https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu
Minggu 21 April 2019, 12:00 WIB
Jeda
Badai (Pemilu) Belum Berlalu
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#> 3
komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4518683/badai-pemilu-belum-berlalu#>
Badai (Pemilu) Belum Berlalu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Pada hari yang telah ditunggu-tunggu, hari pencoblosan,
puncak hajatan yang telah menguras energi dan emosi kita dalam
bulan-bulan belakangan, aku berada di kota kelahiranku, yang kebetulan
juga kota asal salah satu kontestan pemilu presiden, sang petahana, yang
kita ketahui bersama. TPS tempatku mencoblos, di kampungku di Nayu,
wilayah utara kota, terlihat cukup sepi ketika aku datang bersama kakak,
ibu, dan pasangan suami-istri tetangga sebelah rumah, sekitar pukul 10.
Suasana guyup langsung terasa. Tidak ada kesan formal, kaku, maupun
ketegangan sekecil apapun. Para petugas yang pada dasarnya adalah
tetangga-tetangga kami yang saling mengenal dengan baik, menyambut
dengan ramah, penuh canda; pendek kata segala urusan berjalan dengan
cepat, mudah, dan lancar. Kami bahkan tak perlu menunjukkan KTP, hanya
menyerahkan surat undangan, dan tak ada nomor antrean. Duduk menunggu
dalam hitungan menit, nama-nama kami pun dipanggil satu per satu.
Pulang kembali ke rumah, waktu baru menunjuk pukul setengah 11. Kami
langsung makan, nonton TV, dan merasakan suasana di gang dan sekitar
rumah sepi-lenggang. "Kok berasa kayak Lebaran ya," celetukku, yang
diamini oleh kakakku. Kami duduk-duduk, menikmati waktu senggang libur
nasional pesta demokrasi, yang terasa seperti "bonus" di tengah
rutinitas kerja di awal tahun. Lalu, menonton televisi lagi, menyaksikan
laporan suasana pencoblosan dari berbagai daerah, menyimak analisis para
pengamat politik, sambil menunggu publikasi /quick count./
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Ada perasaan deg-degan menunggu
hasil /quick count/ yang baru boleh disiarkan setelah pukul tiga sore,
tapi pada saat yang sama ada semacam perasaan lega juga. Terpikir, bahwa
setelah ini, segala keberisikan, dukung-dukungan, kubu-kubuan akan
segera berakhir. Setelah/quick count/ diumumkan, demikian yang
terbayang, kontestan "pemenang" akan membuat pernyataan, dan kontestan
yang kalah akan memberi selamat. Dan, badai pemilu yang sebelumnya
membelah masyarakat pun berlalu. Kita kembali ke dunia keseharian
masing-masing, bekerja, menjalani "kehidupan nyata" seperti
sebelum-sebelumnya, dalam kesatuan persaudaraan sebagai warga bangsa dan
warga negara yang rukun, toleran, dan damai.
Namun, yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Apa yang pernah
terjadi pada Pemilu 2014 terulang kembali, dan cerita selanjutnya kita
sama-sama tahu. Rasanya ingin membentur-benturkan kepala ke tembok.
Suasana damai yang telah terbayang tinggal menjadi impian. Dalam
hitungan jam, eskalasi keberisikan dan "situasi kacau" di media sosial,
juga dalam siaran televisi, justru meninggi. Apa yang kemudian terjadi
dalam dua puluh empat jam berikutnya, dan jam-jam berikutnya lagi,
sekali lagi, kita telah sama-sama tahu dan tak perlu diulang di sini.
Rasanya, hari yang telah ditunggu itu, yang diharapkan menjadi titik
balik ke situasi yang adem dan melegakan, seolah berubah menjadi
anti-klimaks yang membuka babak baru suhu politik yang panas dan
menegangkan.
Dalam perkembangan seperti itu, pada malam sehari setelah pencoblosan,
aku berusaha melenyapkan diriku, menghilang untuk lari dan menghindar
dari segala hiruk pikuk, memasuki dunia paralel yang sunyi-senyap. Aku
duduk dalam gelap di deretan bangku VIP Gedung Wayang Orang Sriwedari,
menonton pementasan lakon /Sena/ /Mimis/. Kebetulan malam itu malam
Jumat, dan bagi sebagian orang Jawa-Solo, menonton wayang lebih-lebih
pada malam Jumat itu bukan sekadar "mencari hiburan", melainkan sebuah
laku spiritual untuk mendapatkan pencerahan yang menenangkan jiwa.
Dan, memang berhasil. Untuk sesaat aku seperti memasuki lorong waktu,
terlempar kembali ke masa lalu, masa ketika aku masih kecil dan sering
diajak oleh salah seorang /budhe/-ku nonton wayang orang Sriwedari
--yang sejak dulu sampai sekarang selalu berpentas setiap malam, kecuali
pada hari-hari libur tertentu, seperti pada hari pencoblosan kemarin.
Kala itu era awal tahun 1980-an, dan nyaris tak ada yang berubah sampai
sekarang. Dinding-dinding yang kusam, "teknologi" panggung yang apa
adanya, dialog di atas panggung yang nyaris tak terdengar....
Berkali-kali aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dalam ruangan
yang gelap itu. Selain, jujur saja, untuk mengatasi kebosanan, aku ingin
tahu, siapa orang-orang ini, para penonton ini. Terlihat, sebagian
adalah anak-anak muda yang datang bersama orangtuanya, dan sepanjang
pertunjukan sibuk main HP tanpa sedetik pun tertarik untuk menatap ke
arah panggung. Sebagian lagi terlihat cukup antusias, berkali-kali
membidikkan kamera HP-nya, atau merekam adegan demi adegan.
Kemudian aku seperti disadarkan oleh kehadiranku sendiri di situ, berada
di antara para penonton yang terbosan-bosan, dan agak tersentak: kenapa
aku bisa berada di sini, saat ini? Di ruangan gelap sebuah gedung yang
luas, dengan panggung gemerlap, suara gamelan bertalu-talu yang
membangkitkan jiwa, namun semua itu seperti melemparkanku dalam dunia
lain yang asing. Untuk sesaat aku merasa seperti benar-benar lenyap.
Sampai akhirnya, tirai bergambar gunungan turun perlahan, menutup
panggung, mengakhiri pementasan malam itu, dan orang-orang bangkit,
bergegas mengikuti cahaya yang menuntun ke arah pintu.
Di luar gedung, aku menemukan diriku kembali dan dalam kesadaran yang
belum sepenuhnya pulih, langsung teringat bahwa baru satu hari berlalu
setelah pemilu. Aku berusaha mengumpulkan kembali kesadaranku seutuhnya
sambil berjalan ke sana ke mari di depan gedung, di antara bubaran
orang-orang yang berjalan lambat-lambat, seperti baru saja kembali dari
alam gaib ke dunia nyata. Aku melihat daftar lakon yang akan dipentaskan
pada malam-malam berikutnya sampai akhir bulan ini.
Aku melihat loket yang tutup, dan tulisan VIP Rp 10.000 - Kelas 1 Rp
7500 - Kelas 2 Rp 5000 yang tadi tak sempat benar-benar kuperhatikan
karena aku datang ketika pertunjukan sudah dimulai dan oleh karenanya
serba terburu-buru. Aku berdiri di tepi teras gedung, menatap ke
kejauhan. Taman Sriwedari yang gelap, dan sedang dalam pemugaran untuk
sebuah proyek pembangunan yang akan mengubah fungsinya dari tempat
hiburan rakyat menjadi masjid yang konon akan sangat megah.
Aku melangkah ke tempat parkir dengan ingatan yang kembali, ya, baru
satu hari berlalu setelah pemilu. Aku melangkah lambat-lambat seperti
melintasi badai yang melibas dan menggulung diriku, dan tak kuketahui di
mana ujungnya, menyeretku ke mana, dan akan menghempaskanku dalam
situasi seperti apa.
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
pemilu 2019 <https://www.detik.com/tag/pemilu-2019/?tag_from=tag_detail>