https://www.antaranews.com/berita/838780/perempuan-perempuan-tangguh-di-tengah-bencana
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Perempuan-perempuan tangguh
di tengah bencana
Oleh Wuryanti Puspitasari Minggu, 21 April 2019 18:45 WIB
Widhi Hesty Pujianti (kiri) bersama petugas kesehatan lainnya melakukan
evakuasi ibu hamil dan anak-anak pascagempa Kalibening, Banjarnegara,
Jawa Tengah. Antara/dok. pribadi/aa
Banjarnegara (ANTARA) - Sepanjang menjadi relawan, hal yang paling
membekas di ingatan Suprapti (45) adalah hari di mana dia terlibat
langsung dalam proses identifikasi jenazah korban bencana alam.
Perempuan kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, tersebut masih mengingat
betul, suatu pagi di bulan Desember 2014 dia dan rekan-rekan relawan
Dompet Dhuafa baru saja selesai mengikuti apel pagi di posko induk
evakuasi. Saat itu baru saja terjadi bencana tanah longsor di Dusun
Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara.
"Ketika saya sedang berdiri di dekat posko tiba-tiba diserahi tugas
untuk mengidentifikasi jenazah. Sempat keder memang, wong seumur-umur
saya belum pernah berhadapan langsung dengan jenazah korban bencana,"
katanya.
Penugasan mendadak itu sempat membuatnya sedikit cemas dan gugup.
Kegelisahan menyelimuti fikirannya pada saat itu. Lantas dia memaksa
dirinya untuk berfikir jernih dan melawan segala kecemasan. Sehingga
akhirnya, dia memberanikan diri untuk terjun langsung dan ikut serta
mengidentifikasi satu demi satu jenazah yang ditemukan oleh tim evakuasi.
*Baca juga: Perempuan, sang martir untuk lingkungannya
<https://www.antaranews.com/berita/837478/perempuan-sang-martir-untuk-lingkungannya>*
Kala itu, dia tidak sendiri, dengan bantuan perangkat desa setempat,
juga saudara-saudara korban yang berdatangan, maka sebagian dari korban
bisa dengan cepat diidentifikasi.
"Ada juga yang dengan mudah diidentifikasi dari identitas yang ditemukan
bersamaan dengan jenazah. Namun, ada juga yang sulit diidentifikasi.
Kesulitan timbul jika jenazah tidak ada yang mengenali dan tidak ada
identitas lain yang menyertai," katanya.
Menit demi menit yang dia habiskan untuk mengindentifikasi jenazah pada
waktu itu menyatu dengan pengalaman-pengalaman lain yang dia dapat di
lokasi-lokasi bencana.
Semuanya menjadi gelombang kenangan yang menyadarkannya, bahwa ada
hikmah dari segala peristiwa yang dia lewati. Berbagai pengalaman
tersebut, telah membentuknya menjadi perempuan yang makin tangguh dalam
menghadapi tantangan.
*Baca juga: Memulihkan ekonomi perempuan pascabencana Sulteng
<https://www.antaranews.com/berita/831034/memulihkan-ekonomi-perempuan-pascabencana-sulteng>*
Segala bentuk emosi, kesedihan, dan kerapuhan, yang dia temukan di
lokasi bencana telah menguatkannya.
"Saya pernah merasa drop dan ikut sedih karena terus menerus
mendengarkan kisah dari para pengungsi. Lalu lama kelamaan saya berpikir
kalau saya sedih terus dan jadi sakit malah jadi tidak bisa bantu
mereka," katanya.
Sejak bergabung dengan Relawan Disaster Management Centre (DMC) Dompet
Dhuafa pada Tahun 2010, Suprapti memang sudah "kenyang" pengalaman di
lokasi bencana.
Mulai dari bermain bersama anak-anak pengungsi, berperan dalam
penyaluran air bersih untuk warga terdampak bencana, hingga memotivasi
pengungsi agar tidak trauma terhadap bencana juga pernah dia lakoni.
Tidak dipungkiri, ada berbagai hal yang perlu dikorbankan untuk
melaksanakan misi kemanusiaannya. Misalkan sebagai seorang ibu, dia
pernah terburu-buru menuju lokasi bencana dan meninggalkan anaknya di rumah.
Bahkan, di perjalanan menuju lokasi bencana dia baru menyadari, tidak
meninggalkan uang saku dan bekal makanan yang cukup untuk anaknya. Namun
lagi-lagi, misi kemanusiaan memanggilnya dan dia pantang untuk mundur.
Menurut dia, apa-apa yang dia korbankan belum sebanding dengan
penderitaan para korban bencana. Lagi pula, dia percaya bahwa hal-hal
baik yang dia tabur akan membawa kebaikan-kebaikan pula pada masa-masa
yang akan datang.
*Tim Kesehatan*
Pengalaman berharga terkait kejadian bencana juga dirasakan oleh Widhi
Hesty Pujianti, asisten apoteker pengelola obat di Puskesmas Kalibening,
Kabupaten Banjarnegara.
Pada April 2018 lalu, bencana gempa bumi mengguncang wilayah Kalibening
dan merusak ratusan bangunan rumah di wilayah setempat.
Pascakejadian tersebut Puskesmas Kalibening langsung siaga memberikan
layanan kesehatan 24 jam bagi masyarakat.
"Setelah kejadian gempa saya mendapatkan tugas untuk menyalurkan obat
dan memastikan kebutuhan obat bagi para pengungsi tercukupi, saya juga
berkoordinasi dengan tim BPBD dan relawan," katanya.
Selain itu, dirinya bersama tim lainnya juga sibuk mengevakuasi ibu
hamil ke posko pengungsian yang lebih aman. Dirinya juga berkeliling
dari satu tenda ke tenda lainnya guna memastikan ketersediaan obat bagi
para pengungsi dan warga yang terdampak bencana.
Kendati lelah, namun pengalaman tersebut membuatnya bersemangat karena
dapat membantu sesama yang menjadi korban bencana.
*Perempuan perlu bermimpi*
Cerita tentang bencana juga dirasakan oleh seismologis dari Stasiun
Geofisika Banjarnegara Nurvita fatmasari. Ketika terjadi gempa di
Yogyakarta Tahun 2006, dia langsung berangan-angan untuk lebih mengenal
tentang gempa bumi dan menjadi seorang seismologis. Terlebih lagi dia
sangat suka tentang ilmu geofisika.
Mimpi itu kini membawanya menjadi salah satu seismologis di Stasiun
Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara).
*Baca juga: Khofifah : banyak perempuan hebat jarang bersuara tapi penuh
karya
<https://www.antaranews.com/berita/838746/khofifah-banyak-perempuan-hebat-jarang-bersuara-tapi-penuh-karya>
Baca juga: Pemberdayaan perempuan harus ditingkatkan
<https://www.antaranews.com/berita/838680/pemberdayaan-perempuan-harus-ditingkatkan>*
Dia juga masih mengingat dengan jelas, kejadian getaran tanah di
Banjarnegara Tahun 2016 lalu, dirinya ikut berpartisipasi dalam
pemantauan perkembangan kejadian.
Menurut dia, melakukan pengamatan terhadap getaran tanah tidaklah mudah
dan membutuhkan kejelian.
"Misalkan saat kejadian getaran tanah di Desa Clapar, ketika dicek di
seismograf tidak ada perubahan signifikan di rekaman gelombangnya, lalu
dilakukan filter untuk menghilangkan noise atau gelombang gangguan yang
ikut terekam di alat. Setelah di lakukan filter gelombang gangguan akan
hilang tinggal tersisa getaran tanah yang sebenarnya," katanya.
*Baca juga: Kartini di tengah arus feminisme
<https://www.antaranews.com/berita/838767/kartini-di-tengah-arus-feminisme>*
Gelombang gangguan biasanya berasal dari kendaraan, aktivitas warga,
angin kencang dan lain sebagainya. Setelah gelombang getarannya terlihat
jelas baru dilakukan analisis untuk didapatkan parameter seperti waktu
terjadinya, lokasi, dan kekuatan getaran.
Menjadi seismologis memang bukan perkara mudah, dia dituntut untuk tidak
takut terhadap gempa atau bencana tanah bergerak. Dia harus tetap
bertahan di tempat dan melakukan tugasnya dengan baik. Namun, sebagai
perempuan dia merasa sangat bangga bisa melakukan hal tersebut dan
mengabdikan diri untuk keselamatan orang banyak.
Dia percaya, semua hal yang dia alami sekarang adalah buah dari mimpi,
karena menurutnya mimpi adalah awal dari kenyataan. "Perempuan menjadi
seismologis? Kenapa tidak?" katanya.
Oleh Wuryanti Puspitasari
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019
================
https://www.antaranews.com/berita/838746/khofifah-banyak-perempuan-hebat-
jarang-bersuara-tapi-penuh-karya
Khofifah : banyak perempuan
hebat jarang bersuara tapi penuh
karya
Minggu, 21 April 2019 18:15 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Antara/Humas Pemprov Jatim/aa
Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai
saat ini banyak perempuan hebat yang jarang bersuara, tetapi memiliki
penuh karya.
"Nilai-nilai Kartini masa kini terus digeliatkan para perempuan dari
seluruh lapisan elemen dalam status sosial ekonomi level apapun,"
ujarnya ketika dikonfirmasi tentang makna Hari Kartini di Surabaya, Minggu.
Menurut dia, peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momentum
refleksi tentang peran dan kekuatan perempuan di Indonesia.
Ia memisalkan, ibu-ibu berjualan sayur di pasar atau berjualan gorengan
yang merupakan contoh dari para pejuang ekonomi keluarga dan merupakan
sosok Kartini sesungguhnya sekarang.
"Mereka memiliki kontribusi yang sangat besar ketika menyisihkan
keuntungan sedikit untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Merekalah
perempuan hebat tanpa suara yang sebenarnya penuh karya," ucapnya.
Selain berjuang untuk keluarga, kata dia, mereka juga
perempuan-perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam pemberdayaan
masyarakat bangsa dan negara.
"Para ibu-ibu itu adalah pahlawan seperti Kartini yang juga berjuang
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia mulai dari
keluarga kecilnya," kata gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.
Selain itu, ketua umum PP Muslimat NU tersebut juga menyarankan para
perempuan Kartini masa kini harus menjadi kesatuan yang sama-sama
berjuang untuk membangun kualitas sumber daya manusia dan ekonomi bangsa.
Bukan hanya para ibu-ibu dan perempuan yang ada di kawasan perkotaan,
melainkan juga termasuk di daerah pedalaman, di kepulauan terpencil,
bahkan di daerah perbatasan.
"Mereka harus berjejaring dengan yang ada di kota, seperti sektor
perbankan, legislatif dan eksekutif. Semua jejaring itulah yang akan
meneguhkan ketahanan maupun kekuatan masyarakat bangsa dan negara," katanya.
Mantan Menteri Sosial itu menyebut keteladanan sosok Kartini masa kini
bisa diwujudkan dalam banyak hal, terutama dengan meneladani sikap
keteguhan, ketegaran dan juga keberaniannya.
"Selamat Hari Kartini. Kartini hari ini adalah Kartini yang mampu
menghadapi berbagai dinamika kehidupan di manapun berada dan dalam
status sosial ekonomi selevel apapun," kata Khofifah.
Pewarta: Fiqih Arfani
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019