Ya, kalau hadapi komunis mereka sangat bersatu.
Waktu menghadapi Kristen, yang satu bertindak keras, yang lain pura2 tidak
tahu.
Begitu juga kalau hadapi syiah dan Achmadiyah.
Begitu juga dengan kejadian di Medan, padahal klentengnya tidak tersangkut
ikut protes
pengeras suara.
Waktu Masyumi dibubarkan, banyak yang sembunyi jadi NU. Ya, NU itu isinya
macam2,
tergantung Kyainya.
Yang istimewa, berani, mungkin hanya Gus Dur, berani diskusi dengan ex
pulau Buru, ex
Nusakambangan,
Tetapi kalau bukan soal besar sekali, orang NU bantu Kristen, seperti
kejadian di Surabaya.
Habis upacara gereja, mobil2 tidak boleh lewat jalan di belakang gereja,
padahal jalan masuk
hanya satu arah. Dikatakan membahayakan anak2 di situ.
Tokoh gereja minta bantuan orang yang justru bukian Kristen, meskipun
istrinya Kristen. Orang
ini nelpon tokoh NU minta dibantu. Dijawab, o, beres, ketua RTnya anak
buahku. Ya, memang
langsung beres, hanya mobil supaya jalan lambat. Lha,ya habis gereja, pak
RTnya ya disumbang
sebagian dari kolekte untuk kesejahteraan RT di situ.
Symbiose mutualistis atau TST, he, he..........Istilah politiknya Hidup
Berdampingan secara Damai....???
Podo podo urip........?



Pada tanggal Rab, 1 Mei 2019 pukul 07.55 Sunny ambon <[email protected]>
menulis:

>
> *Semua garis keras, hal ini bisa dilihat pada waktu laskar teror dikirim
> ke Sulawesi Tengah dan Maluku 1998/1999 ke Sulawesi Tengah dan Maluku untuk
> membasmi kaum Nasrani. Selama itu tidak ada satu partai agama yang ada di
> NKRI  memprotes bahwa pengiriman itu segera dihentikan dan mereka yang
> memimpin diminta pertagungan jawab. Ternyata tidak ada, jadi karena negara
> tidak melakukan sesuatu maka negara pun turut terlibat. Malah salah seorang
> Jenderal Polisi berafiliasi dengan tindakan teror di kedua provinsi
> diangkat oleh Megawati menjadi Kapolda di Jakarta.  Jafar Umar Thalib salah
> satu tokoh grup yang dikirim dibolehkan membuka pesantren di Solo. Mereka
> yang menyerang kelopok Ahmadiyah, maupun Siyah di Lombok dan Madura apakah
> ditangkap dan dan dihadapkan ke pengadilan? Itulah sekadar masalah dongeng
> pro pancasila  mereka. Cuacca berubah dan begitupun iklim politik
> partai-partai agama! *
>
> On Wed, May 1, 2019 at 7:09 AM kh djie [email protected] [GELORA45] <
> [email protected]> wrote:
>
>>
>>
>> Ya, tidak aneh. Yang militer atau keluarga militer ya pilih yang calon
>> presidennya ex militer.
>> Kalau ex militer jadi presiden, militer bisa nonjol kembali di atas POLRI
>> ?
>> Ya, seperti yang Islam pilih Islam.
>> Yang Islam ada yang lebih suka yang sealiran, ada yang pilih yang dijagoi
>> PKS, ada yang
>> pilih yang dijagoi NU ?
>>
>> Pada tanggal Rab, 1 Mei 2019 pukul 06.40 [email protected]
>> [GELORA45] <[email protected]> menulis:
>>
>>>
>>>
>>>
>>> garis keras, garis keras!
>>>
>>>
>>> ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
>>>
>>> Tidak Cuma di Paspampres, Jokowi Juga Keok di Komplek Kopassus
>>>
>>> https://rmol.co/amp/2019/04/24/387418/https-politik-rmol-co-read-2019-04-24-387418-tidak-cuma-di-paspampres-jokowi-juga-keok-di-komplek-kopassus?
>>>  
>>> <https://rmol.co/amp/2019/04/24/387418/https-politik-rmol-co-read-2019-04-24-387418-tidak-cuma-di-paspampres-jokowi-juga-keok-di-komplek-kopassus?__twitter_impression=true>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> On Tuesday, April 30, 2019, 08:26 PM ajeg wrote:
>>>
>>> Kok Bisa ?
>>>
>>>
>>> http://www.teropongsenayan.com/99940-ajaib-kok-bisa-jokowi-kalah-di-kompleks-paspampres
>>>
>>>
>>>
>>> 
>>
>

Kirim email ke