https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa
Senin 29 April 2019, 10:40 WIB
Kolom Kang Hasan
Politik yang Melupakan Kepentingan
Bangsa
Hasanudin Abdurakhman - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
Hasanudin Abdurakhman
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
6 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4528828/politik-yang-melupakan-kepentingan-bangsa#>
Politik yang Melupakan Kepentingan Bangsa Hasanudin Abdurakhman
(Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - "Pak J adalah presiden bebek lumpuh," kata Amien Rais. Hal
itu ia ucapkan dalam acara syukuran kemenangan Prabowo di TMII. Prabowo
mengklaim telah menang dalam pemilihan presiden tahun 2019 ini, dengan
perolehan suara 62%. Amien Rais sebagai bagian dari koalisi ikut
mendukung klaim itu. Ia menyebut masa kekuasaan Presiden Joko Widodo
akan segera berakhir, dan karena itu dia sebut bebek lumpuh.
Banyak orang di koalisi Prabowo yang mengklaim kemenangan. Padahal hasil
perhitungan suara oleh KPU masih berlangsung. Tidak hanya itu. Klaim itu
diiringi tuduhan bahwa KPU telah melakukan kecurangan. Bagi mereka kalau
hasil akhir nanti berbeda dengan klaim mereka, maka itu artinya ada
kecurangan.
KPU melakukan beberapa kesalahan, yang juga sudah dikoreksi. Tingkat
kesalahannya hanya 0,0001 persen. Tapi kesalahan itu dikesankan seolah
mencerminkan pelaksanaan pemilihan umum secara keseluruhan. Lagi pula
dalam kesalahan yang dibuat KPU tidak semua menambah suara pasangan
Jokowi-Ma'ruf. Kesalahan itu bersifat acak, sehingga ada juga yang
menambah suara pasangan Prabowo-Sandi.
KPU itu bukan lembaga pemerintah. Anggotanya dipilih oleh tim
independen. Seleksi akhirnya dilakukan oleh DPR. Jadi, dari mana asal
usulnya sampai mereka bisa dituduh berpihak pada calon petahana? Di atas
itu, tidak ada bukti apapun yang disodorkan untuk menunjukkan kecurangan
tadi.
Ini adalah tuduhan yang sangat serius terhadap orang-orang yang telah
bekerja sangat keras demi terselenggaranya pemilihan umum ini. Terlepas
dari berbagai kesalahan kecil dalam penyelenggaraan, pemilihan umum kali
ini berlangsung dengan baik. Bahkan dunia internasional memberi
apresiasi. Sangat disayangkan bila tokoh-tokoh nasional justru menuduh
KPU curang dan tidak adil.
Tidak cukup sampai di situ. Mereka juga memprovokasi rakyat untuk
melakukan tindakan-tindakan anarkis, mengancam akan menggerakkan massa
untuk mengambil alih kekuasaan yang sah, bila hasil akhir pemilihan
presiden tidak sesuai klaim mereka. Banyak orang termakan provokasi ini,
dan menyatakan siap untuk bertindak, bila diarahkan.
Untuk apakah ini semua? Mereka itu adalah para politikus. Mereka ingin
berkuasa. Mereka menempuh cara yang telah ditetapkan oleh konstitusi
untuk mendapat kekuasaan itu. Tapi jalur konstitusional itu tidak
memuaskan mereka. Lalu mereka mencoba menghasut rakyat untuk bertindak
inkonstitusional.
Sampai di titik itu mereka tak lagi layak disebut politikus. Mereka
hanyalah petualang politik yang haus kekuasaan, yang siap melakukan apa
saja, dan mengorbankan siapa saja untuk kepentingan mereka.
Sebenarnya soalnya sangat sederhana dan jelas. KPU sedang melakukan
penghitungan suara. Biarkan mereka bekerja sampai didapat hasil akhir.
Jangan tuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Bila ada
kesalahan atau kecurangan, buktikan. Kalau nanti hasil hitungan KPU
dianggap salah, selesaikan di Mahkamah Konstitusi. Tidak ada jalur lain
selain jalur tersebut. Kecuali, tentu saja, bagi orang-orang yang
berpolitik semata untuk memuaskan syahwat kekuasaan.
Sungguh sangat disayangkan bahwa tokoh-tokoh nasional ini sudah sampai
pada tingkat kalap seperti ini. Mereka seperti lupa pada nasib bangsa
ini, bahwa bangsa ini harus dijaga agar tidak pecah dan terluka. Mereka
juga tampak tak lagi punya rasa malu, dengan vulgar mengeluarkan
ucapan-ucapan yang tak patut diucapkan oleh orang yang berpikir waras.
Segeralah cuci muka, dan sadarlah!
*Hasanudin Abdurakhman* /cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang
profesional di perusahaan Jepang di Indonesia/
*(mmu/mmu)
*
**