Dalam keikut-sertaan memperingati Hari Kartini 2019 saya tayangkan tulisan Mas 
Bambang Soekotjo yang dikirimkan ke Fisbuk saya (Md Kartaprawira) hari ini. sbb:


Bambang Soekotjo
3 jam · 
Teriring salam buat Astuti Ananta Toer. Maaf mbak baru bisa memenuhi "pesanan" 
mbak berkaitan dengan tulisan pendek tentang Pak Pram. Sekali gus untuk 
memperingati Hari Kartini 21 April 2019.
Salam untuk yang saya rindukan dik Tedjabayu Sudjojono, dik Leo Mulyono, dik 
Win Subiardjo, Yudhi Zahari, Eddy Sugianto, dan masih banyak lagi. Serta tidak 
lupa untuk Rimbun Rumata, Banyu Bening, Nathanael Batitusta,bung Bedjo Untung, 
bung Siswa Santoso, pak Md Kartaprawira, mbak Soe Tjen Marching Go

"KARTINI DAN KENANGAN BERSAMA PRAMUDYA ANANTA TOER"
oleh Bambang Soekotjo
Saya lebih mengenal RA Kartini dari buku karya sastra Pramudya Ananta Toer 
“Panggil Aku Kartini Saja” . Saya mempunyai kenangan bersama Pak Pram yang saya 
tulis “Kartini dan kenangan bersama Pramudya Ananta Toer”. Berikut ini sebagian 
cuplikannya :

KENANGAN LAMA.
Pada awal tahun 2000an, manakala aku membaca tentang Kartini di sebuah majalah 
dari Pemda Pati, kenangan saya menjadi nglangut. Aku juga teringat buku yang 
pernah aku baca di tahun 1967an, yang aku pinjam dari sebuah perpustakaan di 
Benoyo Salatiga.
Sebuah karya sastrawan besar yang dinominasikan untuk mendapat hadiah Nobel : 
Pramudya Ananta Toer yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”. Sebuah buku yang 
memuat surat-surat Kartini dengan sahabat penanya Stella (Estelle 
Zeehandelaar), Nyonya Abendanon di Negeri Belanda dan masih banyak lagi. Dengan 
gaya sastra Pramudya A.T. ,diedit dan diulas dengan ketajaman cara berfikir 
Pram yang menurutku tidak dimiliki oleh pengarang lainnya dalam mengangkat 
Kartini, menjadi karya sastra yang indah dan menarik. Judul “Panggil Aku 
Kartini Saja” diambil dari kalimat diantara surat-surat Kartini sendiri.
Sekitar sepuluhan tahun kemudian, sejak aku ”tinggal” di Salatiga saya sempat 
bertemu dengan Pak Pram dan membicarakan buku beliau “Panggil Aku Kartini 
Saja”. Mengenang penulisan buku itu wajah pak Pram mendadak muram. Pandangannya 
menerobos jendela disamping jauh kearah kolam ikan diluar sana. Dengan once 
masih menggelayut dibibir yang baru saja dijejali “tembakau hijau” (tembakau 
rajangan yang belum kering benar dan masih berwarna kehijauan dengan bau yang 
jauh dari sedap), pak Pram mulai mengenang masa lalu :
-- Itulah Mbang . . . – diambil once dari bibirnya. Pandangan pak Pram masih 
terpaut diluar sana.
-- Saya kumpulkan data dan informasi tentang Kartini. Saya melakukan perjalanan 
jauh ke Jepara, Jawa Tengah. Ke Mayong dengan naik bendi.Dekat rumahmu kan? – 
pak Pram bertanya ringan tanpa menoleh dan tanpa ekspresi. Dan akupun 
mengangguk walau aku tahu pak Pram tidak melihatku.
-- Di Mayong saya mendapat banyak data dan informasi, juga foto Kartini ketika 
masih kecil yang saya ambil tergantung di soko guru rumah keluarganya – Pak 
Pram mengambil nafas dalam-dalam mengenang masa silam, seakan lepas dari 
himpitan yang menyesakkan dada. Tiba-tiba dengan hanya dipisahkan mesin ketik 
butut diatas meja yang terbuat dari sebetan kayu mranti, pak Pram memandang 
tajam kearah saya, bertanya :
-- Sekarang dimana semua data dan dokumen penting tentang Kartini itu, Mbang? – 
Saya tahu pertnyaan itu tidak bisa saya jawab. Dan saya tidak menjawab karena 
hanya pak Pram yang tahu jawabnya. Suasana hening, tenggorakanku serasa kering. 
Sorot mata pak Pram melumat habis sorot mataku yang beradu pandang, seakan 
sayalah yang akan dijadikan korban amuk hatinya. Dengan bibir tanpa once yang 
mengkerut dikeraskan dan badan dicondongkan kedepan, pertanyaannya diulang 
dengan lebih serious :
-- Dimana ?? – Seakan pak Pram menginterogasi saya. Tergetar hatiku dan aku 
tetap masih saja diam. Suasana hening masih saja menyelimuti ruangan 2x3 M yang 
terbuat dari papan mranti, di Kompleks Markas Komando Inrehab P. Buru itu. 
Hening. Berbeda dengan gemuruh didada saya merasakan sesuatu lewat sorot mata 
dan ekspresi wajah pak Pram, seakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam 
dada beliau.
-- Semua sudah musnah! -- Terhenti sebentar dengan bibir bergetar dan mata 
tajam masih melumat mataku. Aku menunggu dengan perasaan tidak menentu karena 
tidak tahu arah yang mau disampaikan.
-- Semua sudah hancur porak poranda bersama rumahku. Semua sudah dihancurkan 
penguasa Orde Baru . . . . ! – Meledak sudah apa yang selama tadi mengeram 
didada pak Pram. Dengan wajah masih kelihatan angker, pak Pram melanjutkan 
letupan-letupan hatinya seakan menyesalkan perbuatan mereka dengan berkata :
-- Mengapa tidak rumah saya saja yang dirusak? Mengapa dokumen-dokumen itu ikut 
dimusnahkan? Semua itu dokumen bersejarah! Dokumen tentang Kartini, sejarah 
bangsanya sendiri . . . . ? – Saya ikut terhenyak merasakan penyesalan mendalam 
yang sempat membebani batin pak Pram berkaitan dengan penulisan bukunya 
“Panggil Aku Kartini Saja”.
Perasaan saya nglangut.
Di luar sana, didalam barak diluar kamar pak Pram, kawan-kawan bersendau gurau 
sehabis mandi ditepian sungai Wai Apo, usai bekerja sepanjang hari. Mereka 
tinggal satu barak dengan pak Pram. Hanya pak Pram dibuatkan kamar tersendiri 
dengan “difasilitasi” mesin ketik butut. Aku sendiri mampir ke pak Pram dari 
corve ke Mako. Dari sinilah lahir karya-karya sastra Pramudya A.T. yang besar 
dan terkenal itu. Sejak Naskah drama Mangir Wonoboyo, Arus Balik, Tetralogi 
Bumi Manusia, Rumah Kaca dan masih banyak lagi..

Teriring salam buat keluarga, semoga arwah Pak Pram diterima disisi Tuhan 
sesuai dengan amal baktinya sebagai aktifis PEJUANG HAM.

Tulisan ini saya persembahkan kembali kala mengenang Hari Lahir Kartini 21 
April 2013. Semoga mampu menggugah ingatan kita tentang Kartini.

IBU KITA KARTINI – (W.R. SUPRATMAN)
Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Kirim email ke