https://sp.beritasatu.com/#
*Pemerintah Siapkan 4 Sumber Pembiayaan untuk Pindahkan Ibu Kota*

[image: Pemerintah Siapkan 4 Sumber Pembiayaan untuk Pindahkan Ibu
Kota]Presiden
Joko Widodo dan Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden,
Jakarta, Senin 29 April 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Akbar Nugroho Gumay )

Carlos KY Paath / WM Senin, 29 April 2019 | 20:59 WIB

 *Jakarta, Beritasatu.com* – Pemindahan ibu kota membutuhkan anggaran
ratusan triliun. Terdapat empat sumber pembiayaan. Demikian diungkap
Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam Rapat Terbatas
dengan topik “Tindak Lanjut Rencana Pemindahan Ibu Kota” di Kantor
Presiden, Jakarta, Senin (29/4).

“Memang pasti dibutuhkan investasi yang tidak sedikit. Kami melihat sumber
pembiayaan bisa berasal dari empat sumber yakni APBN (Anggaran Pendapatan
Belanja Negara) untuk infrastruktur, fasilitas kantor pemerintahan dan
parlemen. Kemudian dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk infrastruktur
utama dan fasilitas sosial,” kata Bambang.

Berikutnya dari kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) masih
terkait pembangunan beberapa infrastruktur utama dan fasilitas sosial.
Terakhir melalui swasta murni, khususnya menyangkut properti perumahan dan
fasilitas komersial. Lebih dari itu, menurut Bambang, ada dua skema.

Skenario pertama tidak ada *right sizing* (penyesuaian) jumlah Aparatur
Sipil Negara (ASN). Artinya, seluruh ASN di pemerintah pusat pindah ke ibu
kota baru. Pihaknya mengestimasi, kota baru membutuhkan penduduk sekitar
1,5 juta jiwa. Pemerintahan akan memerlukan 5 persen lahan, ekonomi 15
persen, sirkulasi infrastruktur 20 persen, pemukiman 40 persen, dan ruang
terbuka hijau 20 persen.

Diperkirakan dibutuhkan lahan minimal 40 ribu hektare untuk skenario
pertama ini. Skenario kedua apabila ketika pemindahan ada *right sizing*,
ASN yang pindah jumlahnya menjadi 111.000-an ditambah TNI/ Polri. Anggota
keluarganya menyesuaikan dengan 4 anggota keluarga, pelaku ekonominya
184.000 jiwa.

“Jumlah penduduk di bawah satu juta, tepatnya 870.000 dibutuhkan kira-kira
lahan dengan peruntukan persentase pemakaian yang sama dibutuhkan lebih
sedikit yaitu 30 ribu hektare dan dari situ kita mencoba membuat estimasi
besarnya pembiayaan tadi,” ujar Bambang.

Estimasi besarnya pembiayaan skenario pertama, menurut Bambang, mencapai
sekitar Rp 466 triliun atau US$33 miliar. “Skenario dua lebih kecil karena
kotanya lebih kecil yaitu Rp 323 triliun atau US$ 23 miliar. Porsi
pemerintah misalkan skenario satu itu Rp 250-an lebih triliun dan swasta
hampir sama yaitu sekitar Rp 215 triliun,” ucap Bambang.

Apabila ingin merealisasikan pemerintahan ibu kota, Bambang mengungkapkan,
pihaknya mengusulkan badan otorita uang. Bertanggungjawab langsung kepada
presiden. Nantinya badan ini mengelola dana investasi pembangunan kota baru
serta melakukan kerja sama baik dengan BUMN maupun swasta. Selain itu juga
mengelola aset investasi dan menyalurkan aset kepada pemerintah untuk pihak
ketiga.

Badan tersebut juga melakukan pengelolaan proses pengalihan aset pemerintah
di Jakarta untuk membiayai investasi pemindahan kota baru. Selain itu badan
otorita ini juga harus melakukan persiapan dan pembangunan. Misalnya dari
menyusun struktur, pola tata ruang, membangun infrastruktur dan fasilitas
pemerintahan.

“Pembangunan sarana prasarana gedung dan fasilitas lainnya dan tentunya
badan otorita ini perlu ada dewan pengawasnya,” ujar Bambang.

Kirim email ke