Penghitungan suara perlu dipercepat, hindari pertentangan masyarakat
* PILPRES <https://pemilu.antaranews.com/pilpres>
* 19 April 2019 09:33
Gubernur Jateng ajak warga rajut silaturahmiPengamat Politik yang juga
Dosen FEMA IPB, Sofyan Sjaf. (Foto: ANTARA)
Beberapa 'quick count' (hitung cepat) dari lembaga survei yang
memenangkan petahana dianggap kubu lawan tidak representatif. Sangat
berpotensi pertentangan di masyarakat terjadi
Bogor (ANTARA) - Pengamat Politik dari Institut Pertanian Bogor (IPB),
Sofyan Sjaf berharap Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempercepat
penghitungan suara hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, guna menghindari
pertentangan masyarakat lantaran dua kubu pasangan calon presiden dan
wakil presiden saling mengklaim menang.
"Beberapa 'quick count' (hitung cepat) dari lembaga survei yang
memenangkan petahana dianggap kubu lawan tidak representatif. Sangat
berpotensi pertentangan di masyarakat terjadi," ujarnya kepada ANTARA di
Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/4/2019).
Bukan hanya hitung cepat dari lembaga survei, menurut Dosen di Fakultas
Ekologi Manusia (FEMA) IPB ini, "real count" dari KPU juga berisiko
serupa jika tidak dilaporkan secara merata dan cepat. Karena, dari
sekitar 800 ribu tempat pemungutan suara (TPS) di Indonesia, KPU
melaporkannya secara terpusat di Jakarta.
"Perlu pertimbangan membagi wilayah kewenangan. Misalnya, wilayah timur
dibagi dua, tengah dibagi dua. Jadi punya garis koordinasi KPU
melaporkan secara cepat," ujar Sofyan.
Ia menganggap, kondisi ini rawan membuat kegaduhan di masyarakat.
Terlebih mengenai opini-opini di media sosial yang bisa menyulut satu
sama lain yang berbeda pandangan.
"Semakin orang menunggu kepastian itu, semakin kemudian membuat
penasaran, dan ketika cocok bergembira, tapi ketika tidak cocok jadi
pertanyaan besar," tuturnya.
Meski begitu, ia optimistis aparat gabungan dari TNI-Polri bisa
mengamankan situasi pasca-Pemilu seperti sebelum pelaksanaan sampai pada
hari pencoblosan.
"Sejauh ini TNI dan Polri masih berada dalam koridor institusi ingin
mengamankan. Selama TNI dan Polri berperan, jadi 'chaos' tidak mungkin
lah ya," ucapnya, berharap.
Sofyan juga berpesan kepada masyarakat agar sabar menunggu hasil
keputusan resmi dari KPU mengenai siapa pemenang dari Pemilihan
Peresiden (Pilpres) 2019. Begitu pula untuk masing-masing tim pemenangan
kedua kubu capres-cawapres.
"Saya kira masing-masing tim harus menahan diri, tunggu saja KPU. Karena
KPU berhak melegitimasi siapa yang menang dan tidak," tukasnya.
Sementara itu, hingga pagi tadi surat suara hasil Pemilu 2019 baru
sampai pada tahap penghitungan di tingkat Kelurahan. Ketua KPU Kota
Bogor Samsudin memastikan bahwa hari ini pula penghitungan suara
ditingkat kecamatan dimulai.
"Hari ini dimulai rapat pleno rekap di PPK di enam kecamatan Kota
Bogor," ujarnya.
Pewarta:M Fikri Setiawan
Editor: Chandra Hamdani Noor
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com