takkan mendapat kursi
di DPR RI, seperti Partai Hanura 1,82 persen, PBB 0,86 persen, dan PKPI
0,37 persen. Itu hasil hitung cepat dari Denny JA, juga tak jauh berbeda
dengan hasil yang ditunjukkan oleh Charta Politika, Indikator, dan Indo
Barometer.
*Hal biasa*
Dugaan bahwa PDI Perjuangan bakal memenangi Pemilu 2019 sudah diketahui
sekitar setahun terakhir ini dengan pengungkapan berbagai jajak pendapat
atau polling dari berbagai lembaga survei.
Partai itu menjadi satu-satunya partai yang mendapatkan efek dampak dari
ekor jas (coat-tail effect), sebuah istilah politik, untuk menggambarkan
bahwa calon presiden yang diusung oleh PDI Perjuangan dapat berdampak
baik atau mengangkat performa bagi partai itu untuk mendapatkan suara
rakyat sebanyak-banyaknya untuk menempatkan calon-calon anggota
legislatif di lembaga perwakilan rakyat.
Dengan mengusung Joko Widodo, terbukti telah mengangkat PDI Perjuangan
memenangi pemilu, bahkan sejak Pemilu 2014.
Bagaimana reaksi Megawati? Presiden kelima RI itu justru mengungkapkan
pernyataan yang normatif tetapi memiliki makna mendalam yang bisa
menjadi pelajaran berharga pagi setiap politisi.
*Baca juga:Megawati: menang atau kalah dalam pemilu hal biasa
<https://www.antaranews.com/berita/833808/megawati-menang-atau-kalah-dalam-pemilu-hal-biasa>
Baca juga:Doa Presiden di HUT Megawati Soekarnoputri
<https://www.antaranews.com/berita/790706/doa-presiden-di-hut-megawati-soekarnoputri>*
Wanita kelahiran Yogyakarta 23 Januari 1947 itu mengingatkan peserta
pemilu bahwa menang atau kalah dalam pemilu adalah hal biasa yang harus
diterima dengan jiwa besar.
"Pemilu adalah pesta demokrasi yang sepatutnya disambut dengan riang
gembira," kata Megawati seusai memberikan hak pilihnya di TPS 62
Kelurahan Kebagusan di sekitar kediaman pribadinya di Jalan Kebagusan IV
Nomor 45 Jakarta Selatan.
Megawati menjadi satu-satunya politisi wanita yang telah 33 tahun
menjalani karir politik praktis sejak menjadi fungsionaris di DPC PDI
Jakarta Selatan tahun 1986, bertahan hingga kini.
Bagi wanita bernama lengkap, Dyah Permata Megawati Setyawati
Sukarnoputri ini, pemilu adalah proses demokrasi untuk memilih pemimpin,
yang dipilih langsung oleh rakyat.
Siapapun pemimpin yang terpilih adalah pemimpin pilihan rakyat.
Sebaliknya, siapapun pemimpin yang tidak terpilih, agar menerimanya
dengan jiwa besar.
Megawati juga menceritakan dirinya pernah tampil sebagai peserta pemilu,
yakni Pemilu Presiden 2004 dan Pemilu Presiden 2009 tetapi gagal untuk
memenangi pemilu. "Meskipun tidak menang, saya menerimanya dengan jiwa
besar," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, siapapun yang menangkan Pemilu 2019, harus
merangkul semua pihak, sedangkan siapapun yang gagal dalam harus
menerimanya dengan jiwa besar. Tidak boleh marah.
"Pilihan yang diberikan langsung oleh rakyat, akan menentukan siapa
pemimpin nasional selama lima tahun ke depan, serta bagaimana masa depan
Indonesia," kata Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
(BPIP) ini.
Soal pilihan, tidak melihat siapa orangnya, tetapi melihat kinerjanya.
"Hendaknya memilih yang terbaik untuk pembangunan negara," katanya.
Ya, dengan pengalaman menyelenggarakan 11 kali pemilu legislatif sejak
tahun 1955 dan tiga kali Pemilu Presiden sejak 2004.
Pemilu 17 April 2019 merupakan pengalaman pertama bagi bangsa demokratis
terbesar pertama di Asia dan terbesar ketiga di dunia ini. Untuk pertama
kalinya rakyat secara serentak dalam satu waktu memilih pasangan
presiden dan wakil presiden serta wakil rakyat di pusat dan daerah.
PDI Perjuangan tampaknya bakal memecahkan rekor baru sebagai partai
pemenang pemilu pertama serentak ini.
Pewarta:Budi Setiawanto
Editor: Subagyo
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com