http://www.balipost.com/news/2019/04/28/74095/Bali-Resik,Upaya-Penanganan-Sampah...html
Bali Resik, Upaya Penanganan Sampah
Wujudkan “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”
Minggu, 28 April 2019 | 19:16:38
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F04%2F28%2F74095%2FBali-Resik%2CUpaya-Penanganan-Sampah...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bali+Resik%2C+Upaya+Penanganan+Sampah+Wujudkan+%E2%80%9CNangun+Sat+Kerthi+Loka+Bali%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F04%2F28%2F74095%2FBali-Resik%2CUpaya-Penanganan-Sampah...html&via=balipostcom>
*
*
Gubernur Bali Wayan Koster yang didampingi Ny. Putri Suastini Koster
serta Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra meluncurkan Program Semesta
Berencana Bali Resik Sampah Plastik di Lapangan Umum Kintamani, Bangli,
Minggu (7/4). (BP/ist)
DENPASAR, BALIPOST.com – Persoalan sampah dan pencemaran lingkungan
di Bali kini makin memperoleh penanganan serius. Tak hanya wacana,
Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub)
Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik
Sekali Pakai.
Di minggu I April 2019, Gubernur Bali Wayan Koster yang didampingi Ny.
Putri Suastini Koster serta Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra
meluncurkan Program Semesta Berencana “Bali Resik” Sampah Plastik di
Lapangan Umum Kintamani, Bangli. Menurutnya program ini merupakan
implementasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) 97 Tahun 2018 tentang
Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.
Koster juga menjelaskan Pergub itu bertujuan untuk menjaga kesucian,
keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup serta
membangun partisipasi masyarakat untuk berperan serta dalam perlindungan
lingkungan hidup yang sesuai dengan visi Pemprov Bali “Nangun Sat Kerthi
Loka Bali.” Dengan mengajak OPD yang terkait dengan masalah lingkungan
serta menggandeng lapisan masyarakat serta kalangan muda, Koster
berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dan dilaksanakan serentak di
seluruh Bali.
“Program ini inisiatif Pemprov dengan memilih Bangli sebagai tempat
launching karena dianggap banyak sampah plastik,” jelasnya.
Sebenarnya, persoalan sampah di Bali tak hanya plastik sekali pakai.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Bali, volume
rata-rata timbulan sampah di Bali pada 2017 mencapai 10.849,10 meter
kubik per hari. Komposisinya, sampah organik sebanyak 60 persen, 30
persen anorganik, dan residunya 10 persen.
Untuk volume sampah yang masuk ke TPA, mencapai 6.256,69 meter kubik per
hari. Dan, sisanya diolah baik menjadi kompos maupun ditampung di bank
sampah.
Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam sebuah
kesempatan aksi bersih sampah mengungkapkan sampah yang dibuang
masyarakat tak hanya berdampak di darat, juga berdampak signifikan pada
kondisi laut. Pria yang akrab disapa Cok Ace ini mengutarakan laut saat
ini banyak dicemari oleh sampah plastik.
Padahal, tindakan membuang sampah dan limbah ke laut sangat membahayakan
ekosistem yang ada di laut. Tanpa disadari, kondisi ini juga akan
berdampak pada manusia di darat. “Salah satu contoh adalah kerusakan
terumbu karang yang berdampak pada berkurangnya jumlah ikan dan
mempercepat abrasi pantai. Kondisi ini akan sangat terasa sekali bagi
nelayan yang menggantungkan penghidupannya pada lautan,” ujarnya.
Baca juga: Empat Kecamatan di Bangli Rentan Kebakaran
<http://www.balipost.com/news/2018/05/26/46499/Empat-Kecamatan-di-Bangli-Rentan...html>
Bahkan, Indonesia saat ini sudah dinobatkan sebagai penyumbang sampah
terbesar ke laut, nomor dua setelah Cina. Sebesar 80 persen sampah di
laut datangnya dari daratan. Penelitian oleh Conservancy tentang pasar
ikan menyebutkan dari data di seluruh dunia, 28 persen ikan Indonesia
mengandung plastik.
Cok Ace berharap gerakan bersih sampah dapat mengendalikan pencemaran
pesisir dan laut. Termasuk dapat mengurangi jumlah sampah plastik di
laut, serta mengelola dan melindungi lingkungan hidup sesuai dengan tata
kehidupan krama Bali yang secara sekala-niskala didasari atas
nilai-nilai filsafat sad kertih. Yakni, atma kertih, danu kertih, wana
kertih, segara kertih, jana kertih, dan jagat kertih.
Kegiatan bersih-bersih di pantai merupakan wujud nyata dari segara
kertih. “Jangan sampai keindahan potensi laut menjadi hilang karena
banyaknya sampah yang berserakan. Saya berharap gerakan bersih sampah
ini bukan sekedar sebuah seremonial, tapi benar-benar merupakan satu
gerakan yang membumi dan efektif untuk mengatasi ancaman sampah di
Bali,” tandasnya.
Masyarakat mulai di tingkat rumah tangga masih perlu digugah
kesadarannya untuk memilah sampah. Juga menerapkan pola 3R atau reduce,
reuse, dan recycle.
Pun, menggunakan produk-produk yang lebih ramah lingkungan, seperti
penggunaan tas kain pengganti kantong plastik sekali pakai, tempat minum
pengganti botol minuman plastik, dan kertas dari bahan daur ulang.
Saat ini industri tembakau juga berinovasi dengan menghasilkan produk
tembakau alternatif yang tidak melalui proses pembakaran melainkan
pemanasan sehingga memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibanding
rokok. Dampak positif ini tidak hanya berlaku bagi penggunanya, tapi
juga bagi orang-orang disekitarnya karena tidak ada asap yang dihasilkan.
Semua pihak bersemangat menawarkan kiprah aktif melestarikan lingkungan
guna menjaga keseimbangan alam. Pemerintah harus menjaga semangat
positif masyarakat dengan mengapresiasi semua elemen dan konsisten
mendukung upaya tersebut. (Rindra Devita/balipost)