Pengamat Anggap PAN Gabung ke Kubu Jokowi Realistis Demi 2024
Reporter:
Ahmad Faiz Ibnu Sani
Editor:
Amirullah
Jumat, 26 April 2019 08:38 WIB
Presiden Joko Widodo alias Jokowi (tengah) berbincang dengan Ketua MPR
Zulkifli Hasan (kiri) dan Ketua MA Hatta Ali (kanan) di sela acara buka
puasa bersama di kediaman Ketua MPR, Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018. Buka
puasa bersama tersebut dihadiri sejumlah pemimpin lembaga negara,
anggota MPR, dan tokoh politik. ANTARA/Puspa PerwitasariPresiden Joko
Widodo alias Jokowi (tengah) berbincang dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan
(kiri) dan Ketua MA Hatta Ali (kanan) di sela acara buka puasa bersama
di kediaman Ketua MPR, Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018. Buka puasa bersama
tersebut dihadiri sejumlah pemimpin lembaga negara, anggota MPR, dan
tokoh politik. ANTARA/Puspa Perwitasari
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia,
Adi Prayitno, mengatakan jika Partai Amanat Nasional (PAN) bergabung ke
kubu Joko Widodo atauJokowi <https://www.tempo.co/tag/jokowi>, yang
menurut hasil hitung cepat memenangkan pemilihan presiden, maka hal itu
adalah sikap yang realistis. Ia menilai langkah tersebut akan
menguntungkan PAN terutama dalam menghadapi pemilu 2024 mendatang.
Baca: Zulkifli Hasan Bertemu Jokowi, Sekjen PAN: Kami Tetap di Prabowo
<https://nasional.tempo.co/read/1199338/zulkifli-hasan-bertemu-jokowi-sekjen-pan-kami-tetap-di-prabowo>
Menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini, pertarungan 2024 akan lebih
berat bagi PAN. Alasannya merujuk hasil hitung cepat, partai pimpinan
Zulkifli Hasan ini hanya meraup suara sekitar 6 persen. Atas dasar itu
PAN harus segera mengkonsolidasikan infrastruktur politiknya demi
menghadapi kompetisi lima tahun yang akan datang.
"Kalau dia lompat ke kubu pemerintah, dia realistis mengkalkulasi
kepentingan politik jangka panjang, terutama menghadapi 2024. Jalan PAN
cukup berliku dan mendaki, kalau terus di luar akan berat hadapi 2024,"
kata Adi saat dihubungi Tempo, Kamis, 25 April 2019.
Adi berujar langkah PAN untuk mengkonsolidasikan kekuatan politiknya
akan lebih sulit jika berada di luar pemerintah. "Karena kalau PAN jadi
oposisi tentu harus berdarah-darah dengan air mata dan butuh stamina
yang luar biasa. Untuk jadi oposisi butuh energi yang tidak biasa,
makanya banyak partai berlomba ingin jadi bagian pemerintah demi
mengkapitalisasi kepentingan politik," ucapnya.
Selain itu, Adi menuturkan sejak awal PAN terkesan ingin bergabung
dengan kubu Jokowi. Namun hal itu terganjal oleh sosok Amien Rais yang
vokal mengkritik pemerintah. Karena itu, dalam pemilihan presiden 2019
PAN memutuskan mendukung Prabowo Subianto. "Di PAN ada matahari kembar.
Ketua umum memang Zulkifli Hasan, tapi ada Amien Rais yang melampaui
ketua umum," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Baca: Waketum PAN: Pertemuan Jokowi-Zulhas Penting Secara Simbolis
<https://nasional.tempo.co/read/1199368/waketum-pan-pertemuan-jokowi-zulhas-penting-secara-simbolis>
Isu kemungkinan PAN berlabuh ke kubu Jokowi pertama kali dilontarkan
oleh Wakil Ketua Umum PAN, Bara Hasibuan. Ia berujar__pihaknya akan
melihat kembali arah koalisi PAN ke depan lantaran pemilihan presiden
sudah selesai.
Namun, kata Adi, pernyataan Bara tersebut tidak bisa dijadikan patokan.
Pasalnya dia bukan pengurus teras yang bisa mempengaruhi keputusan
politik PAN.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com