Terima kasih kirimannya. 
Disamping lagu klassik yang sering diulang-ulang membandingkan
pahlawan-pahlawan wanita indonesia, tetaplah mengkaji makna  perjuangan
mereka sebagai porosnya. 

salam,

Titiek Maslam 
 
 
 
 
-------Oorspronkelijk bericht-------
 
Van: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45]
Datum: 23-4-2019 17:49:56
Aan: [email protected];  [email protected];  Sahala
Silalahi;  [email protected]
Onderwerp: [GELORA45] Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi
 
  


https://news.detik
com/kolom/d-4521589/kartini-sebagai-pejuang-kesadaran-literasi?tag_from=wp_cb
kolom_list&_ga=2.43399975.383017758.1556034288-1132385346.1556034288

Selasa 23 April 2019, 15:30 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
Iqbal Aji Daryono 
 Share 0  Tweet  Share 0  0 komentar 
 Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono) 
Jakarta - Di grup Whatsapp alumni pers kampus yang saya ikuti, seorang kawan
yang belakangan menjadi aktivis militan antikomunis menyebarkan tulisan
tentang Kartini. Gagasan tulisan tersebut lumayan klise dan sudah pernah
saya baca sejak belasan tahun silam dari penulis-penulis lain. Poin utamanya
adalah bahwa penokohan Kartini tak lebih dari upaya kolonial Belanda untuk
meminggirkan peran tokoh-tokoh perempuan muslim dalam sejarah Nusantara.

Pembanding Kartini dalam tulisan itu adalah Dewi Sartika, Rohana Kudus, juga
para perempuan muslim ternama yang lebih klasik, semisal Cut Nyak Dhien,
Tengku Fakinah, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatudin Johan Berdaulat,
Siti Aisyah We Tenriolle, serta beberapa nama lainnya.

Saya tidak sepenuhnya menolak tulisan itu. Pada beberapa sisi argumen, ia
cukup masuk akal, misalnya bahwa tokoh-tokoh tersebut menjalankan peran yang
jauh lebih konkret daripada "sekadar berkirim-kirim surat" ala Kartini. Cut
Nyak Dhien adalah tokoh militer yang terjun bertempur melawan kolonial.
Aisyah We Tenriolle menuliskan ikhtisar epos besar I La Galigo. Dewi Sartika
mendirikan sekolah-sekolah. Rohana Kudus menyebarkan gagasannya secara
langsung kepada masyarakat lewat publikasi di koran-koran.


Namun, untuk memosisikan Kartini sebagai sosok yang tidak punya peran dalam
dunia Islam di Nusantara, sepertinya perlu dibincangkan ulang. Sebab, justru
Si Putri Jepara itu merupakan pemantik penting yang membawa masyarakat Islam
 khususnya di Jawa, menjadi lebih dekat dan nyebur lebih utuh ke dalam
keislaman mereka.

***

Ceritanya, suatu hari Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Aria
Hadiningrat, Bupati Demak. Di sana tengah berlangsung pengajian keluarga,
dengan guru Kiai Soleh Darat Semarang. Sang Kiai membahas Surat Al Fatihah
berikut makna-makna terdalamnya. Kartini yang bergabung menyimak pengajian
itu jadi sangat terkesan dengan uraian Kiai Soleh Darat.

Usai pengajian, Kartini sowan menghadap Kiai Soleh. Ia menyatakan bahwa
dalam hidupnya, baru kali itulah dirinya sempat mengerti makna surat
terpenting dalam Al Quran itu. Namun, ia menyusulkan sebuah keheranan luar
biasa.

"Kiai, apa hukumnya bila orang yang berilmu menyembunyikan ilmunya? Mengapa
para ulama kita melarang penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam bahasa
Jawa? Bukankah Al Quran itu pimpinan untuk hidup bahagia dan sejahtera bagi
manusia?"

Demikian Kartini bertanya. Atau mengkritik. Atau menggugat, dengan sebuah
gugatan yang keras.

Pada masa itu, pemerintah kolonial melarang penerjemahan Al Quran. Aturan
itu membawa akibat pasti, yaitu butanya masyarakat Islam di Jawa akan
pemahaman atas kitab suci mereka sendiri. Terjemahan Al Quran di Nusantara
bukannya belum ada, sebab dua abad sebelumnya ulama besar Abdurrauf
As-Singkili sudah menulis kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Melayu. Tetapi,
Jawa bukan Melayu, dan masyarakat Jawa tidak mengakses kitab tafsir
berbahasa Melayu.

Berangkat dari gugatan Kartini itulah, Kiai Soleh Darat lantas menulis kitab
Faidlur Rahman, kitab tafsir Al Quran pertama dalam bahasa Jawa, dengan
huruf Pegon alias Arab-Jawa. Itu menjadi tonggak awal pemahaman masyarakat
awam Jawa atas kitab yang selama ini nyaris tidak mereka pahami, selain
semata lewat para kiai.

Kitab Faidlur Rahman menjadi hadiah istimewa dari Kiai Soleh Darat untuk
Kartini, pada saat gadis mungil yang penuh rasa ingin tahu itu dinikahkan
dengan Adipati Djojoadiningrat.

***

Kartini memang cuma bertanya, bukan berjuang turun ke lapangan sebagaimana
Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika. Namun, dalam lingkungan kaum ningrat
dengan tradisi yang super-kaku, dalam himpitan tata hierarki yang begitu
ketat, juga dalam cengkeraman aturan kolonial yang serba memblokade akses
pengetahuan, pertanyaan Kartini itu adalah lemparan bom molotov kegelisahan..
Untuk lontaran yang tampak kecil itu dibutuhkan keberanian besar, juga rasa
ingin tahu yang meluap-luap tak terbendung.

Maka, ia bukan hanya sebentuk perjuangan dakwah dalam lingkup seterbatas
sistem keyakinan bernama Islam. Ia jauh lebih luas dari itu, yakni tentang
bagaimana selembar pintu baja yang tebal didobrak, agar cahaya dan oksigen
merangsek masuk, agar kaum jelata bisa memperoleh sesuatu yang sebelumnya
teramat mewah: pemahaman.

Rasanya, itulah kata kunci dari aksi kecil Kartini: pemahaman. Pemahaman
atas apa yang senantiasa dibaca, didaras, diucapkan, namun tidak dimengerti..
Membaca tanpa mengerti adalah tindakan absurd yang nyaris sia-sia, dan sulit
diterima Kartini. Bagaimana bisa sesuatu yang seharusnya dijadikan pedoman
hidup justru terus dengan sengaja diselubungi kabut?

Dengan begitu, ketika kita melihat respons Kiai Soleh Darat yang
menerjemahkan dan menafsir Al Quran dalam bahasa Jawa, itulah jawaban yang
sesungguhnya. Masyarakat tempat hidup Kartini adalah masyarakat Jawa. Bahasa
yang paling dipahami dan menjadi instrumen komunikasi terdasar masyarakat
tersebut adalah bahasa Jawa. Artinya, menerjemahkan sebuah kitab berbahasa
Arab ke dalam bahasa Jawa adalah langkah konkret untuk membawa suatu sistem
nilai ke puncak kebermaknaannya.

Bukan klaim berlebihan ketika kita menempatkan Kartini sebagai sosok yang
memperjuangkan literasi, meskipun perjuangan itu hanya ia jalankan dengan
sebuah tindakan menggugat, yang untuk ukuran zaman ini terasa remeh sekali.
Literasi dalam makna tingkat dua. Bukan hanya mengubah masyarakat yang tidak
bisa membaca menjadi bisa membaca, melainkan mengubah masyarakat yang tidak
paham menjadi berjalan berbondong-bondong ke arah paham.

***

Pada titik inilah, spirit 21 April semestinya bukan cuma diletakkan dalam
konteks kesetaraan gender (dan toh memang banyak tokoh perempuan lain yang
berperan lebih daripada Kartini), apalagi sekadar kegembiraan mengenakan
kebaya dan pakaian adat. Ada spirit pendobrakan benteng doktrin dan
eksklusivisme, pembongkaran atas hijab-hijab pengetahuan, juga semangat
untuk merebut pemahaman.

Spirit semacam itulah yang agaknya mendesak untuk dibangkitkan kembali hari
ini. Ya, hari ini, ketika segenap informasi digital pada Zaman Kalabendu
Kebenaran membuat kita merasa tahu padahal sesungguhnya tidak cukup tahu,
merasa mengerti masalah padahal sebenarnya hanya membaca cuilan dari satu
sisi masalah. Mari kita tunggu bangkitnya Kartini dan Kiai Soleh Darat versi
Era Pasca-Kebenaran. 

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul



(mmu/mmu)











 

Kirim email ke