https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1677-bijak-menunggu-hasil-resmi-kpu
/*Bijak Menunggu Hasil Resmi KPU*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Selasa, 30 Apr 2019, 05:00 WIB
Editorial MI <https://mediaindonesia.com/editorials>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1677-bijak-menunggu-hasil-resmi-kpu>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1677-bijak-menunggu-hasil-resmi-kpu>
PEMUNGUTAN suara Pemilu 2019 sudah dua pekan berlalu, tetapi aroma
rivalitas terus menyesaki udara negeri ini. Klaim kemenangan di antara
kontestan pun masih terjadi, padahal cuma Komisi Pemilihan Umum yang
diberi wewenang oleh konstitusi untuk menentukan pemenang kontestasi.
Pemilu 2019 yang untuk pertama kalinya menyerentakkan pemilihan presiden
dan wakil presiden dengan pemilihan anggota legislatif benar-benar
menguras energi bangsa. Selama sekitar delapan bulan masa kampanye,
rakyat dihadapkan pada kebisingan narasi sarat sensasi nirsubstansi.
Berita bohong, fitnah, ataupun ujaran kebencian dipaksakan oleh sebagian
elite memenuhi ruang publik.
Situasi yang menyebalkan itu tadinya diharap sirna setelah rakyat
menunjukkan kedaulatan dengan berduyun-duyun mendatangi tempat
pemungutan suara pada 17 April untuk menentukan pemimpin yang
dikehendaki. Itulah people power yang sebenarnya.
Namun, pemungutan suara ternyata tak serta-merta meredam silang
sengketa. Setelah pencoblosan, perselisihan karena perbedaan posisi dan
pilihan di antara anak bangsa tetap saja kentara. Hasil hitung cepat
oleh seluruh lembaga survei tepercaya disikapi secara berbeda oleh kedua
kubu pasangan capres-cawapres.
Sebagai pemenang versi quick count, pasangan 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin
tetap bijak bersikap.
Meski kemenangan itu dikuatkan hasil real count lewat Sistem Informasi
Penghitungan Suara (Situng) KPU, mereka tetap berkomitmen menunggu hasil
resmi nanti.
Sebaliknya, kubu 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ogah dianggap sebagai
pihak yang kalah. Mereka mengklaim, bahkan kemudian mendeklarasikan diri
sebagai pemenang. Itulah yang membuat suasana pertarungan seperti tak
berkesudahan meski pencoblosan sudah dilakukan.
Siap menang siap kalah selalu dilontarkan setiap kontestan, tapi seperti
yang sudah-sudah realitasnya tak seindah ucapan. Siap untuk menang
memang gampang, tetapi siap untuk kalah amat tak mudah.
Tidaklah elok jika ada pihak yang terus mengklaim kemenangan, padahal
tak ada basis kuat yang menopang klaim itu. Lebih tidak elok lagi jika
klaim tanpa dasar kemudian dibarengi dengan menebar tuduhan bahwa pemilu
diwarnai kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif.
Logikanya, kalau memang sudah merasa menang, kenapa mesti berkoar-koar
bahwa pemilu curang?
Demokrasi akan bernilai jika semua pihak menjunjung tinggi fair play,
patuh pada mekanisme dan aturan, serta menerima apa pun hasil kompetisi.
Berkompetisi dalam pemilu ibarat bermain tinju. Begitu bel berbunyi
pertanda pertarungan usai, yang sebenarnya yakin kalah pun biasa
mengangkat kedua tangan sambil mengelilingi ring seolah-olah dia yang
menang. Namun, tatkala juri telah membuat keputusan, semua harus patuh.
Sama halnya dengan pertandingan di ring pemilu. Akan percuma merasa diri
juara karena yang berhak menentukan siapa yang kalah siapa pula yang
menang hanyalah KPU. Karena itu, alangkah bermartabatnya jika para elite
tak lagi menguar segala klaim kemenangan, apalagi mengumbar tuduhan
pemilu sarat kecurangan.
Menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara secara manual yang akan
ditetapkan KPU pada 22 Mei nanti ialah sikap paling selaras dengan jiwa
demokrasi. Kalau hasilnya menyimpang, masih ada Mahkamah Konstitusi
untuk menyalurkan keberatan dan gugatan.
Mematuhi setiap regulasi pemilu ialah wujud penghargaan kepada rakyat
yang secara luar biasa menunjukkan kedaulatannya di TPS untuk menentukan
masa depan bangsa. Taat pada semua aturan yang disepakati ialah bentuk
penghormatan kepada ratusan orang yang gugur saat bertugas
menyelenggarakan pemilu.
Itulah sikap yang wajib dikedepankan para elite sehingga ketegangan di
antara anak bangsa tak berkepanjangan. Biarkan KPU menyelesaikan
tugasnya, lalu kita bersama-sama menikmati hasilnya.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1677-bijak-menunggu-hasil-resmi-kpu>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1677-bijak-menunggu-hasil-resmi-kpu>