Faisal Basri Sebut Luhut, Enggar, dan Rini adalah Lemak di Kabinet Jokowi
Reporter:
Fajar Pebrianto
Editor:
Martha Warta Silaban
Sabtu, 27 April 2019 15:37 WIB
Faisal Basri. TEMPO/M. Taufan RengganisFaisal Basri. TEMPO/M. Taufan
Rengganis
*TEMPO.CO, Jakarta*- Ekonom SeniorFaisal Basri
<https://www.tempo.co/tag/faisal-basri>berharap Presiden Joko Widodo
atau Jokowi bisa membersihkan kabinetnya jika terpilih lagi menjadi
presiden lima tahun mendatang, 2019-2024. Faisal berharap kabinet nanti
bisa bersih dari menteri-menteri yang memperlambat gerak kinerja
pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
BACA:Usai Pemilu 2019, Ini Harapan Faisal Basri terhadap Indonesia
<https://bisnis.tempo.co/read/1196518/usai-pemilu-2019-ini-harapan-faisal-basri-terhadap-indonesia>
"Kita harap di era Jokowi ini dilibaslah, orang-orang yang membuat gerak
ekonomi lamban, memang ekonomi naik tapi cuma nol koma," kata Faisal
dalam acara Ngobrol Tempo: Kepastian Hukum Investasi Antara BUMN dan
Swasta di Hotel Century Park, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 April 2019.
Faisal mencontohkan orang-orang ini sebagai lemak di dalam tubuh yang
membuat gerak seseorang menjadi lamban. Tiga nama menteri disebut Faisal
sebagai lemak yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar
Panjaitan: Menteri BUMN, Rini Soemarno; dan Menteri Perdagangan,
Enggartiasto Lukita.
BACA:4 Kritik Faisal Basri Sebelum Dukung Jokowi
<https://bisnis.tempo.co/read/1195456/4-kritik-faisal-basri-sebelum-dukung-jokowi>
Faisal juga menyebut salah satu lemaknya yaitu Wakil Presiden Jusuf
Kalla sendiri. Lantaran, ada beberapa infrastruktur bisnis yang linier
dengan bisnis yang dikelola oleh grup bisnis Kalla. "Tapi bagi saya
ancamannya Luhut, Rini, Enggar, kalau Pak JK saya masih tolerable-lah,
bentar lagi juga enggak (menjabat)," kata Faisal.
ADVERTISEMENT
Pernyataan ini disampaikan Faisal di tengah maraknya isu persaingan
bisnis antar BUMN dan swasta beberap waktu terakhir ini. Padahal dalam
pengalaman selama ini, kata dia, BUMN dan swasta bisa berkolaborasi
dengan baik satu sama lain. Di antaranya yaitu pada proyek GPN (Gerbang
Pembayaran Nasional) hingga pembangunan Pelabuhan New Priok di Jakarta
Utara. "Negeri ini terlalu besar untuk dikelola BUMN saja, perlu
dilibatkan swasta," kata dia.
Untuk itu,Faisal
Basri<https://bisnis.tempo.co/read/1195346/faisal-basri-dukung-jokowi-tkn-kami-sambut-yang-bukan-pemimpi>menyebut
kolaborasi antara BUMN dan swasta sebenarnya bisa berjalan lancar jika
tidak disusupi oleh kepentingan pribadi atau titipan-titipan tertentu.
"Nah yang nitip ini yang harus dibakar, harus dienyahkan, supaya pure
kepentingan negara, jangan ada yang menunggangi," kata dia.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com