Apanya yang modern? Apakah modern karena direformasikan seperti misalnya yang dibuat oleh Martin Luther, atau juga seperti teologia pembebaasan yang muncul di Amerika Latin?
On Fri, Apr 26, 2019 at 5:34 PM 'nesare' [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote: > > > Iseng2 saya coba komentari tulisan salim said ini. > > 1. Masalah islam modernis beralih ke Prabowo itu bukan karena masalah > Benny Moerdani. Walaupun memang Prabowo dan Benny tidak pernah bisa dekat. > Ketidakdekatan antara kedua sosok ini karena Benny tidak memandang Prabowo. > Fokusnya Benny adalah Soeharto. Jadi gak bener mereka “bersengketa”. > 2. Yang harus dipahami adalah kekuatan Islam itu riil diNKRI sejak > dulu. Kekuatan Islam ini adalah Islam moderat ala nusantara sudah > ditelorkan oleh Bung Karno dalam Nasakom nya. Sejak dibredel Soeharto > kekuatan ini terpendam dan diperparah oleh Benny. Suara ini mau keluar.. > Prabowo adalah channel nya. Triggering factor/pencetusnya adalah: Al > Maidah/ahok. > 3. Jelas2 habis Rizieq ngomong gimana mempolitisir islamnya Prabowo yg > dia ragukan koq. Jadi politisasi agama terjadi dan disambut baik oleh > Prabowo yg ambisi jadi presiden. Klop lah jadinya duet ini. Lucu sekali > Prabowo dan apalagi Sandi diimage kan sbg ulama. Kalau anies sih masihlah > sholat, eh Prabowo dan Sandi ulama? Gak lah. > 4. Jelas PDIP menutup pintunya rapat2 utk islam modernis ini. Ya gak > ada pilihan ke Prabowo. > 5. Istilah masyarakat “terbelah” itu gak usah digede2in. dari dulunya > memang sudah “terbelah”. Nasakom sudah ngomong begini. Jadi “terbelah” ini > seharusnya dibaca sbg “perbedaan” atau “kekuatan” yg ada di NKRI. Persoalan > utamanya adalah islam modernis ini adalah yg datang dari luar. Ini faham > wahabisme termasuk HTI yg dibubarkan oleh Jokowi. Persoalan islam nusantara > itu kalaupun ada adalah persoalan dalam NKRI dan ini sekali lagi sudah ada > sejak dulu kala. Dedongkot2nya NU, Muhammadiyah seperti: hasyim muzadi, > ahmad > syafii maarif, said aqil, mustofa bisri dll yg memang hidupnya selalu > bersinggungan dgn kelompok minoritas terutama agama di NKRI. 2 figur > kontroversial maaruf amin dan din syamsuddin yg terkenal konservatif pun > akhirnya memilih menjadi moderat/wasathiyah krn mereka tahu faham islam > wahabi dari timur tengah sudah masuk.. PKS itu adalah sarangnya secara > formal politis. PBB dan PPP itu partai islam tapi gak pernah populer > apalagi menang. Itu jelas wajah Islam Indonesia itu memang moderat. Lain > setelah wahabi dari timteng masuk, ya wajahnya lain. Makanya jangan heran > kalau ke Indonesia sekarang mayoritas sudah berkerudung. Dulu ya jarang > sekali walaupun ada. Social pressure sangat kuat kalau tidak berkerudung. > Ini pertanda ada sesuatu riak yg lain dalam kehidupan beragama diindonesia. > Masalah al maidah ahok itu titik tolak. Kekuatan 212 itu nyata. Nyatanya > dipakai utk menaikkan elektabilitas pemilu dan gubernuran DKI saja. Kalau > mau berbicara ttg NKRI, saya masih berpendapat gak akan menang lawan > nasionalisme Indonesia. Jadi digede2in aja kekuatan islam modernis ini.. > Andaikata parpol tempo hari menyodorkan Mahfud, tetap Jokowi akan menang. > Tetapi para bos2 agama islam memang sudah khawatir akan suara2 lantangnya > islam modernis kayak rizieg yg sekarang sembunyi di arab sana. > 6. Ini keluar sedikit: masalah agama dan politik di Indonesia itu > jalannya tidak sejalan. Ulama itu menjadi panutan dalam beragama. Politik > ya laen di Indonesia itu. > > > > Segitu aja dulu, > > Nesare > > > > > > *From:* [email protected] <[email protected]> > *Sent:* Wednesday, April 24, 2019 7:08 PM > *To:* GELORA_In <[email protected]> > *Subject:* [GELORA45] Fwd: Fwd: Fwd: Islam dan Perpolitikan di Indonesia > > > > > > > > > > -------- 轉寄郵件 -------- > > *主旨**: * > > Fwd: Fwd: Islam dan Perpolitikan di Indonesia > > *日期**: * > > Wed, 24 Apr 2019 23:00:49 +0800 > > *從**: * > > ChanCT <[email protected]> <[email protected]> > > *到**: * > > GELORA_In <[email protected]> <[email protected]> > > > > > > > > -------- 轉寄郵件 -------- > > *主旨**: * > > Fwd: Islam dan Perpolitikan di Indonesia > > *日期**: * > > Tue, 23 Apr 2019 19:34:05 +0700 > > *從**: * > > Salim Said <[email protected]> <[email protected]> > > > > Pilpres dan Keterbelahan Indonesia Hari-hari ini. > > (suatu percobaan untuk lebih mengerti) > > . > > Tulisan Luthfi Assaukani di Kompas beberapa hari lalu itu merupakan salah > satu tulisan terbaiknya yang sempat saya baca. Sayang tulisan ini belum > menyoroti persoalan yang menjadi dasar konflik atau "ribut" yang melanda > Indonesia menjelang dan setelah pemungutan suara pilpres 2019 dan peranan > Jokowi dalam "kekisruhan itu." > > > > Tulisan Luthfi ini akan lebih lengkap jika secara lebih saksama disertai > penjelasan mengapa kaum modernis Islam berkumpul di sekitar Prabowo dan > bagaimana sebenarnya hubungan Prabowo dengan Islam modernis itu? Saya > sendiri cenderung berpendapat, fenomena ini sebagian besar bersumber pada > kelemahan pengertian dan pengetahuan politik Jokowi. Kalau saja Jokowi > sadar akibat ucapan Ahok (soal Almaida) yang memantik kemarahan ummat, > "konflik" sekarang besar kemungkinan bisa dihindarkan.Tapi konflik sulit > dihindarkan, sebab Jokowi tidak tahu potensi konflik mendasar Indonesia > yang mulai muncul dan berkembang sejak adanya polemik Natsir-Sukarno di > masa pergerakan kemerdekaan. Debat itu berputar sekitar persoalan tentang > apa dasar negara yang akan mereka bangun bersama kelak setelah Indonesia > berhasil merdeka. Negara berdasarkan syariat (Islam) atau berdasarkan > kebangsaan. Debat ini tidak pernah selesai hingga hari ini.Soal ini muncul > kemudian dalam bentuk *Piagam Jakarta*, perdebatan di *Sidang > Konstituante,* muncul pada *deklarasi Sukarno kembali ke UUD 45 pada > tahun 1959*, juga muncul pada *awal Orde Baru*, mencul lagi *setelah > refomasi *yang mengakhiri masa Orde Baru. Di masa pemerintahan otoriter > Suharto, soal Piagam Jakarta sukses ditekan hingga nyaris mencapai titik > nol. > > > > Yang menarik dan penting dicatat, pada masa Orde Baru itu muncul pemikiran > baru golongan Islam merespon persoalan yang tidak mati-mati itu. Nurcholis > Madjid (juga kemudian Gus Dur) mengembangkan konsep *masyarakat Islam* > sembari meninggalkan konsep negara Islam. Dengan konsep baru itu, > pemerintah Orde Baru nampaknya siap berdamai. Tapi konsep yang tampil > dramatis dan revolusioner ini memerlukan waktu lama untuk diterima > masyarakat Islam di klas menengah ke bawah. > > > > Nah, ketika gagasan Nurcholis ini secara perlahan sedang merambat ke > bawah, Ahok(Pernah menjadi Gubernuar DKI setelah sebelumnya menduduki > kursiWagub DKI mendampingi Jokowi) muncul dengan kasus *AL Maida *yang > sangat menghebohkan*.*.Masyarakat Islam klas menengah ke bawah bereaksi > negatif dan cepat terhadap ucapan Ahok.Golongan klas menengah Islam sulit > bersaingan menghadapi para dai garis keras di masyarakat Islam dalam > masyarakat luas. Dari sinilah mulai munculnya fenomena *masyarakat > terbelah*. Akibat paling parah dari perkembangan ini, Jokowi yang > nampaknya tidak tahu sejarah Indonesia, memilih tetap mendukung Ahok.Sikap > Jokowi yang kurang bersimpati kepada gerakan ummat yang marah kepada Ahok, > menyebabkan Bapak Presiden dituduh anti Islam dan secara perlahan juga > dituduh anak PKI. (Apakah Jokowi anti Islam dan betul anak PKI, itu soal > lain) Kemudian berkembang cerita persekusi kiai,dai dan pendakwa Islam oleh > aparat keamanan. Reaksi ummat Islam kepada Jokowi makin sangar. Reaksi ini > pada gilirannya membangkitkan "dukungan" kaum sekuler --dan mereka yang > takut Islam-- kepada Jokowi. Maka makin sempurnalah pembelahan tubuh > Indonesia. > > > > Menghadapi keterbelahan ini ummat Islam terkonsolidasi ke dalam dua > kelompok lama, tradisional dan modernis. NU terbelah ke dalam dua kelompok: > kultural dan struktural. Yang kultural berdiri pada posisi yang sama dengan > kaum modernis dan melihat Prabowo sebagai "rumah" bersama mereka menghadapi > Jokowi yang mereka anggap/tuduh sebagai anti Islam. > > > > > > Mengapa Prabowo? > > salah satu penyebabnya, *presidensial treshold* hanya membuka jalan > bagi dua calon presiden. Presidensial Treshold mendorong kaum modernis > dan NU kultural berkubu di kelompok Prabowo, yang struktural (KH.Makruf > Amin) mendukung Jokowi, sementara kaum sekuler dan non muslim pada > umumnya mendukung Jokowi. Hubungan kaum modernis dengan Prabowo bukan pula > cerita baru. Hubungan bermula pada masa menjelang akhir Orde Baru, Waktu > itu Prabowo "bersengkata" dengan L.B. Murdani dan para perwira binaannya, > Prabowo banyak mendapat bantuan kaum muslim modernis yang merasa "terancam" > oleh Murdani. > > > > Karena kampanye berlangsung terlalu lama,maka permusuhan dua pendukung > Capres makin lama makin "jorok" dan hanya makin memperdalam pembelahan > masyarakat.. > > Kejadian makin buruk oleh "keributan" akibat kekacauan pada pemungutan > suara tgl 17 April lalu.Tuduhan kecurangan ke alamat *petahana* terdengar > di mana-mana. Keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh golongan islam > modernis sebagai pertanda terancamnya Islam oleh pendukung-pendukung Jokowi > yang pada umumnya tergolong sekuler. Menghadapi rekasi golongan Islam yang > merasa terancam, bangkit pula ketakutan kaum sekuler dan pendukung Jokowi > kepada Islam yang mereka tuduh akan mendirikan kekhalifaan. Dan makin tajam > sajalah keterbelahan Indonesia.*** > > > > Tulisan ini sebuah percobaan mengerti perkembangan politik Indonesia > sekarang. Ini bahan untuk diskusi, Untuk menyempurnakan pandangan ini, > mohon tanggapan sahabat-sahabat semua. > > > > Salim Haji Said (Bung Salim). > > > > > > > > > > > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > > >
